<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393</id><updated>2011-12-31T21:05:26.139-08:00</updated><category term='Gallery'/><category term='Berita ISPI'/><category term='Hasil Penelitian (Skripsi)'/><category term='Informasi'/><category term='Profil'/><category term='Ucapan...'/><category term='Lomba'/><category term='Makalah'/><category term='Opini'/><category term='Rapat'/><category term='Organisasi'/><category term='Artikel'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Penelitian Tindakan Kelas'/><category term='Lowongan Kerja'/><category term='Peraturan  Pendidikan'/><category term='Masalah Pendidikan'/><title type='text'>Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia ISPI  Banyumas</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>121</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1551001148137430496</id><published>2011-12-31T21:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-31T21:05:26.176-08:00</updated><title type='text'>Seminar Nasional ISPI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft" height="83" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41573_209907285077_5116_n.jpg" width="80" /&gt;&lt;img alt="" class="alignleft" height="83" src="http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/01/logo_uny.gif" width="80" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema &lt;i&gt;&lt;b&gt;Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;pada 21-22 Januari 2012.Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam berbagai bentuk di antaranya berupa kajian konsep-konsep maupun kemungkinan aplikasi dari kebijakan pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;eminar tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi memberikan pencerahan, analisis, dan implikasi dari semua kebijakan-kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan makalah sesuai dengan topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia dengan contact persons Rohmat Purwoko (0857 290 50004), Dr. Puji Yanti Fauziah (0817 549 7644), Sudaryono, S.Pd (0813 286 89377) dan T. Sulistiyono, M.Pd., M.M. (0815 686 1003) atau datang langsung ke sekretariat panitia di Gedung Pascasarjana UNY lantai 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lengkap klik &lt;a href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev24DES2011a.jpg"&gt;leaflet1&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev27DES2011b.jpg"&gt;leaflet2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1551001148137430496?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1551001148137430496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1551001148137430496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1551001148137430496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1551001148137430496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2011/12/seminar-nasional-ispi.html' title='Seminar Nasional ISPI'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1081788461755645877</id><published>2010-11-16T00:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T02:49:54.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Kasek Harus Berpihak pada Siswa Miskin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TOJD9Hid-qI/AAAAAAAAAvw/F9UXlXwD8UU/s1600/nuh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="2" height="100" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TOJD9Hid-qI/AAAAAAAAAvw/F9UXlXwD8UU/s200/nuh.jpg" width="100" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;MALANG - Mendiknas M Nuh meminta agar kepala sekolah (kasek) berpihak pada siswa miskin, bahkan kalau perlu mereka diberi beasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa miskin harus diperhatikan dan jangan sampai sekolah mengeluarkan siswa, karena tidak mampu melunasi biaya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Berbicara kepada seluruh Kepala Sekolah Negeri Kabupaten Malang di Pendapa Pemkab Malang, baru-baru ini M Nuh masih meminta ketegasan kepala sekolah SD-SMP negeri, terutama sekolah penerima BOS untuk tidak menarik pungutan kepada wali murid. “Saya dapat laporan setiap tahun ajaran baru kasek seperti gatal menarik pungutan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya untuk program BOS yang dikeluarkan pemerintah sangat besar, mencapai Rp 19 triliun. Besaran dana tersebut hanya 10%  dari anggaran pendidikan nasional, karena yang 70% untuk gaji dan tunjangan guru, sisanya sekitar 20% habis untuk perbaikan dan pengembangan sekolah maupun sarana lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu ia menyindir kepala sekolah yang hadir pada acara tersebut berwajah segar, bahkan menunjukkan tanda kemakmuran karena terlihat gemuk.&lt;br /&gt;“Umumnya guru berwajah kuyu dan melas. Karena kesegaran dan kemakmuran itulah kita harus terus bersyukur, karena telah mendapat kesejahteraan,” katanya.&lt;br /&gt;Overload Dia menjelaskan, secara nasional saat ini pendanaan untuk guru sangat besar. Untuk membayar tunjangan profesi saja pemerintah mengucurkan dana Rp 16 triliun dan tahun 2016 nanti meningkat hingga Rp 50 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sudah terjadi overload guru atau tenaga pengajar. Karena itu, Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah memerlukan grand design perencanaan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daerah juga jangan terus menambah guru,” harapnya.&lt;br /&gt;Untuk distribusi guru, saat ini sekolah di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar dengan persentase 66%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada ketimpangan jumlah pengajar di perkotaan dan pedesaan. Di pedesaan mencapai 68%, sedangkan di perkotaan tenaga pengajar mencapai 52%. Ketimpangan lain yang nampak paling besar adalah jumlah mahasiswa miskin dan kaya di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas M Nuh selain memberi arahan kepada seluruh kepala sekolah negeri se-Kabupaten Malang, juga melantik Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Suparno untuk masa jabatan periode kedua di Sasana Budaya UM.&lt;br /&gt;Dalam acara itu, Mendiknas mengatakan, mulai 2011 kinerja rektor akan dievaluasi langsung oleh Mendiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun depan setiap rektor harus tanda tangan kontrak dengan Mendiknas” kata M Nuh. (jo-37) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1081788461755645877?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1081788461755645877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1081788461755645877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1081788461755645877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1081788461755645877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/11/kasek-harus-berpihak-pada-siswa-miskin.html' title='Kasek Harus Berpihak pada Siswa Miskin'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TOJD9Hid-qI/AAAAAAAAAvw/F9UXlXwD8UU/s72-c/nuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4543308933947927812</id><published>2010-09-28T17:32:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T02:52:05.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organisasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>ISPI Banyumas Gelar Halal Bihalal dan Dialog Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TKKL1zJm0LI/AAAAAAAAAvo/Rzh29Ctg92w/s1600/61650_1426360545719_1433954563_31053964_2524972_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522129849489477810" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TKKL1zJm0LI/AAAAAAAAAvo/Rzh29Ctg92w/s200/61650_1426360545719_1433954563_31053964_2524972_n.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 100px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 100px;" /&gt;&lt;/a&gt;PURWOKERTO-Permasalahan pendidikan di Banyumas sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Persoalan angka anak putus sekolah misalnya, seharusnya perlu diselesaikan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua elemen harus berfikir bagiamana mendorong agar seluruh anak usia sekolah di Banyumas bisa mengenyam pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Hal itu terungkap dalam acara halal bihalal dan dialog pendidikan Ikatan sarjana Pendidikan (ISPI) Cabang Banyumas di aula SMA N 2 Purwokerto, Minggu (26/9).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Menurut Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Purwadi Santoso, Undang-undang Sisdiknas telah menerapkan sistem paradigma kritis yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan di bangku sekolah. Apalagi pemerintah juga telah memberikan dana Bantuan Opersaional Sekolah (BOS) yang bertujuan agar anak usia sekolah bisa bersekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; “Saat ini telah diterapkan otonomi pendidikan dan sekolah. Artinya, untuk memajukan pendidikan, pelaksanaannya diserahkan secara penuh ke daerah. Meski begitu perencanaan dan supervisinya tetap dilakukna pusat sehingga seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat, semestinya berupaya untuk mengimplementasikan otonomi pendidikan tersebut, “katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; namun, lanjut dia, untuk mewujudkannya cukup sulit. Di Banyumas, APK untuk SD sudah di atas 100 persen. SEdangkan APK SMP telah mencapai 90 persen dari sebelumnya yang hanya 87 persen, sehingga masih ada 10 persen anak yang belum sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Sementara APK SMA sudah mencapai 60 persen dari yang sebelumnya 57 persen. Karena itu, dalam mewujudkan perubahan di dunia pendidikan dalam suatu titik tertentu, perlu adanya urun rembug dan masukan dari berbagai komponen pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Menurut Eko Priyono, Guru SMKN 2 Bawang, sekarang ada kecenderungan masyarakat kehilangan jati dirinya. Sehingga, kata dia, diperlukan adanya pendidikan karakter. Dengan begitu, permsalahan di dunia pendidikan nisa terpecahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Adapun Purwadi mengatakan, sebenarnya pendidikan itu merupakan salah satu upaya untuk membangun karakter. bahkan seluruh pelajaran yang diberikan kepada peserta didik merupakan upaya untuk membangun karakter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Deni Kurniawan As’ari, Pengurus ISPI, menjelaskan, acara dialog yang digagas ISPI itu sebagai weahana untuk pertukaran informasi serta urun rembug dalam memecahkan permasalahan pendidikan di Banyumas. Selain itu, memupuk kebersamaan dan kerjasama yang sinergis antara ISPI dan keluarga pendidikan Banyumas (H48-35)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Suara Merdeka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-4543308933947927812?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/4543308933947927812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=4543308933947927812' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4543308933947927812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4543308933947927812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/09/ispi-banyumas-gelar-halal-bihalal-dan.html' title='ISPI Banyumas Gelar Halal Bihalal dan Dialog Pendidikan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TKKL1zJm0LI/AAAAAAAAAvo/Rzh29Ctg92w/s72-c/61650_1426360545719_1433954563_31053964_2524972_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3719201527697644785</id><published>2010-09-24T02:06:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T02:13:41.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>Selamat untuk Bapak Ahmad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TJxqnX_MDvI/AAAAAAAAAvg/QeAwen5u5b8/s1600/DSC01981.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TJxqnX_MDvI/AAAAAAAAAvg/QeAwen5u5b8/s200/DSC01981.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520404467935874802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SELAMAT DAN SUKSES&lt;br /&gt;UNTUK DRS. H. AHMAD NURUL HUDA, M.M. (KETUA KOMISARIAT PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN ISPI BANYUMAS)YANG TELAH DIWISUDA S2 DI UNSOED PURWOKERTO PADA MAJANEMEN PENDIDIKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA ILMU YANG TELAH DIPEROLEH DAPAT BERMANFAAT UNTUK DUNIA PENDIDIKAN. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3719201527697644785?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3719201527697644785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3719201527697644785' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3719201527697644785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3719201527697644785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/09/selamat-untuk-bapak-ahmad.html' title='Selamat untuk Bapak Ahmad'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TJxqnX_MDvI/AAAAAAAAAvg/QeAwen5u5b8/s72-c/DSC01981.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2207861229930446146</id><published>2010-08-06T19:55:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T20:06:37.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>Selamat Bu Endar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFzNZT3mFWI/AAAAAAAAAu4/CUFpsRlTJEQ/s1600/endar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFzNZT3mFWI/AAAAAAAAAu4/CUFpsRlTJEQ/s200/endar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502498679453783394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SELAMAT DAN SUKSES&lt;br /&gt;UNTUK DRA. HJ. ENDAR YUNIARTI, M.HUM (BENDAHARA II ISPI BANYUMAS)&lt;br /&gt;YANG MENDAPAT BEASISWA S3 UNGGULAN DARI KEMENLU RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA SENANTIASA SUKSES.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2207861229930446146?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2207861229930446146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2207861229930446146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2207861229930446146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2207861229930446146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/08/selamat-bu-endar.html' title='Selamat Bu Endar'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFzNZT3mFWI/AAAAAAAAAu4/CUFpsRlTJEQ/s72-c/endar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6742257866239092986</id><published>2010-08-01T20:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T21:18:04.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>Selamat atas Prestasi SMA N 2 Purwokerto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFZGgwdZPwI/AAAAAAAAAuY/kCITA2Ww_Lc/s1600/sman+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFZGgwdZPwI/AAAAAAAAAuY/kCITA2Ww_Lc/s200/sman+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500661523457588994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:130%;" &gt;Keluarga Besar ISPI Cabang Banyumas mengucapkan SELAMAT dan SUKSES atas prestasi yang diraih SMA N 2 PURWOKERTO sebagai Juara I Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) Tingkat Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi luar biasa atas bimbingan Kepala SMA N 2 Purwokerto, Bapak Drs. DAYONO, MM selaku Ketua Umum ISPI Banyumas.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6742257866239092986?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6742257866239092986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6742257866239092986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6742257866239092986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6742257866239092986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/08/selamat-atas-prestasi-sma-n-2.html' title='Selamat atas Prestasi SMA N 2 Purwokerto'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TFZGgwdZPwI/AAAAAAAAAuY/kCITA2Ww_Lc/s72-c/sman+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4916335897321710432</id><published>2010-07-23T05:20:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T05:23:40.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>LOMBA GURU BERPRESTASI DI BIDANG PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK/MAK TAHUN 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TEmJpN0_hlI/AAAAAAAAAuI/57Bk1NT7yto/s1600/mm_smp_09.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TEmJpN0_hlI/AAAAAAAAAuI/57Bk1NT7yto/s200/mm_smp_09.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497076161361970770" /&gt;&lt;/a&gt;Pak Aris Abimanyu (LPMP Jateng) mengirim info tentang Lomba GURU BERPRESTASI DI BIDANG PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK/MAK TAHUN 2010. Lomba ini hampir setiap tahun diselenggarakan oleh LPMP Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kawan-kawan, silakan dicermati infonya dan upayakan ikut bagi yang berminat. Selamat berlomba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasional&lt;br /&gt;Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuat alat yang berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk stimuIus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realita gambar bergerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa asing. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulus di atas sehingga pembelajaran bahasa asing akan lebih optimal. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan kelima stimulus itu dengan program komputer sedangkan pemrogram komputer tidak menguasai metode pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluarnya adalah merealisasikan stimulus-stimulus itu dalam program komputer dengan menggunakan piranti lunak yang mudah dipelajari sehingga dengan demikian para pengajar akan dengan mudah merealisasikan ide-ide pengajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajaran. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu, media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik, dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multimedia pembelajaran mandiri bagi siswa adalah bahan belajar multimedia yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam proses pembelajaran mandiri yang berisi satu topik sajian yang utuh dari standar kompetensi dan kompetensi dasar tertentu yang dikembangkan dengan menggunakan berbagai software aplikasi (contoh: Powerpoint, Flash, Authoware, Frontpage, Photoshop, Foxpro, dll) dan atau bahasa pemrograman (contoh: Visual Basic, Clipper, dll) dan kesemuanya dikompilasi dalam satu paket aplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Karya&lt;br /&gt;· Mencantumkan kurikulum yang digunakan, sasaran kelas/semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator serta petunjuk penggunaan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Materi lomba merupakan satu indikator atau lebih dari standar kompetensi dan atau kompetensi dasar mata pelajaran TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Disajikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia, kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Hasil karya dilengkapi dengan petunjuk penggunaan program dalam bentuk 2 sajian, yaitu print out petunjuk pengunaan dan CD (3 keping CD copy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Karya original dalam ide dan kreasi yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Bila dalam pembuatan media, peserta perlu mencuplik karya orang lain sebagai referensi/ bahan pelengkap sajian, maka peserta harus mencantumkan sumber cuplikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Setiap bahan ajar yang diikutsertakan dalam lomba bila memenuhi persyaratan akan mendapatkan panggilan untuk presentasi dan menjadi hak milik LPMP Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Karya yang dibuat sesuai dengan mapel yang diajarkan dan jenjang sekolah dibuktikan dengan surat pernyataan mengajar dari sekolah berdasarkan mapel dan jenjang mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain CD Interaktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Apersepsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Uraian yang komunikatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Contoh, analogi atau ilustrasi, serta simulasi yang relevan dan kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Latihan, tes, dan umpan balik korektif secara kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Relevansi dan konsistensi antara latihan/tes dan materi dengan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Interaktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan multimedia pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran&lt;br /&gt;· Mengisi formulir yang sudah disiapkan di Seksi Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) LPMP Jawa Tengah atau melalui website: www.lpmpjateng.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Persyaratan karya disertakan dalam amplop ukuran folio, ditujukan kepada PANITIA LOMBA GURU BERPRESTASI DI BIDANG PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK (RUANG INFORMASI TEKNOLOGI ) LPMP JAWA TENGAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Formulir pendaftaran dan persyaratan lomba diantar langsung atau dikirim melalui pos ke panitia lomba paling akhir 11 Agustus 2010 (Cap Pos)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Pendaftaran tidak dipungut biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Lomba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;175 peserta yang lolos seleksi administrasi dan persyaratan lomba akan dipanggil ke LPMP Jawa Tengah untuk mempresentasikan bahan ajarnya pada tanggal 26 s/d 27 Agustus 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Bila perlu menggunakan software khusus diperbolehkan membawa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kegiatan lomba menggunakan sistem gugur atau babak penyisihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya akomodasi dan konsumsi selama di LPMP Jawa Tengah ditanggung oleh panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Ketentuan dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Guru JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK dan sederajat se Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Lomba bersifat perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH LOMBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENJANG:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TK/RA/SD/MI : Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. SMP/MTS : Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. SMA/MA/SMK/MAK : Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Lomba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUANG INFORMASI TEKNOLOGI (IT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LPMP JAWA TENGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kyai Mojo Srondol Kulon Semarang 50263&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telp. (024) 7474192 Fax. (024) 7479261&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: lpmp-jateng@lpmpjateng.go.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact Person&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mulyanto : 081 225 12 002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Putut J. Wibowo : 085 626 677 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abi : 081 6666 776&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-4916335897321710432?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/4916335897321710432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=4916335897321710432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4916335897321710432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4916335897321710432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2010/07/lomba-guru-berprestasi-di-bidang.html' title='LOMBA GURU BERPRESTASI DI BIDANG PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK/MAK TAHUN 2010'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/TEmJpN0_hlI/AAAAAAAAAuI/57Bk1NT7yto/s72-c/mm_smp_09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4107468283402527991</id><published>2009-12-24T19:29:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T20:25:45.730-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>SEMINAR NASIONAL DAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL PENDIDIKAN ISPI Jateng 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SzQygfXChWI/AAAAAAAAAt4/6DsM8YY0xDw/s1600-h/brosurrr1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SzQygfXChWI/AAAAAAAAAt4/6DsM8YY0xDw/s200/brosurrr1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419011785388885346" /&gt;&lt;/a&gt; Tema Seminar Nasional : “ PROFESIONALISME GURU : ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema Lomba Penulisan : ” PENGALAMANKU MENJADI GURU INOVATIF DAN PROFESIONAL”&lt;br /&gt;Home Page : &lt;a href="http://ispi.or.id"&gt;http:// www.ispi.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Panitia:&lt;br /&gt;Jl. Jend. Gatot Subroto No 69 Purwokerto. CP. 08170600305&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Undang-undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa seorang Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, dan persyaratan lainnya. Adapun Kompetensi akademik meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa para guru masih banyak yang belum memahami secara utuh tentang sosok guru professional sesuai tuntutan pemerintah dan masyarakat. Guru professional seolah masih menjadi impian dan harapan, belum menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seminar Nasional dengan tema “Profesionalisme Guru : Antara Harapan dan Kenyataan” dan Lomba Penulisan Artikel dengan tema ” Pengalamnku Menjadi Guru yang Inovatif dan Profesional” pada prinsipnya sebagai suatu kegiatan ilmiah yang diharapkan mampu memberikan pencerahan kepada para guru sekaligus merefleksikan kegiatan pembelajaran inovatif di lapangan sebagai sosok guru professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;1. Peserta dapat memahami tentang pentingnya profesionalisme guru.&lt;br /&gt;2. Peserta mampu menjadi guru yang inovatif dan profesional.&lt;br /&gt;3. Peserta mampu menceritakan pengalamannya sebagai guru yang inovatif dan profesional.&lt;br /&gt;4. Peserta mampu mengambil manfaat dari pengalaman guru lain yang telah menyandang guru profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SzQzYr5UENI/AAAAAAAAAuA/w_FxV2Nn8-c/s1600-h/brosurrr2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SzQzYr5UENI/AAAAAAAAAuA/w_FxV2Nn8-c/s200/brosurrr2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419012750826541266" /&gt;&lt;/a&gt;PEMBICARA&lt;br /&gt;Ir. Giri Suryatmana, M.Sc (Sekretaris Direktorat Jenderal PMPTK RI)&lt;br /&gt;” Kebijakan Pemerintah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru di Indonesia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. H. Trisno Martono, MM (Ketua ISPI Daerah Jawa Tengah, Mantan Dekan FKIP UNS dan Rektor Universitas Veteran Sukoharjo)&lt;br /&gt;Hambatan dan Tantangan dalam Mewujudkan Profesionalisme Guru”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra. Nikmah Nurbaity, M.Pd (Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Nasional, Ketua Agupena Purworejo, Pengurus KGI Jateng)&lt;br /&gt;” Kiat Sukses Menjadi Guru Profesional ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderator : DR. H. Moh. Roqib, M.Ag (Dosen Tarbiyah STAIN Purwokerto, Pembina ISPI Banyumas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA SEMINAR NASIONAL&lt;br /&gt;Guru, Dosen, Pengawas, Widyaiswara, Pengawas, Mahasiswa, Tenaga Kependidikan dan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA LOMBA PENULISAN ARTIKEL PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU &amp; TEMPAT&lt;br /&gt;Sabtu, 23 Januari 2010 Pukul 08.00 – 13.00 WIB&lt;br /&gt;di Gedung Bank Jateng Purwokerto&lt;br /&gt;Jl. Gatot Subroto 101 Purwokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIAYA PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Biaya pendaftaran sebesar Rp. 70.000,- sudah termasuk snack berat, makalah, sertifikat, peluang doorprize dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Pendaftaran Seminar Nasional paling lambat tanggal 21 Januari 2010. Khusus untuk lomba, pengiriman naskah terakhir tanggal 15 Januari cap pos.&lt;br /&gt;Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. Melalui telepon dengan urutan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Mentransfer biaya pendaftaran melalui BCA KCU Purwokerto a.n. TRI HARPENI No. Rek 0 4 6 1 0 3 4 2 7 5&lt;br /&gt;2. Menginformasikan SEGERA setelah melakukan transfer uang pendaftaran melalui SMS/telpon ke nomor HP TRI HARPENI (085842781276) dengan menuliskan nama lengkap, gelar dan asal sekolah. (Saat registrasi, tanda bukti setoran diserahkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melalui pos pendaftaran yang telah ditentukan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ari Prasetyono (SMP 1 Wanayasa, Wilayah Banjarnegara dan sekitarnya) 2. Sri Utari, S.Pd (SMA N 1 Banjarnegara, wilayah Banjarnegara dan sekitarnya)&lt;br /&gt;3. Soderi, S.Pd (SMP N 1 Bukateja, wilayah Purbalingga dan sekitarnya)&lt;br /&gt;4. Tulus Kuswidagdo, M.Pd (SMA N 1 Purbalingga, wilayah Purbalingga dan sekitarnya) 5. Martiyono, S.Pd (SMP N 4 Kebumen, wilayah Kebumen dan sekitarnya)&lt;br /&gt;6. Mirza Gholam Mohammad (SMP N 2 Kroya, wilayah Cilacap dan sekitarnya)&lt;br /&gt;7. Kumaidi, S.Pd (SMA N 2 Purwokerto, wilayah Purwokerto dan sekitarnya)&lt;br /&gt;8. Hj. Sri Mulyani, S.Pd (SMK Ma’arif Ajibarang,wilayah Ajibarang dan sekitarnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOMBA PENULISAN ARTIKEL PENDIDIKAN BAGI GURU&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;1. Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran.&lt;br /&gt;2. Peserta BUKAN pengurus ISPI Jawa Tengah.&lt;br /&gt;3. Peserta lomba WAJIB menjadi peserta Seminar Nasional. Bagi peserta lomba yang menang dan tidak mengikuti seminar akan otomatis didiskualifikasi(dinyatakan GUGUR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYERAHAN ARTIKEL&lt;br /&gt;1. Artikel pendidikan berupa print out (cetak) rangkap 3 dikirimkan secara langsung kepada Panitia Seminar Nasional dan Lomba Penulisan Artikel Pendidikan ISPI Daerah Jawa Tengah 2010 melalui Kantor Pos terdekat kepada alamat : PO BOX 205 Purwokerto 53100 dengan melampirkan : biodata singkat dan pas photo 4 X 6 sebanyak 1 buah.&lt;br /&gt;2. Batas akhir penyerahan artikel tanggal 15 Januari 2010 Cap POS.&lt;br /&gt;3. Pengumuman 3 (tiga) artikel pendidikan terbaik dan 5 (lima) artikel harapan pada tanggal 23 Januari 2010 saat Seminar Nasional berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATURAN PENULISAN&lt;br /&gt;1. Tema : “ PENGALAMANKU MENJADI GURU INOVATIF DAN PROFESIONAL”&lt;br /&gt;2. Artikel harus merupakan gagasan atau karya orisinal dari peserta bukan JIPLAKAN. Jika ada kutipan atau rujukan dalam artikel tersebut harus dicantumkan sumbernya.&lt;br /&gt;3. Artikel belum pernah dipublikasikan di media atau lomba manapun.&lt;br /&gt;4. Artikel diutamakan berisi pengalaman mengenai keadaan yang sesungguhnya yang dilakukan guru (seperti sukses dalam mengajar, suses lomba, penemuan model atau alat peraga dll)&lt;br /&gt;5. Format penulisan artikel bebas (minimal 4 halaman, ukuran kertas A4, dengan huruf Times New Roman ukuran 12 point, 1.5 spasi).&lt;br /&gt;6. Seluruh artikel yang telah didaftarkan dalam lomba ini menjadi hak milik panitia sepenuhnya untuk diterbitkan di www. ispi.or.id atau media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITERIA PENILAIAN&lt;br /&gt;1. Kesesuaian dengan tema&lt;br /&gt;2. Kemanfaatan karya tulis untuk dunia pendidikan dan guru&lt;br /&gt;3. Orisinalitas&lt;br /&gt;4. Ketaatan terhadap tata cara penulisan Bahasa Indonesia yang benar&lt;br /&gt;5. Kesinambungan alur penulisan&lt;br /&gt;6. Penggunaan elemen lain yang dapat mendukung seperti foto, gambar, lukisan dan lainnya yang dapat lebih menegaskan keutuhan maksud penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGHARGAAN/APRESIASI&lt;br /&gt;Pemenang akan mendapatkan hadiah masing-masing :&lt;br /&gt;Juara I : Uang Pembinaan sebesar Rp 1.000.000,00 dan Piagam Penghargaan dari Ketua ISPI Jateng&lt;br /&gt;Juara II : Uang Pembinaan sebesar Rp. 750.000,00 dan Piagam Penghargaan dari Ketua ISPI Jateng&lt;br /&gt;Juara III : Ungan Pembinaan sebesar Rp. 500.000 dan Piagam Penghargaan dari Ketua ISPI Jateng&lt;br /&gt;5 peserta juara harapan mendapat hadiah hiburan dan Piagam Penghargaan dari Ketua ISPI Jateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh peserta Lomba Penulisan Artikel Pendidikan yang tidak menjadi juara akan mendapat Surat Keterangan (partisipasi peserta) dari Ketua ISPI Daerah Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN JURI&lt;br /&gt;1. H. Ahmad Tohari (Penulis Buku dan Pembina Agupena Jateng )&lt;br /&gt;2. Drs. Siswandi (Juara 1 Lomba Sayembara Naskah Buku Bacaan Pusbuk Depdiknas RI, Guru dan Kepala Sekolah)&lt;br /&gt;3. Deni Kurniawan As’ari, S.Pd (Pengurus ISPI Pusat dan Ketua Umum Agupena Jateng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAIN-LAIN&lt;br /&gt;1. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seluruh peserta Lomba Penulisan Artikel Pendidikan yang tidak menjadi juara akan mendapat Surat Keterangan (partisipasi peserta) dari Ketua ISPI Daerah Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Artikel terbaik pertama akan dibagikan kepada peserta seminar nasional setelah pengumuman, sehingga dapat diberikan piagam sebagai pemakalah pendamping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-4107468283402527991?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ispi.or.id' title='SEMINAR NASIONAL DAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL PENDIDIKAN ISPI Jateng 2010'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/4107468283402527991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=4107468283402527991' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4107468283402527991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4107468283402527991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/12/seminar-nasional-dan-lomba-penulisan.html' title='SEMINAR NASIONAL DAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL PENDIDIKAN ISPI Jateng 2010'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SzQygfXChWI/AAAAAAAAAt4/6DsM8YY0xDw/s72-c/brosurrr1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1760081820130928668</id><published>2009-11-23T19:59:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T20:05:29.567-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2010 Berhadiah Rp1 Milyar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Sawali, M.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwtbB9TuHwI/AAAAAAAAAtE/pF6dY894OaE/s1600/lomba-menulis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwtbB9TuHwI/AAAAAAAAAtE/pF6dY894OaE/s200/lomba-menulis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407515866783686402" /&gt;&lt;/a&gt;Jakarta, Sabtu (21 November 2009) — Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Pusbuk Depdiknas) menggelar sayembara penulisan naskah buku pengayaan 2010. Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan motivasi menulis di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Sayembara yang terbuka bagi para pendidik dan tenaga kependidikan baik formal maupun nonformal ini berhadiah total Rp1.080.000. 000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema penulisan adalah Membangun Manusia Indonesia yang Religius, Cerdas, Bermartabat, Mandiri, dan Kompetitif di Era Global. Naskah yang disayembarakan adalah buku pengayaan yang memuat materi yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keterampilan, serta membentuk kepribadian peserta didik. Peruntukan pembaca adalah untuk jenjang pendidikan SD/MI (kelas 4,5, dan 6), SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Pengembangan Naskah dan Pengendalian Mutu Buku Pusbuk Depdiknas, Wahyu Trihartati, mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya Pusbuk Depdiknas untuk membantu meningkatkan baik mutu maupun jumlah penulis dan naskah buku pengayaan. “Sayembara ini khusus untuk pendidik karena Pusbuk berkeyakinan kalau guru – guru yang menulis karena dia yang mengetahui kebutuhan siswa, dia yang bergaul dengan siswa sehari-hari, dia yang bisa menulis,” katanya pada kegiatan Sosialisasi Standar/Instrumen Penilaian Buku Teks Pelajaran di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Sabtu (21/11/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu mengatakan, hasil naskah para pemenang akan ditawarkan kepada para penerbit. “Hak cipta ada di penulis, Pusbuk hanya membantu memfasilitasi dengan menawarkan kepada para penerbit yang berminat. Kita minta untuk menetapkan royalti dan terus kita pantau penerbitannya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis naskah yang disayembarakan masing – masing enam naskah untuk tiap jenjang pendidikan. Untuk SD/MI (kelas 4,5, dan 6) meliputi, pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan), cerita anak, kumpulan pantun, dan kumpulan puisi; untuk SMP/MTs meliputi pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan), novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi; dan untuk SMA/MA/SMK/MAK meliputi pengayaan pengetahuan alam dan matematika, pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan), novel, drama, dan biografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan sayembara antara lain meliputi naskah yang diajukan adalah karya asli, tidak berseri, belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara manapun, tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, dan belum pernah diterbitkan. Naskah diketik komputer diatas kertas A4 minimal 60 halaman, 2 spasi, ukuran font 12. Jika menggunakan gambar, ukurannya harus proporsional dan mendukung materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah dikirimkan paling lambat pada 1 Maret 2010 (stempel pos) kepada Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010 Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jalan Gunung Sahari Raya No.4 Jakarta 10002. Hadiah per jenis naskah untuk 54 naskah bagi pemenang I Rp 21.000.000,00, pemenang II Rp 20.000.000, dan pemenang III Rp 19.000.000,00. Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi Pusat Perbukuan Depdiknas telepon (021) 3804248, pes 275, fax (021) 3458151, 3806229, email pusbuk@sibi.or.id atau bangnas_pusbuk@yahoo.com, atau melalui laman www.sibi.or. id.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Pers Depdiknas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1760081820130928668?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1760081820130928668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1760081820130928668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1760081820130928668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1760081820130928668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/sayembara-penulisan-naskah-buku.html' title='Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2010 Berhadiah Rp1 Milyar'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwtbB9TuHwI/AAAAAAAAAtE/pF6dY894OaE/s72-c/lomba-menulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1206757158053470323</id><published>2009-11-21T19:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T18:03:20.974-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Tahun Baru Momentum Perubahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Sismanan, S.pd&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Swi1xc39kMI/AAAAAAAAAsc/amcEcDB8EKg/s1600/sis.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Swi1xc39kMI/AAAAAAAAAsc/amcEcDB8EKg/s200/sis.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406771213827412162" /&gt;&lt;/a&gt;Puji sukur bagi Alloh yang telah memberi kenikmatan yang tiada terkira terutama nikmat iman dan islam serta kesehatan sehingga kita dapat dipertemukan di majelis pekanan umat Islam yaitu sholat jum’at. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rosululloh SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku khotib kami mengajak marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita dengan sebenar-benarnya melakukan ketaatan pada aturan-aturan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin sidang jumat yang semoga dimuliakan Alloh&lt;br /&gt;Tanpa terasa kita sekarang berada di penghujung tahun 1430 H dan kita akan memasuki tahun1431. Perhitungan tahun hijrah bagi kita lebih tidak terasa lagi karena kita tidak menggunakan kelender Islam ini sebagai perhitungan hari-hari kita karena memang Negara kita tidak menggunakan kalender hijrah tapi menggunakan kalender Masehi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian sebagai seorang muslim hendaknya kita memperhatikan beberapa hal terkait dengan permasalahan tahun baru. Beberapa hal yang hendaknya menjadi perenungan kita bersama agar kita dapat menjadi muslim yang lebih baik. Beberapa catatan tentang tahun baru adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghargai waktu&lt;br /&gt;Tahun baru berarti pergantian tahun. Tahun berkaitan erat dengan waktu. Pergantian tahun berarti kita meninggalkan tahun yang lalu dan akan memasuki tahun yang baru. Waktu yang telah berlalu tidak bisa kembali oleh karenanya kita harus mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar waktu tidak terbuang sia-sia. Ayat Al-Quran banyak sekali yang mengingatkan kita tentang pentingnya waktu. Tentunya yang paling kita ingat adalah surat Al-Ashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.Menghargai waktu adalah dengan menggunakan waktu secara maksimal untuk kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersyukur Atas Nikmat Alloh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menyadari bahwa banyak sekali nikmat Alloh yang telah kita terima. Termasuk nikmat umur sehingga kita dapat hidup sampai hari ini. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita, tahun ini dia telah tiada. Alhamdulillah kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah. Selain dengan ucapan maka cara bersyukur adalah dengan menggunakan nikmat yang diberikan-Nya sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Dengan bersyukur Alloh akan menjanjikan untuk menambah nikmat-Nya seperti dinyatakan didalam Qur’an surat Ibrahim ayat 7:&lt;br /&gt;Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Melakukan Muhasabah (introspeksi diri).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah dilakukan untuk mengevaluasi diri kita apakah kita telah menjadi manusia yang banyak melakukan amal sholeh ataukah masih banyak banyak kegiatan kita sehari-hari yang justru kita isi dengan amal salah. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah kita menjadi hamba yang taat? Sudahkah kita rutin tilawah al-Qur’an membaca surat-surat-Nya? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang, menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Sudahkah kita membayar zakat dan sedekah? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Alloh SWT dalam Quran surat Al-Hasyr ayat 18 menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".&lt;br /&gt;Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daraopada hari ini. Bila kita dapat yang demikian itulah orang yang beruntung.&lt;br /&gt;Mengenang Hijrah Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa hijrah merupakan peristiwa besar dalam perkembangan dakwah Islam. Hijrah merupakan momentum besar untuk mengubah kehidupan kaum muslimin dari kehidupan umat yang tertindas menjadi umat yang berdaulat. Ini seyogyanya dapat kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa,masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madinah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab. Hijrah Rasulullah ternyata membawa perubahan yang sangat besar bagi perkembangan Islam. Paling tidak, beliau berhasil menjadi juru damai bagi dua suku asli penduduk Yatsrib, yaitu suku Aus dan Khzaraj. Rasulullah saw. mempersaudarakan, menyatukan, dan mendamaikan mereka dengan ikatan iman dan Islam serta persaudaraan Islamiyah. Sehingga terhapuslah di hati mereka militansi kesukuan yang sempit. Sementara itu, para pendatang Muhajirin juga mulai mewarnai aktivitas di kota itu dengan perdagangan. Tak lama kemudian, kaum Muhajirin mampu menggeser dominasi ekonomi dan perdagangan kaum Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah dalam pengertian sekarang ini dapat berarti meninggalkan sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang baik atau hijrah secara maknawiyah spiritual merupakan kewajiban bagi setiap muslim sepanjang hidupnya. Hijrah maknawiyah ini terus berlaku sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kalender Hijriyah adalah Kalender Umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tanggal berapa dalam kalender hijriyah? Kami yakin banyak diantara kita yang bingung ketika ditanya yang demikian. Tanggal berapa ya ? Bulannya juga bulan apa ya? Sebagai umat Islam seharusnya kita paham dengan penanggalan milik umat Islam yaitu kalender hijriyah, namun banyak diantara kita yang tidak memahami kalender hijriyah. Banyak diantara kita yang nama bulannya saja tidak hafal. Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Puasa romadhon atau puasa sunnah, ibadah haji, idul fitri, idul adha, dan lain-lain semua terkait dengan kalender hijriyah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada kalender Islam ini dengan lebih memasyarakatkan penggunaan kalender milik umat Islam ini.&lt;br /&gt;Tahun Baru Semangat Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tahun yang akan kita jalani menjadi tahun yang berarti bagi kehidupan kita maka hendaknya memiliki tekad dan semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad dan semangat baru untuk membangun kualitas diri dan umat. Membina diri dan umat dengan kekuatan iman dan keeratan ukhuwah Islamiyah seperti kaum Muhajirin dan Anshar dimana umat Islam bisa kuat dan bahu-membahu menegakkan syiar Islam dan mengibarkan bendera kebenaran berdasarkan al-quran dan sunnah.&lt;br /&gt;Setiap memasuki tahun baru hendaknya kita memiliki kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran baru dan semangat yang lebih besar untuk membangun umat ini agar dapat menjadi umat yang dipandang, jangan seperti sekarang ini dimana umat Islam tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sismanan, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengurus ISPI Cabang Banyumas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1206757158053470323?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1206757158053470323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1206757158053470323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1206757158053470323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1206757158053470323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/tahun-baru-momentum-perubahan.html' title='Tahun Baru Momentum Perubahan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Swi1xc39kMI/AAAAAAAAAsc/amcEcDB8EKg/s72-c/sis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1775237374750979476</id><published>2009-11-21T00:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T20:01:20.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Siti Nurbaya, Indonesia, dan Utang Luar Negeri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Mi'raj D. Kurniawan, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SweoTD-q6wI/AAAAAAAAAsU/B-r8Et5d7qA/s1600/miraj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SweoTD-q6wI/AAAAAAAAAsU/B-r8Et5d7qA/s200/miraj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406474923120716546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Avant Propos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siti Nurbaya, seorang gadis perawan, akhirnya menyerah kalah, bertekuk lutut dinikahi seorang kakek tua rentenir kaya bernama Datuk Maringgih. Tetapi di sisi lain, meski tubuhnya terpaksa menjadi milik sang datuk yang umurnya jauh di atas ayahnya itu, hati Nurbaya tetap berkait pada sang kekasih, pemuda Saiful Bahri. Nurbaya jelas patah hati. Demikian pula Saeful Bahri, juga patah hati. Maka untuk mengurangi beban jiwanya, Nurbaya memilih pasrah menganggap peristiwa itu sebagai takdir. Sedangkan Bahri, memilih menjauhi Nurbaya, bergabung dengan pasukan tentara pejuang pribumi menentang penjajah kolonial Belanda.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Ayah Siti Nurbaya tega menyerahkan anak gadisnya pada Datuk Maringgih, seseorang yang jika memperhatikan perbedaan umur di antara keduanya, seperti sosok kakek bagi Nurbaya? Karena utang. Ya! Ayah Nurbaya bangkrut. Sialnya lagi, ia bahkan ditelikung utang yang luar biasa besar pada sang datuk. Ayah Nurbaya tak mampu membayar. Sementara sang datuk bersama sekawanan tukang pukulnya terus-menerus datang menagih dan mengancam jiwa sang ayah jika tidak segera melunasi. Ayah Nurbaya kalut. Dalam situasi inilah, sang datuk meminta Nurbaya untuk dinikahi. Sang ayah yang gundah itu, dengan berat hati, merelakan anak gadisnya, karena dengan demikian, semua utangnya menjadi lunas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utang yang sulit terbayar telah membuat Ayah Nurbaya tidak berdaya, bahkan terpaksa mengorbankan anak gadisnya sendiri. Utang pula yang membuat Nurbaya terperangkap dalam situasi menerima pinangan sakral pernikahan dari seorang lelaki tua, meski tiada cinta sebesar zarah pun di hatinya. Lantaran tak mampu membantu membayar utang orang tua Nurbaya, Saiful Bahri harus menerima pil pahit dan merelakan kekasihnya dinikahi lelaki lain. Hubungan cinta Bahri dan Nurbaya berakhir tragis. Kehendak keduanya untuk merangkai ikatan pernikahan menjadi tak sampai karena lilitan utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman telah berubah. Belakangan di negeri ini, fenomena pernikahan paksa seperti yang dialami sosok Siti Nurbaya dalam roman modern yang pertama berjudul Kasih Tak Sampai karya Marah Roesli (M.C. Ricklefs, 2005:382) ini, mungkin kian berkurang. Sayangnya, fenomena serupa malah mendera negara yang menjadi setting roman ini. Ya! sejak selepas memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 sampai sekarang, tak henti-hentinya Indonesia dililit utang. Baru merdeka saja, punggung negeri ini telah tergopoh-gopoh menanggung utang. Pada akhir Orde Lama tahun 1960-an jumlahnya membengkak. Akhir Orde Baru semakin membumbung. Sekarang, boleh kita ibaratkan negara yang kita cintai ini telah bongkok merayap karena menanggung utang terlalu banyak. Apa yang terjadi entah mirip ungkapan, “gali lobang tutup lobang”, atau bisa jadi berupa “gali lobang tanpa bisa menutupnya lagi, dan malah menggali lagi lobang yang baru”.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Nominal Utang Luar Negeri Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Senin 24 November 2008 sebagaimna telah dikuti http://hizbut-tahrir.or.id (pencarian 28 Agustus 2009) menerangkan bahwa di akhir pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1966, utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 2.437 milyar. Itu hanya utang pemerintah. Lalu jumlah ini meningkat 27 kali lipat pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto Mei 1998, dengan nilai US$ 67.329 milyar. Pada akhir tahun 2003 utang itu membengkak menjadi US$ 77.930 milyar. Sedangkan pihak swasta mulai mengutang pada tahun 1981. Pada tahun 1998 jumlah utang swasta mencapai US$ 83.557 milyar. Menjelang akhir tahun 2008, jumlahnya mencapai US$ 2.335,8 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pada tahun 1980 utang luar negeri Indonesia sudah dalam keadaan negative outflow. Sialnya, keadaan ini seolah-olah dibiarkan terus memburuk hingga saat ini. Begitu ujar Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana, dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Utang Luar Negeri di Jakarta, 23 April 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam http://www.mediaindonesia.com (pencarian 28 Agustus 2009), pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, menjelaskan bahwa Indonesia harus lebih mampu mengelola (manageable) utang dan mengurangi jumlah utang luar negeri. Utang luar negeri Indonesia pada tahun 2009 mencapai US$ 149 milyar. Tahun 2004 US$ 129,5 milyar. Faisal Basri juga menerangkan banyaknya cara untuk mengurangi jumlah utang ini. Di antaranya meningkatkan tax base, berhemat terhadap pengeluaran yang tidak perlu, serta melangsingkan birokrasi yang terlalu "gemuk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Faisal Basri, pada awal krisis moneter (1997) beberapa tahun silam, Indonesia punya utang sebanyak 100 persen. Lalu berkurang menjadi 80 persen pada 2004. Sekarang jumlahnya hanya berkisar 30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya pula, tindakan mengutang yang dilakukan Indonesia memang sulit untuk dihindari, karena negara-negara besar juga melakukannya. Ini karena kondisi ekonomi berfluktuasi, sehingga penerimaan suatu negara mungkin menurun, namun sektor pengeluaran pasti meningkat. Akhirnya utang dibutuhkan, karena tak mungkin gaji diturunkan dan beras miskin tidak dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lika-liku jumlah nominal utang negeri ini terlihat tragis sekaligus dramatis. Memasuki pertengahan semester kedua tahun 2008 jumlahnya meningkat US$ 2.335 milyar. Ini terjadi sebagai salah satu dampak penambahan signifikian akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap tiga valuta asing utama, yakni Yen Jepang, Dollar AS , dan Euro Uni Eropa. Jumlah utang sebesar itu terkesan melonjak drastis menimbang pada bulan Juni 2008, jumlah utang luar negeri masih US$ 1.780 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cicilan yang harus dibayar tahun 2009 sebesar US$ 22 milyar, artinya pada tahun 2009 negara kita harus mengeluarkan Rp 250 trilyun. Terdiri dari, utang pemerintah US$ 9 milyar dan utang luar negeri (LN) swasta US$ 13 milyar. Di antara utang pemerintah itu, uang LN yang jatuh tempo pada 2009 senilai Rp 59 trilyun. Sedangkan cadangan devisa kita hanya US$ 50 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita komparasikan dengan jumlah penduduk Indonesia (± 230juta jiwa) dengan cicilan tahun 2009 itu, maka total cicilan yang harus dibayar pada tahun 2009 adalah Rp 1.086.000/jiwa penduduk. Bandingkan dengan UMR DKI Jakarta sebesar Rp 1.069.865. Sebenarnya bangsa ini juga, jika mau, bisa saja melunasi utang seluruhnya, namun tiap penduduk harus membayar Rp. 106 juta/jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan total utang sebesar US$ 2.335 milyar dengan tingkat bunga sekitar 5%, maka jumlah bunga yang harus kita bayar berkisar US$ 116,7 milyar. Jika mengasumsikan satu penduduk Indonesia perlu mengeluarkan Rp 15 ribu sekali makan dan 3 kali makan dalam sehari (Rp 45.000), maka untuk bunganya saja selama setahun dari utang itu sangat mencukupi biaya makan penduduk Indonesia sebanyak 71 juta orang selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Chatib Basri, pengamat ekonomi dan anggota kampanye SBY-Boediono lain lagi bunyinya. Dalam http://www.antaranews.com ia mengatakan bahwa rasio utang Indonesia terhadap PDB turun dari 50 persen pada tahun 2004 menjadi 32 persen tahun ini (Juni 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, penilaian terhadap kondisi utang luar negeri suatu negara tidak bisa dilihat dari jumlah utangnya belaka, tetapi juga harus melihat rasio utang suatu negara terhadap produk domestik bruto (PDB) negara itu. Contohnya utang luar negeri Indonesia sampai 2009 jumlahnya US$ 147 milyar, sementara utang luar negeri China US$ 323 milyar. Namun ekonomi Indonesia tidak lebih baik dari China meski jumlah nominal utangnya lebih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Chatib Basri menyatakan bahwa meskipun jumlah utang luar negeri Indonesia meningkat, tapi terlihat menurun jika membandingkan rasio terhadap PDB. Seperti menjawab saran Faisar Basri, Chatib Basri menegaskan bahwa fenomena tadi menunjukkan bahwa manajemen pemerintah terhadap utang sudah semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.mediaindonesia.com (pencarian 28 Agustus 2009) membeberkan jumlah nominal total utang luar negeri Indonesia pada tahun 2004 sebesar Rp 637 trilyun. Tahun 2005 menurun sedikit menjadi Rp 620 trilyun. Pada tahun 2006 menurun lagi menjadi Rp 559 trilyun. Tetapi jumlahnya bertambah lagi pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 586 trilyun. Aduh! tahun 2008 jumlahnya meningkat drastis menjadi Rp 730 trilyun. Setahun kemudian (2009) bertambah lagi sebesar Rp 2 trilyun menjadi Rp 732 trilyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi yang lain, total surat berharga negara terus bertambah. Pada tahun 2004 jumlahnya Rp 662 trilyun. Tahun 2005 menjadi Rp 693 triliun. Tahun 2006 bertambah menjadi Rp 743 trilyun, tahun 2007 meningkat menjadi Rp 803 trilyun, tahun 2008 Rp 906 trilyun, dan akhirnya tahun 2009 menjadi Rp 968 trilyun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menimbang Kembali Kosep dan Praktik Utang dan Sistem Bunga Pinjaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://hizbut-tahrir.or.id (pencarian 28 Agustus 2009) mengemukakan bahwa kini, konsep dan praktik utang dan bunga pinjaman kian populer. Keduanya bahkan dianggap berperan penting dari mulai penempatan modal awal untuk memulai usaha sampai ekspansi bisnis. Padahal di dalamnya mengandung riba. Apa sebabnya? Karena ada perhitungan time value of money. Praktik ini terlihat jelas dalam skala kecil industri menengah, multinasional, baik usaha biasa maupun di perusahaan pada bursa hingga pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep itu diterapkan dengan asumsi bahwa baik individu maupun perusahaan takkan memiliki cukup uang untuk melakukan rencana ekspansi/perluasan usaha, sehingga lumrah untuk mencari pinjaman, dan bukannya menunggu dari akumulasi keuntungan. Kalau kita telaah kiprah perbankan dalam 300 tahun terakhir, sektor perbankan telah memainkan peran kunci dalam kehidupan ekonomi, karena perbankan dijadikan alat untuk mengumpulkan dana dari masyarakat lalu diberdayagunakan dalam proses pinjam meminjang atau utang piutang. Padahal sekali lagi, ini adalah jerat berbahaya dari konsep utang dan ribawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dampak Berbahaya Utang Luar Negeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://hizbut-tahrir.or.id (pencarian 28 Agustus 2009) mengutarakan setidaknya terdapat dua dampak umum dari proses mengutang bagi pihak peminjam. Pertama, dampak langsung dari utang yaitu cicilan bunga yang makin mencekik. Kedua, dampak paling hakiki yaitu hilangnya kemandirian dan terbelenggu keleluasaannya untuk menentukan arah pembangunan negeri peminjam oleh pemberi pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dan sejarah menunjukkan susahnya negeri ini menentukan arah pembangunan yang dicita-citakan. Penyebabnya adalah term and condition atau syarat yang ditetapkan oleh rentenir (negara-negara donor) dengan adanya indikator-indikator baku yang ditetapkan, seperti arah pembangunan yang ditentukan (motif politis maupun motif ekonomi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya selama ini AS dan Belanda di CGI sangat vokal menekankan sejumlah persyaratan kepada Indonesia tatkala akan mengucurkan utang. Padahal, jumlah pinjaman dari AS dan Belanda tak banyak, tak sebanding dengan kevokalannya. Sialnya , AS dan Belanda mampu memprovokasi anggota CGI lainnya untuk mengajukan syarat-syarat yang sangat membebani Indonesia (http://isei.or.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya arah pembangunan Indonesia semakin terjepit dan terbelenggu dalam kebijakan-kebijakan made in negara Donor. Langkah negara-negara donor itu memang beralasan. Antara lain karena mereka harus menjaga, mengawasi dan memastikan bahwa pengembalian pinjaman tersebut plus keuntungan atas pinjaman, bisa dikembalikan oleh Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sialnya lagi alih-alih fokus menyejahterakan rakyat, akibat dari keharusan membayar cicilan utang dengan bunga yang besar itu malah membuat pemerintah Indonesia semakin menyengsarakan rakyatnya sendiri. Kenapa? Karena nyatanya, untuk mengembalikan sejumlah uang pinjaman tersebut diambil dari pendapatan negara (kekayaan hasil bumi dan pajak). Padahal seharusnya pendapatan negara disalurkan pada rakyat, baik melalui pembangunan sarana-sarana publik maupun meningkatkan kualitas SDM dan kualitas hidup masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Utang Luar Negeri dan Penjajahan Model Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam http://hizbut-tahrir.or.id (pencarian 28 Agustus 2009), Abdurrahman al-Maliki menerangkan setidaknya lima bahaya besar dari dampak utang luar negeri bagi pihak negara peminjam. Pertama, utang luar negeri untuk pendanaan proyek-proyek milik negara adalah hal yang berbahaya terutama terhadap eksistensi negara itu sendiri. Akibat lebih jauh adalah membuat masyarakat negara tersebut makin menderita karena ini merupakan modus untuk menjajah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya fenomena Mesir yang dijajah Inggris melalui jalur utang. Begitu pula Tunisia dicengkram Perancis melalui jalur utang. Negara Barat bahkan membentangkan hegemoninya terhadap negara Utsmaniyah pada akhir masa kekuasaannya melalui jalur utang. Karena dengan utang yang menumpuk, Daulah Khilafah Utsmaniyah yang ditakuti Eropa selama 5 abad itu, sejak Sultan Muhammad al-Fatih menaklukan konstantinopel pada tahun 1453, akhirnya menjadi negara yang lemah tak berdaya. Sebagian kalangan menyebut Daulah Khilafah kala itu sebagai The Sick Man (manusia yang sakit). Sejarah juga menunjukkan bahwa negara-negara Barat sebelum Perang Dunia I menempuh cara memberi uang utang. Lantas mereka mengintervensi dan menduduki negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebelum utang diberikan, negara-negara donor harus mengetahui kapasitas dan kapabilitas sebuah negara yang berutang dengan cara mengirimkan pakar-pakar ekonominya untuk memata-matai rahasia kekuatan/kelemahan ekonomi negara tersebut dengan dalih bantuan konsultan teknis atau konsultan ekonomi. Saat ini di Indonesia , sejumlah pakar dan tim pengawas dari IMF telah ditempatkan di hampir semua lembaga pemerintah yang terkait dengan isi perjanjian Letter of Intent (LoI) (Roem Topatimasang. Hutang Itu Hutang. Hlm 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berbahaya, karena rahasia kekuatan dan kelemahan ekonomi Indonesia akan terkuak dan bisa dijadikan dasar penyusunan berbagai persyaratan (conditionalities) dalam pemberian pinjaman yang sangat mencekik leher dan memelaratkan rakyat Indonesia . Contohnya pemotongan subsidi bahan pangan, pupuk, dan BBM. Akibat akhirnya, hanya pihak negara-negara donor yang untung, sedangkan di sisi yang lain Indonesia semakin gigit jari, ditelikung jumlah utang yang menggunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemberian utang adalah modus politik ekonomi agar negara peminjam seperti Indonesia tetap miskin, tergantung dan terjerat utang yang makin bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, utang luar negeri yang diberikan pada dasarnya merupakan senjata politik (as silah as siyasi) negara-negara kapitalis kafir Barat kepada negara-negara lain, yang kebanyakan negeri-negeri muslim, untuk memaksakan kebijakan politik, ekonomi. Negara-negara donor itu menjadikan negara-negara pengutang seperti Indonesia sebagai alat sekaligus ajang meraih kepentingan mereka, kendati harus menyengsarakan pihak Negara peminjam seperti Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dokumen-dokumen resmi AS terkuak bahwa tujuan bantuan utang luar negeri AS adalah mengamankan kepentingan AS dan mengamankan kepentingan “Dunia Bebas” yaitu negara-negara kapitalis. Pada akhir tahun 1962 dan awal tahun 1963 di AS muncul debat publik seputar bantuan luar negeri AS bidang ekonomi dan militer. Kemudian Presiden Kennedy membentuk sebuah komisi beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat yang diketuai Jenderal Lucas Clay untuk mengkaji masalah ini. Pada minggu terakhir Maret 1963, komisi itu mengeluarkan dokumen hasil kajiannya. Terguratlah dokumen yang berbunyi bahwa tujuan pemberian bantuan luar negeri dan standar pemberian bantuan utang adalah “keamanan bangsa Amerika Serikat dan keamanan serta keselamatan ‘Dunia Bebas’. Inilah sesungguhnya standar umum yang ditetapkan untuk seluruh bantuan ekonomi ataupun militer AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya, tujuan kucuran bantuan utang luar negeri AS adalah menjadikan negara-negara penerima bantuan utang seperti Indonesia tunduk di bawah dominasi AS. Tujuan akhirnya adalah Negara-negara penerima bantuan utang seperti Indonesia  dapat dijadikan ibarat sapi perahan AS dan alat negosiasi untuk membela kepentingan AS dan negara-negara Barat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, utang luar negeri sangat melemahkan dan membahayakan sektor keuangan (moneter) negara pengutang. Utang jangka pendek berbahaya karena dapat memukul mata uang domestik dan akhirnya dapat memicu kekacauan ekonomi dan keresahan sosial. Sebab bila pembayaran utang jangka pendek jatuh tempo, maka alat pembayaran yang digunakan berupa mata uang Dollar (hard currency). Akhirnya negara penghutang seperti Indonesia akan sulit melunasi karena keharusan menyediakan mata uang Dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembayaran utang Swasta, maka akan berdampak pada keterpaksaan membeli Dollar AS, dimana Dollar AS akan dibeli dengan harga yang sangat tinggi terhadap mata uang lokal (dalam hal ini misalnya Rupiah). Akhirnya hal ini akan berakibat menurunkan nilai mata uang lokal seperti Rupiah. Utang jangka panjang juga berbahaya karena makin lama jumlahnya makin banyak yang akhirnya dapat mengurangi APBN. Di situlah negara-negara donor terbukti bisa semakin memaksakan kehendak dan kebijakannya, betapa pun hal itu sangat merugikan negara penerima pinjaman seperti Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara Bijak Menyikapi Utang Luar Negeri untuk Indonesia Sejahtera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pengamat ekonomi Faisal Basri mungkin benar bahwa bangsa ini sulit untuk tidak berutang. Namun tentu saja uang pinjaman mesti dikelola dengan baik. Prinsipnya berutang untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar, dan bukannya malah menambah jumlah utang luar negeri tanpa keuntungan yang berarti, apalagi membuat jumlahnya semakin membesar dan negeri ini mengalami kesulitan hanya lantaran harus membayar bunga cicilan trilyunan rupiah tiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih bahaya lagi jika keharusan membayar utang yang sangat besar itu malah harus mengorbankan langkah-langkah menyejahterakan rakyat. Tentu berbahaya luar biasa jika yang terjadi kemudian adalah saling berhadap-hadapannya antara pihak birokrasi pemerintahan dengan rakyat dalam relasi pertentangan (resistensi). Apa sebab? Birokrasi pemerintahan terus berutang lalu menganak-emaskan kepentingan pihak negara donor, yang pada akhirnya bukan saja mengabaikan kepentingan rakyat kebanyakan (public), melainkan malah menindas rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbersit pertanyaan, kenapa Indonesia terus mengutang? Menurut Chatib Basri dalam http://www.antaranews.com, tujuan utama pembangunan ekonomi dengan berutang adalah supaya PDB negara ( Indonesia ) naik sehingga kegiatan ekonomi negeri ini berjalan dan kesejahteraan rakyat meningkat. Kalau tujuannya seperti ini, lalu mengapa jumlah utang semakin membengkak, sedangkan kepentingan negara terabaikan dalam kenestapaan dan kekurangan dari masa ke masa. Tentu saja tujuan itu sulit dicapai dengan langkah terus mengutang dan terengah-engah tiap tahun harus membayar cicilan, apalagi mengalami kebingungan mengatur alokasi dana; antara untuk belanja negara atau membayar cicilan utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Indonesia bukan satu-satunya negara yang tergopoh-tergopoh karena dililit utang luar negeri. Selain Indonesia, ada pula Argentina yang utangnya membumbung tinggi. Namun negara ini sigap mengajukan pengurangan/penghapusan utang, sehingga kini persoalan utang tidak lagi menjadi masalah pelik bagi negara pemain bola Diego Armando Maradona itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya seperti Argentina , langkah pengurangan/penghapusan utang luar negeri Indonesia terhadap negara-negara donor juga sangat mendesak. Sebenarnya selama tiga tahun ke belakang, cara ini pun menemukan momentum resminya. Misalnya saat UN Millennium+5 Summit (September 2005 di New York ), KTT D-8 (Mei 2006 di Bali ), atau pertemuan G20 di Brasil (awal November 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah itu juga diperkuat dengan alasan – yang sesungguhnya – sangat  efektif. Antara lain karena terjadinya bencana alam yang menelan korban dan kerusakan infrastruktur, seperti tsunami hingga gempa di Yogyakarta -Jawa Tengah. Entah karena segan, tidak berdaya atau karena ketidakmampuan, kenyataan menunjukkan pemerintah tetap tidak mengajukan penghapusan/pengurangan utang luar negeri Indonesia (sumber: www.atmajaya.ac.id/content.asp dan Kompas 14 Juni 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya – menurut pandangan penulis  – hanya tersedia 3 pilihan langkah bagi Indonesia untuk menyelesaikan persoalan utang luar negeri yang membumbung tinggi ini. Pertama, mengutang terus pada negara-negara donor dalam jumlah yang relatif kecil dan hanya ketika terasa sangat mendesak, sekaligus menggunakan atau mengelola utang (modal) ini untuk menghasilkan pendapatan negara yang lebih besar lagi. Tentu tanpa harus mengorbankan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menghentikan proses mengutang dari negara-negara donor tanpa mengajukan pengurangan maupun penghapusan utang, sembari mengefektifkan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki untuk membayar sisa cicilan utang luar negeri, sekaligus berupaya menyejahterakan dan memakmurkan bangsa. Jika benar-benar ini dilaksanakan dan diinformasikan pada rakyat, lalu – kalaupun – harus terjadi pemotongan gaji para birokrat, tentu semua pihak akan setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengajukan pengurangan atau penghapusan utang luar negeri, juga menghentikan proses mengutang. Setelah utang dikurangi atau dihapuskan, maka bangsa ini membangun seluruh aspek kehidupan dengan hanya menggunakan modal yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi terdapat alternatif langkah lain untuk menyelesaikan persoalan ini. Hanya saja tentunya semua upaya yang ditempuh harus berpegang pada prinsip menghentikan proses mengutang, atau kalaupun harus mengutang, maka jumlahnya harus lebih kecil ketimbang jumlah modal yang ada untuk memenuhi kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak berkaca pada sejarah, pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru pernah mewariskan utang yang sangat besar pada akhir kekuasaannya. Sialnya lagi, rakyat di akar rumput tidak tahu-menahu mengenai praktik-praktik mengutang dalam jumlah besar yang ditempuh kedua orde pemerintahan tersebut. Padahal, boleh jadi, hal ini pantas disebut sebagai pembodohan kepada rakyat, karena rakyat tidak tahu, bahkan kurang sadar kalau negaranya tengah berada di ambang kebangkrutan karena dililit utang luar negeri yang mah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1775237374750979476?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1775237374750979476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1775237374750979476' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1775237374750979476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1775237374750979476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/siti-nurbaya-indonesia-dan-utang-luar.html' title='Siti Nurbaya, Indonesia, dan Utang Luar Negeri'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SweoTD-q6wI/AAAAAAAAAsU/B-r8Et5d7qA/s72-c/miraj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4602507617883071463</id><published>2009-11-17T18:39:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T20:01:31.721-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>USAHA-USAHA GURU UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENUJU KUALITAS KEDUA (ANTARA TEORI DAN PENGALAMAN)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Sairan, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwNuUW2mKnI/AAAAAAAAAsE/E24fGa_AraQ/s1600/PAK+SAIRAN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwNuUW2mKnI/AAAAAAAAAsE/E24fGa_AraQ/s200/PAK+SAIRAN.jpg" border="3" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405285273785739890" /&gt;&lt;/a&gt;Belajar merupakan suatu proses bagi siswa untuk menguasai berbagai kompetensi. Belajar yang bermakna merupakan belajar yang disertai pengertian. Belajar bermakna akan terjadi bila informasi yang baru diterima mempunyai hubungan dengan konsep yang sudah ada pada diri siswa. Perkembangan intelektual pada siswa terjadi secara terus menerus, sesuai dengan lingkungan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua siswa dapat atau mampu menerima dan mencerna pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah. Sebagian diantara mereka bahkan menganggap beberapa pelajaran sulit dan bahkan membosankan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika yang berlangsung (Di SMP Negeri 2 Gumelar) selama ini belum secara optimal melibatkan belajar aktif dalam menyelesaikan tugas sebagai tuntutan akademis maupun sosial sewaktu bekerja di kelas. Keadaan yang terjadi sesungguhnya siswa belum banyak terlibat secara bertanggung jawab dalam suatu kelompok kerja. Kegiatan pembelajaran masih banyak ditentukan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa hanya sedikit mendapat kesempatan untuk bekerja dalam tugas-tugas bersama, akibatnya banyak siswa yang belum mengetahui bagaimana bekerja secara kooperatif. Selain itu ada kemungkinan justru siswa yang satu mengganggu siswa yang lainnnya. Hal tersebut dapat berdampak meniadakan kesempatan siswa untuk berinisiatif dan bekerja dengan arahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan belajar SMP Negeri 2 Gumelar belum merupakan lingkungan system sosial yang kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran yang demokratif dan ilmiah. Hal ini dapat berdampak lemahnya hasil belajar yang dapat terjadi karena kurangnya interaksi antar siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sulit terutama penguasaan materi. Disisi lain guru juga kurang memberikan penghargaan sebagai bentuk hadiah kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan solusi tentang rendahnya motivasi dan prestasi belajar matematika penulis mencoba melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas pembelajarannnya dengan menerapkan model-model pembelajaran dan perbaikan scenario pembelajaran (RPP) dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Adapun usaha-usaha yang dilakukan antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memperbaiki skenario pembelajaran yang awalnya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penggunaan alat peraga dan sumber belajar lainnya yang lebih intensif agar pemahaman anak lebih baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menggali kekurangan-kekurangan selama mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memanfaatkan pembelajaran berbasis lingkungan agar lebih mengena dan menarik bagi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Selalu berusaha untuk menggali informasi dan pengalaman baru sebagai bekal mengajar anak didik sehingga guru tidak lagi kurang informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menerapkan model-model belajar sebagai bentuk inovasi dalam pembelajaran agar anak termotivasi untuk belajar matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa usaha yang telah penulis lakukan sebagai upaya untuk memperbaiki teknik mengajar yang selama ini masih banyak kekurangan. Semoga ke depan akan lebih baik lagi. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sairan, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Guru SMP N 2 Gumelar, Pengurus ISPI Cabang Banyumas &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-4602507617883071463?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/4602507617883071463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=4602507617883071463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4602507617883071463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4602507617883071463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/usaha-usaha-guru-untuk-meningkatkan.html' title='USAHA-USAHA GURU UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENUJU KUALITAS KEDUA (ANTARA TEORI DAN PENGALAMAN)'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwNuUW2mKnI/AAAAAAAAAsE/E24fGa_AraQ/s72-c/PAK+SAIRAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3933177270421761425</id><published>2009-11-16T22:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T17:55:49.196-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Parasit Pendidikan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKCX9L1bjI/AAAAAAAAArs/PPg-sgTByK8/s1600/ersis.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKCX9L1bjI/AAAAAAAAArs/PPg-sgTByK8/s200/ersis.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405025850870820402" /&gt;&lt;/a&gt;RENUNGKAN. Kalau ditanya siapa guru SD yang pertama kali mengajarkan huruf, kata, atau kalimat, bisa jadi sudah lupa. Nama guru SMP atau SMA, masih bersarang di memori? Bahkan, ada yang sudah lupa siapa dosennya? Banyak orang lupa kepada yang memberi, tetapi selalu ingat apa yang diberikan. Kurang eloknya pula, yang diingat guru ‘killer’, tetapi lupa guru yang berjasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat sekolah tempat belajar ‘tempo doloe’? Mungkin Sampeyan kini bekerja di ruang ber-AC, punya penghasilan jutaan, atau sering seminar atau aneka kegiatan di hotel mewah. Dunia moderen, dunia kemewahan. Tetapi, pernahkan melihat alias berkunjung ke sekolah dimana dengan sarana dan prasarana, fasilitas seadanya, masih seperti sedia kala? Bisa jadi, lebih parah. Hampir roboh.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bisa jadi, ‘kita’ sudah punya rumah lumayan atau hidup di luar negeri, atau ‘menguasai’ negeri ini, namun lupa dari mana kehidupan dilambungkan. Lupa sekolah dan para pendidik. Kalau tidak, mustahil pendidikan di negeri ini berairmata darah. Sakit sesakitnya sakit paling sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya illustrasi. Anak Pak Oemar Bakry, sebut saja Oemar Jr. kini telah jadi dosen. Bisa pula pengusaha atau anggota dewan yang sibuk dengan soal-soal keduitan. Bisa pula menteri atau presiden sekalian. Pintar karena guru, karena sekolah, karena bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Oemar Jr. berandai-andai. Kalaulah untuk SD dihabiskan ‘subsidi’ Rp.25 juta, SMP Rp.25 juta, SMA Rp.50 juta, S1 Rp.100 juta, S2 Rp.200 juta dan S3 Rp.300 juta. Proses pendidikan menghabiskan uang Rp.700 juta dalam bentuk sarana dan prasarana, gaji guru, operasional dan segala macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tidak hina, ketika sudah ‘menjadi orang’ masih meminta-minta kepada pemerintah aneka fasilitas. Jangankan memberi, ‘membayar ulang’ apa yang diambil semasa pendidikan tidak mampu. Lagi pula, bukankah pemerintah begitu memprihatinkan? Kalah melulu. Hutang bertimbun-timbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tanyai diri. Pernahkan datang ke sekolah tempat belajar dulu. Tempat menimba ilmu? Datang saja sangat membanggakan guru dan sekolah. Apalagi kalau menyumbang serupiah atau dua rupiah. Pernahkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak yang diambil tanpa pernah pernah diberikan. Setelah sukses, setelah ‘jadi orang’. Manusia macam apa itu? Bahkan, berjamaah berdendang tentang aneka keburukan sekolah dan guru, tempat dan manusia yang memintarkannya. Monyet saja tidak akan berprilaku demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galibnya, karena tamatan sekolah, para educated yang pintar-pintar, punya argumen kuat dan didengung-dengungkan; menyediakan fasilitas pendidikan adalah tugas negara (pemerintah). Ya, iyalah. Masalahnya negara kita bukan negara gemah ripah loh jinawi. Negara pengutang bo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan perusahaan atau instansi ketika merekrut pegawai. IP minimal 3, rekrumen orang cerdas. Hanya mengambil hasil pendidikan yang dibiayai negara. Sudah begitu, mempekerjakan mereka untuk ‘merampok negara’. Mengambil gratis, memilih pula, diberdayakan, … tidak mau berbagi. Luar binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah perusahaan atau instansi mau berbagi dengan lembaga pendidikan darimana pegawainya berasal, dijamin sekolah-sekolah akan menjadi sekolah benaran, bukan sekadar tempat belajar. Semua pihak, mengambil dari pendidikan, tetapi kalau soal berbagi, bemiliar-miliar alan siap sedia mendukung. Paling celaka, para anak harimau tersebut, membom kebobrokan sekolah, kualitas pendidikan, mutu guru, tanpa berkontribusi. Aneh. Maunya gratsi melulu. Menghajar kan gratis. Gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenunglah. Kalau sampai hari ini tidak pernah mengunjungi sekolah, mendatangi guru atau dosen, apalagi berkontribusi pada pendidikan, bukan tidak mungkin terkategori menjadi parasit pendidikan. Kalau perilaku demikian, lalau meminta dan terus meminta kepada pendidikan sembari mencaci-maki disana-sini tanpa mau berbagi, berkontribusi barang serupiah, itu mBahnya parasit; parasit pendidikan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berdoa … semoga kita semua terhindar dari hal-hal sedemikan (syair lagu, lho). Dan, menjadi pembelajaran berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ya Rabb, bukanlah pintu hati agar tidak mengeluh dan selalu mengeluh kepada pendidikan nasional yang sekarat. Gerakkan nurani kami, untuk memberi. Berkontribusi secara nyata. Pendidikan tidak hanya memerlukan nasehat, usulan, atau harapan, tetapi butuh hal nyata, kontribusi kita semua. Maukah? Ngak jamin deh. Kalau memberi, berbagi, kami punya segudang alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Sampeyan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ersis Warmasyah Abbas&lt;/b&gt;,&lt;br /&gt;Dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin. Lahir di Muara Labuh, Solok Selatan, 15 November 1957. Magister Pengembangan Kurikulum Pendidikan IKIP (UPI) Bandung (1995), Alumnus Pendidikan Teori, Metodologi dan Aplikasi Antropologi UGM (1993), pernah kuliah di PK Fakultas Filsafat UGM (1982), Sarjana IKIP (UNY) Jogja (1980) Sarjana Muda IKIP (UNP) Padang (1978), dan alumnus PGAN Padang (1975).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisannya dimuat Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan, Jayakarta, Kompas, Haluan, Bandung Pos, Radar Banjarmasin, Dinamika Berita, Pelita dan media cetak lainnya. Era 1986-1990 aktif di Perwakilan HU Pelita Jawa Barat dengan puncak prestasi  jurnalistik Suplemen Lustrum VII IKIP Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan guru Keterampilan Jurnalistik, PMP dan Sejarah SMA Marsudi luhur Jogjakarta (1979-1984) adalah penulis: Pemuda dan Kepahlawanan, Penyunting (1988), Pengantar ke Pemahaman Sejarah (1993), Memahami Sejarah (1997), Bab-Bab Antroplogi, Penyunting (Fudiat Suryadikara 1996), Pembangunan Kalimantan Selatan, Penyunting (Ismet Ahmad 1988), Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar Dalam Revolusi Fisik 1945-1949 (2000), Tanah Laut: Sejarah dan Potensi (2000), Banjarbaru (2002), Buku Kenangan Purna tugas M.P Lambut, Editor Bersama (2003), Menguak Atmosfir Akademik, Penyuting bersama (2004), Nyaman Memahami ESQ (2005) Menggugat Kepedulian Pendidikan Kalsel (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerbitkan antologi puisi: Surat Buat Kekasih (2006) dan terbitan bersama: Garunum (2006), Taman Banjarbaru (2006), Tajuk Bunga (2006), Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru (2006). Penyunting antologi puisi: Hamami Adaby: Kaduluran (2006), dan kumpulan cerpen Jamal T. Suryanata: Bulan di Pohon Cemara (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Umum GAGAH dan Bandjarbaroe Post adalah Presiden LPKPK. Melakukan kerjasana dengan Asia Foundation, PT Djarum Kudus, Pemda Kabupaten dan Kota dan lembaga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3933177270421761425?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3933177270421761425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3933177270421761425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3933177270421761425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3933177270421761425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/menulis-tanpa-berguru-ersis-writing.html' title='Parasit Pendidikan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKCX9L1bjI/AAAAAAAAArs/PPg-sgTByK8/s72-c/ersis.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2242548108825577858</id><published>2009-11-15T21:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T20:01:48.154-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Perpustakaan Berbasis Intelektual</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Syaiful Mustaqim, S.Ag&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDVBzHQLI/AAAAAAAAAr0/PVY9zCHNkWA/s1600/Syaiful.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDVBzHQLI/AAAAAAAAAr0/PVY9zCHNkWA/s200/Syaiful.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405026900081328306" /&gt;&lt;/a&gt;PERPUSTAKAAN sekolah, sampai saat ini, fungsinya masih sebagai tempat peminjaman dan pengembalian buku saja atau sirkulasi buku. Selebihnya tidak. Jika demikian, ruang yang sering digembor-gemborkan sebagai jantung ilmu pengetahuan itu menjadi sia-sia. Semestinya, tempat itu menjadi ruangan berbasis intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan berbasis intelektual merupakan sebuah terobosan dalam rangka meningkatkan daya intelektual peserta didik. Sebab, daya intelektual yang biasanya dicurahkan dengan kegiatan berdiskusi sering dilaksanakan di lingkungan perguruan tinggi, sementara di lingkup sekolah masih jarang dilakukan. Hal itu yang menyebabkan mahasiswa baru sering kaget dengan tradisi berdiskusi di kampus.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, perlu memformat perpus berbasis intelek. Memformatnya pun bukan perkara yang sulit. Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) maupun Jurnalistik dapat membentuk kelompok kecil untuk kegiatan olah intelektual yakni berdiskusi di ruang perpustakaan. Berdiskusi tentang tema-tema aktual yang didapat dari media cetak, online serta elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dengan membedah buku-buku baru dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten atau guru bidang studi yang mumpuni. Sementara guru pembina, memantau keberlangsungan olah daya intelektual yang dilakukan oleh para peserta didiknya. Berhasil atau tidaknya, tergantung guru pembina yang memantau, membina serta mengarahkan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, kegiatan itu tergantung batas kemampuan dan kesepakatan siswa. Bisa sepekan, dua pekan sekali atau satu bulan sekali. Yang terpenting dibutuhkan intensitas dan kontiunitas dalam melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan perpus sekolah sebagai olah intelektual setidaknya memiliki banyak keuntungan, diantaranya: memakmurkan kesunyian perpustakaan sebab biasanya hanya sebagai sirkulasi buku. Selain itu, bagi peserta didik setidaknya merangsang siswa untuk selalu gemar membaca. Setelah pembacaan teks (dari buku, media cetak, online dan elektronik) dilanjutkan dengan olah intelektual dengan berdiskusi (menyampaikan ide, berpendapat dan kritik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadikan perpustakaan berbasis intelektual nantinya akan muncul peserta didik yang berintelektual tinggi dan mumpuni serta generasi yang peka terhadap kondisi zaman kekinian. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful Mustaqim&lt;br /&gt;Lahir dan dibesarkan di Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara. Sejak awal 2008 silam berbagai artikelnya dimuat Suara Merdeka, Wawasan, Kompas, dll. Selain menulis artikel, penulis lepas otodidak ini adalah kontributor NU Online (situs resmi PBNU). Direktur dan pengelola blog Smart Institute Jepara ini pernah mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Kompas dan Peraih Pewarta Terbaik Suara Warga Suara Merdeka pada Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2242548108825577858?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2242548108825577858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2242548108825577858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2242548108825577858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2242548108825577858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/11/perpustakaan-berbasis-intelektual.html' title='Perpustakaan Berbasis Intelektual'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDVBzHQLI/AAAAAAAAAr0/PVY9zCHNkWA/s72-c/Syaiful.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2991659267800239237</id><published>2009-10-27T21:39:00.000-07:00</published><updated>2009-11-17T03:07:21.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>LOMBA BAHAN AJAR BERBANTUAN KOMPUTER</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDx1b9teI/AAAAAAAAAr8/KK1vLWag_H8/s1600/WWWWWWWWWWW.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDx1b9teI/AAAAAAAAAr8/KK1vLWag_H8/s200/WWWWWWWWWWW.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405027394979214818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Deni Kurniawan As'ari &lt;/span&gt;Sewaktu menghadiri Silaturahmi dan Rapat Koordinasi Agupena Jateng, Ahad/11 Oktober kemarin, saya diberitahu teman LPMP Jateng, bahwa akan ada lomba yang diselenggarakan LPMP untuk para guru di Jawa Tengah. Lomba itu ternyata terkait dengan pembuatan bahan ajar berbantuan komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiahnya pun lumayan oke, yakni sebuah laptop, sertifikat, uang segepok dan piala. Saya sendiri pada tahun 2007 sempat mengikuti acara model ini karena termasuk yang waktu itu dipanggil untuk presentasi. Tahun ini rupanya lomba itu ada lagi dengan hadiah yang lebih menarik dan tentunya saingan yang lebih ketat mengingat sebagian para guru telah familiar dengan dunia teknologi untuk pembelajaran.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASIONAL&lt;br /&gt;“Inovasi tiada henti” itulah yang perlu dilakukan dunia pendidikan saat ini. Inovasi tersebut merupakan jawaban terhadap tantangan perubahan yang mengglobal dalam segala bidang, termasuk pendidikan. Bentuk inovasi yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah pemanfaatan teknologi informatika dan komunikasi berbantuan komputer di bidang pembelajaran. Harapan yang ingin dicapai adalah terjadinya transformasi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Mewujudkan ke arah tersebut perlu modifikasi-modifikasi pembelajaran yang dilakukan guru secara kreatif, inovatif, relevan dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan guru pada saat ini sungguh sangat luar biasa. Guru tidak hanya disibukkan dalam aspek pembelajaran, tetapi juga mengurus administrasi, pengembangan profesi bahkan sampai pemenuhan syarat sertifikasi. Aktivitas tersebut menyita waktu dan tenaga bagi guru, sementara tanggung jawab yang paling besar bagi guru adalah melaksanakan pembelajaran bersama siswa agar siswa mencapai kompetensi yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi konsekuensi logis yang dihadapi guru tersebut, LPMP Jawa Tengah sesuai dengan tugas dan fungsinya berusaha mencari terobosan baru sebagai bentuk peningkatan mutu pendidikan melalui lomba Lomba Guru Berprestasi dalam Pembuatan Bahan Ajar Mandiri berbantuan Komputer/ Multimedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba tersebut diharapkan memberikan motivasi dan penghargaan kepada guru atas dedikasinya dalam bidang pembelajaran selama ini. Guru menjadi lebih diperhatikan dan dituntut untuk maju, sebab hanya melalui jasa guru pendidikan berkualitas dapat diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN / MEDIA:&lt;br /&gt;Bahan Ajar Mandiri berbantuan Komputer/ Multimedia bagi siswa adalah bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam proses pembelajaran mandiri berisi satu topik sajian yang utuh dari standar kompetensi dan kompentensi dasar tertentu, yang dikembangkan dengan menggunakan software aplikasi (Powerpoint , Flash, Authoware, Frontpage, Photoshop, Fox Pro dll) dan atau bahasa pemograman (Visual Basic, Clipper dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;· Guru SD/SMP/SMA/SMK dan yang sederajat&lt;br /&gt;· Lomba Bersifat Perorangan&lt;br /&gt;· Unit kerja Peserta Lomba berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN KARYA&lt;br /&gt;· Mencantumkan kurikulum yang digunakan, sasaran kelas/semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator serta petunjuk pengunaan program .&lt;br /&gt;· Materi lomba merupakan satu indikator atau lebih dari standar kompetensi dan atau kompetensi dasar mata pelajaran SD/SMP/SMA/SMK dan Sederajat.&lt;br /&gt;· Disajikan dengan mengunakan Bahasa Indonesia, kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.&lt;br /&gt;· Dilengkapi dengan petunjuk pengunaan program dalam 2 bentuk sajian, yaitu print out dan CD.&lt;br /&gt;· Karya Original dalam ide dan kreasi yang dibuktikan dengan surat pernyataan diatas meterai.&lt;br /&gt;· Bila dalam pembuatan media, peserta perlu mencuplik karya orang lain sebagai referensi/bahan pelengkap sajian, maka peserta harus mencantumkan sumber cuplikan tersebut.&lt;br /&gt;· Hasil karya dikemas dalam format CD&lt;br /&gt;· Setiap bahan ajar yang diikutsertakan dalam lomba bila layak dan mendapat panggilan untuk presentasi menjadi hak milik LPMP Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DESAIN CD INTERAKTIF (MULTIMEDIA)&lt;br /&gt;· Judul&lt;br /&gt;· Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;· Apersepsi&lt;br /&gt;· Uraian yang Komunikatif&lt;br /&gt;· Contoh, Analogi atau Ilustrasi, serta Simulasi yang Relevan dan Kontekstual&lt;br /&gt;· Latihan, Tes, dan Umpan Balik Korektif secara Kreatif&lt;br /&gt;· Relevansi dan Kosistensi Antara Latihan/Tes dan Materi dengan Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;· Interaktifitas&lt;br /&gt;· Efektif dan Efisien dalam Pengembangan Maupun Penggunaan Multimedia Pembelajaran&lt;br /&gt;· Mudah Digunakan dan Sederhana dalam Pengoperasiannya (Usabilitas).&lt;br /&gt;· Ketepatan Pemilihan Jenis Aplikasi/Software/Tool untuk Pengembangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAFTARAN&lt;br /&gt;· Mengisi Formulir yang sudah disiapkan di Bidang Pemetaan Mutu dan Supervis (PMS) LPMP Jawa Tengah, atau melalui Website LPMP Jawa Tengah&lt;br /&gt;· Persyaratan karya disertakan dalam amplop ukuran folio, ditujukan pada Panitia Lomba Pembuatan Bahan Ajar Interaktif Berbantuan Komputer (Bidang PMS) LPMP Jawa Tengah.&lt;br /&gt;· Formulir pendaftaran dan persyaratan lomba diantar langsung atau dikirim melalui pos ke Panitia Lomba.&lt;br /&gt;· Pendaftaran Gratis tanpa dipungut biaya&lt;br /&gt;· Pendaftaran dan pengiriman naskah paling akhir 1 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGIATAN LOMBA&lt;br /&gt;· 150 Peserta yang lolos seleksi administrasi dan persyaratan lomba akan dipanggil di LPMP Jawa Tengah pada tanggal 14 s.d. 15 Desember 2009, untuk mempresentasikan bahan ajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Bila perlu menggunakan software khusus diperbolehkan membawa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kegiatan lomba menggunakan sistem gugur atau babak penyisihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Biaya Akomodasi dan Konsumsi selama di LPMP Jawa Tengah ditanggung oleh Panitia Penyelenggara (LPMP Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Ketentuan/ keputusan Juri tidak bisa digangu gugat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenjang TK/SD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. JUARA UMUM : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. JUARA II : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III JUIARA III : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenjang SMP/SMA/SMK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. JUARA UMUM : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. JUARA II : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III JUIARA III : NOTEBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + Uang Pembinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi selanjutnya hubungi website kami di www.lpmpjateng.go.id dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail : lpmp-jateng@lpmpjateng.go.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact Person: Aris Ristiyanto: 08122919254, Hendang : 081325756865&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKRETARIAT LOMBA&lt;br /&gt;BIDANG PEMETEAAN MUTU DAN SUPERVISI (PMS)&lt;br /&gt;LPMP JAWA TENGAH&lt;br /&gt;JL. KYAI MOJO SRONDOL KULON SEMARANG&lt;br /&gt;Tlp. 024 70781486, Fax 024 7479261&lt;br /&gt;Email lpmp-jateng@lpmpjateng.go.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2991659267800239237?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2991659267800239237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2991659267800239237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2991659267800239237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2991659267800239237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/10/lomba-bahan-ajar-berbantuan-komputer.html' title='LOMBA BAHAN AJAR BERBANTUAN KOMPUTER'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SwKDx1b9teI/AAAAAAAAAr8/KK1vLWag_H8/s72-c/WWWWWWWWWWW.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6681743309967884274</id><published>2009-09-26T03:21:00.000-07:00</published><updated>2009-11-17T04:39:30.950-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Penjurusan Sejak Dini:  Sinergi Masa Depan dan Multiple Intelligences</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sr3sI8dStOI/AAAAAAAAAqY/MIQKH20nXDk/s1600-h/miraj.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sr3sI8dStOI/AAAAAAAAAqY/MIQKH20nXDk/s200/miraj.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385720367817077986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Mi'raj Dodi Kurniawan&lt;/span&gt; Dongeng yang terdapat dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences&lt;/span&gt; (1987) karya Thomas Armstrong berikut ini relevan dan menarik untuk memahami Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences/MI) temuan Howard Gardner:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syahdan terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari pelbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hinggal tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jeas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kasus yang menimpa kelinci, ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatang kecil lainnya. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.” (Thomas Armstrong. 2004. Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan. Terjemahan dari Multiple Intelligences in the Classroom-2nd edition oleh Yudhi Murtanto. Bandung : Kaifa. Hlm vii - viii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Profesor dan Generalis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita berkonsensus memilih mendisain pendidikan untuk menciptakan output bertipe profesor atau generalis? Manakah yang lebih kita pilih: memformat lulusan yang mengetahui banyak mengenai sedikit hal atau lulusan yang mengetahui sedikit mengenai banyak hal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja reasonable mencetak lulusan yang pengetahuannya bejibun mengenai banyak hal, sudah barang tentu kita lebih memilih tipe ini sebab semua ilmu penting. Kendati kadar kepentingannya juga bisa diukur: sangat penting, penting, dan tidak terlalu penting. Mulai dari parameter ilmu yang mendesak dan bisa ditunda, parameter sesuai tidaknya dengan konteks hidup kekinian dan kedisinian (kebutuhan lingkungan), juga parameter kepentingannya untuk banyak atau sedikit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari indikasi yang penulis lihat dan alami dewasa ini, kecenderungan model pendidikan yang kita laksanakan berbentuk piramida. Transformasi ilmu dari tingkat dasar sampai jenjang pendidikan paling akhir di pergurun tinggi, berturut-turut dari keilmuan lingkup umum sampai yang sangat spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama diajarkan sepintas lalu tentang banyak ilmu pengetahuan. Tapi di akhir kelas pada kedua jenjang pendidikan ini lalu terlihat penekanan lebih pada beberapa mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Bahasa Inggris, lantaran menjadi mata pelajaran yang diteskan dalam Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat Sekolah Menengah Umum, model pendidikan generalis masih terwujud dalam masa-masa awal pendidikannya. Lantas sebelum lulus, peserta didik dihimpun menurut kecenderungan keilmuan yang sesuai dengan minat dan bakatnya: kelas Bahasa, IPA, atau IPS. Kendati belum terlalu spesifik, namun dalam konteks membandingkan dengan rumpun keilmuan yang ditransformasikan sebelumnya, apa yang terjadi di SMU sudah terlihat upaya menspesifikasikan keilmuan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah merampungkan jenjang SMU, lingkup keilmuan yang diajarkan semakin dispesifikkan. Apabila sebelumnya seorang siswa mengambil kelas IPA pada masa SMU, lalu pada perguruan tinggi jenjang S1 memilih rumpun ilmu yang sama, maka yang ia peroleh adalah IPA dalam lingkup lebih spesifik lagi. Misalnya Biologi, Fisika, Matematika, atau Kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia meneruskan ke jenjang S2, maka ilmu yang diperolehnya akan lebih spesifik dan meluas. Tamat dari S2 dan – jika – melanjutkan ke S3 ia akan beroleh ilmu yang lebih spesifik lagi. Bahkan untuk lulus dari jenjang pendidikan kesarjanaan ini ia harus membuat disertasi yang memuat gagasan mengenai satu temuan ilmiah yang belum ditemukan sebelumnya. Kalau kepakarannya dalam satu jenis ilmu diakui oleh civitas academica, maka ia layak dianugerahi profesor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terlalu Banyak Pelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang juga mengajar di Sekolah Menengah Pertama pernah melakukan survey kepada peserta didik yang ditemui. Kepada mereka ditanyakan mengenai perasaan dan kesan manakala berhadapan dengan lebih dari sepuluh mata pelajaran, sejak bangku SD sampai SMP. Jawaban mereka beragam: suka, menerima, dan kurang suka. Ketika ditanyakan adakah pelajaran yang paling disukai, serempak menjawab ya. Apa sajakah? Beragam. Ada yang cumin menyukai IPA dan IPS. Sebagian lainnya senang dengan Matematika dan Bahasa Inggris. Ada pula yang menjawab Bahasa Indonesia dan Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, dari survey ini, tiada satu pun peserta didik yang menyatakan sangat senang dengan semua mata pelajaran yang diajarkan. Mereka hanya menyenangi, dua sampai tiga jenis pelajaran. Sebagian di antaranya, karena kesenangannya terhadap pelajaran lainnya relatif lemah, maka ketika mengikuti pelajaran ini pun menjadi kurang maksimal. Survey ini boleh kita artikan sebagai secuil tanggapan kurang dari 100 peserta didik, dari jutaan siswa di negeri ini, terhadap sejumlah mata pelajaran yang diajarkan. Dari sinilah kemudian penulis tergerak untuk melontarkan gagasan mengurangi jumlah mata pelajaran, sejak tingkat SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setelah Pandai Calistung Lalu Penjurusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya, mustahil mencetak seluruh peserta didik menjadi seseorang yang berpengetahuan banyak dan mendalam mengenai seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Bukan mustahil lagi, namun mungkin, mencetak peserta didik menjadi seseorang yang berpengetahuan banyak dan mendalam mengenai sebagian mata pelajaran. Jauh lebih memungkinkan mencetak peserta didik yang memiliki pengetahuan selintas-selintas tentang seluruh mata pelajaran, apalagi hanya sebagian pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang ditemukan materi yang diajarkan malah pengulangan dari jenjang pendidikan sebelumnya. Bukannya haram mengajarkan materi yang pernah diberikan di SD, misalnya, lantas disampaikan lagi di SMP. Namun hal ini terasa kurang efisien dan afektif ketika menimbang perlunya pendalaman dan peluasan materi pada satu jenis mata pelajaran. Fenomena itu juga, membuat pemahaman peserta didik terhadap tiap mata pelajaran hanya di permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana produknya? Output yang tercipta ialah mereka yang kadar kedalaman pemahamannya berada pada tingkat pertengahan. Demikian pula keluasannya terhadap satu jenis pelajaran, juga, pertengahan. Nyaris sulit membuat peserta didik memahami secara mendalam dan luas terhadap satu jenis mata pelajaran. Pendek kata, manusia yang dihasilkan adalah manusia dengan pengetahuan studi, pertengahan, tidak minimal, juga tidak mencapai taraf maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, tiada satu orang pun yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendirian, tanpa bantuan orang lain. Hal lainnya yang juga relatif pasti, tak ada seorang pun yang menguasai seluruh bidang studi keilmuan dengan sangat mendalam dan luas. Pendek kata, sulit menemukan satu orang profesor di bidang sains, sekaligus dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia, bahasa dan sastra Inggris, bahasa dan sastra Arab, bahasa dan sastra Cina, Fisika, Kimia, Biologi, Antropologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, agama Islam, Kesenian, Logika, Filsafat, dan sebagainya. Di sini boleh kita ajukan Aristoteles sebagai orang tercerdas yang pernah tercatat dalam sejarah. Namun masih dipertanyakan, apakah luasnya wawasan Aristoteles dalam tiap ilmu berbanding lurus dengan tingkat kedalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penalaran tadi, terbukalah tabir perlunya kerja sama antar individu dan antar kelompok yang memiliki kedalaman dan keluasan wawasan antar bidang studi keilmuan. Spesifikasi penguasaan ilmu sangat memadai, karenanya, patut diberi tempat dalam wacana perbaikan pendidikan bangsa kita. Rasa-rasanya terlalu lamban dan lama, jalur yang harus ditempuh peserta didik untuk memiliki kadar kedalaman dan keluasan wawasan pada satu bidang keilmuan. Kenapa misalnya, kita tidak mendisain penjurusan setelah peserta didik, fasih membaca, menulis, dan menghitung (calistung) – dalam dimensi memenuhi kualifikasi minimal atau pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan membaca, menulis, dan menghitung, juga berpikir logis merupakan syarat manusia untuk sampai pada penguasaan sederet ilmu yang tersedia. Namun bukan berarti harus berlama-lama berjibaku dalam kubangan ilmu yang dipelajari secui-secuil. Bukankah akan lebih baik apabila, setelah peserta didik fasih calistung dan berpikir logis, lantas dengan mendeteksi minat dan bakatnya, langsung dijuruskan sejak dini. Akhirnya, negeri ini sudah memiliki jutaan warga yang pakar di tiap bidang keilmuan, tentu dalam umur mereka yang relatif lebih muda, sehingga energi mereka masih perkasa untuk menghasilkan penemuan ilmiah, dan bakti keterpelajarannya juga lebih senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mi'raj Dodi Kurniawan&lt;br /&gt;Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia. Kini sebagai staf pengajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6681743309967884274?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6681743309967884274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6681743309967884274' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6681743309967884274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6681743309967884274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/09/penjurusan-sejak-dini-sinergi-masa.html' title='Penjurusan Sejak Dini:  Sinergi Masa Depan dan Multiple Intelligences'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sr3sI8dStOI/AAAAAAAAAqY/MIQKH20nXDk/s72-c/miraj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2273934513522632368</id><published>2009-09-16T04:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T05:15:21.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>Selamat Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SrDSix0WqfI/AAAAAAAAApQ/xSDGrp2R_CY/s1600-h/ISPI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SrDSix0WqfI/AAAAAAAAApQ/xSDGrp2R_CY/s200/ISPI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382033049638054386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;KELUARGA BESAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;CABANG BANYUMAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MENGUCAPKAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2273934513522632368?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2273934513522632368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2273934513522632368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2273934513522632368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2273934513522632368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/09/selamat-idul-fitri.html' title='Selamat Idul Fitri'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SrDSix0WqfI/AAAAAAAAApQ/xSDGrp2R_CY/s72-c/ISPI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-7319906444687448663</id><published>2009-08-18T04:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T04:17:40.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Dibalik Tawa dan Duka Mbah Surip</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SoqM88UrpCI/AAAAAAAAAos/-QsmV-g9z10/s1600-h/Roto+spd.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SoqM88UrpCI/AAAAAAAAAos/-QsmV-g9z10/s200/Roto+spd.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371260484205650978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Roto, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What this is, …  you work&lt;br /&gt;A, a,a … salome … oke …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak gendong ke mana-mana&lt;br /&gt;Tak gendong ke mana-mana&lt;br /&gt;Enak dong, mantep dong&lt;br /&gt;dari pada kamu naik pesawat kedinginan&lt;br /&gt;mendingan tak gendong to, enak to hayo ke mana ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ITULAH nyanyian anak secara perorangan dan atau kelompok terdengar dimana-mana. Dengan riang mereka menari-nari kesana-kemari, menggemgan hand phone (HP) selulernya, sambil menirukan gaya Mbah Surip yang fenomenal, karena gaya khasnya. Belum usai duka tentang Mbah Surip, tiba-tiba dikejutkan kembali derai air mata karena meninggalnya WS Rendra.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga terhenyak, kemudian menggoreskan pena di media ini, terutama  terngiang-ngiang tawa &amp;amp; duka Mbah Surip. Syair lagu di atas entah benar/salah, yang pasti di bulan belakangan ini masyarakat yaitu anak-anak, tua dan muda selalu mendendangkan lagu tersebut di berbagai kesempatan. Baik di halaman rumah, di perempatan jalan, di terminal, di HP, bahkan sampai di acara hajatan. “Tak gendong, ke mana-mana …., tak gendong ke mana-mana …,” syair lagu tersebut terdengar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang awam dalam menafsirkan isi lagu tersebut tentu sangatlah mungkin dapat menimbulkan konotasi yang beragam. Semenjak hari Selasa 4 Agustus 2009 berbagai media tulis dan cetak, terutama televisi swasta mulai santer memberitakan tentang wafatnya seniman nyentrik tersebut. Berita tersebut menyatakan bahwa Mbah Surif konon kabarnya sebagai milyader terbaru, hasil royaltynya ada yang menyebut 4,5 milyar sampai dengan 33 milyar. Luar biasa! Bahkan orang nomor satu di republik ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono ikut menyatakan berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya serta mengirimkan karangan bunga atas wafatnya Mbah Surip tersebut. Beliu menyatakan bahwa semangatnyalah dapat dijadikan inspirasi oleh siapapun.&lt;br /&gt;Mbah Surif Tetap Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mencoba memutar ulang lagu tak gendong, dari koleksi lagu anak saya yang duduk di bangku SD, SMP bahkan anak yang SMA selalu berebut ulang di  berbagai kesempatan untuk menyanyikan lagu tersebut. Dalam perenungan berikut, saya meminta bantuan anak saya yang duduk di bangku SMP untuk menulis syairnya. Semua berebut untuk menuliskannya, dengan singkat penulis mendapatkan syair yang lengkap dari bait pertama sampai bait akhir tidak ada yang terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan penulis bahwa lagu tersebut sangat merakyat baik di kalangan anak-anak, sampai orang dewasa dan keluarga. Lagu tersebut tanpa disadari mampu menjadi inspirasi para orangtua terlebih kakek dan nenek. Dengan syair lagu tak gendong, menginspirasikan bahawa kakek/nenek semakin sayang terhadap anak dan cucu dalam pelukannya/dekapannya atau dalam dialek aslinya “tak gendong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialek tersebut sangat melekat erat bagi rakyat Indonesia terutama dialek Jawa, yang mengandung makna wujud kasih sayang antara orang tua terhadap anak dan terlebih cucunya. Penulis memaknai bahwa syair lagu tersebut sangat lekang di benak kalbu para orang tua dalam mengasihi anak dan cucunya. Penggambaran kasih sayang orang tua yang tidak ternilai harganya, sehingga lagu tersebut dapat dijadikan simbul keakraban dan keabadian. Maka, walau Mbah Surip telah wafat diiringi duka, namun sebagian masyarakat yang lain tetap tertawa dalam arti menterjemahkan pesan moral yang ada di dalamnya, oleh para penggemarnya. Walau Mbah Surip telah tiada tetapi sebenarnya dia “tetap hidup” di benak para pengagumnya, bagi yang mau memaknai positf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dibalik syair lagu tersebut ada yang memaknai dengan konotasi negatif. Yaitu penggambaran orangtua berduit, maaf kelompok orang “hidung belang” dengan uangnya dapat membeli segala bentuk kecantikan/kemolekan, atau dimaknai sebaliknya bahwa anak-anak gadis belia dengan suka rela mau dibeli harga dirinya dengan uang.&lt;br /&gt;Benarkah tafsiran yang penulis tawarkan? Pastinya para orangtua banyak yang tertawa terkekeh-kekeh karena terhibur oleh polah tingkah anak &amp;amp; cucunya dalam menyanyikan lagu Mbah Surip: “… tak gendong kemana-mana… ,” disertai gerakan tari yang semakin menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari persoalan pro dan kontra di atas, ada sesuatu yang dapat dijadikan renungan. Apa gerangan bahan renungan tersebut? Coba kita cermati ulang tawa, dan perilaku cuek Mbah Surip tersebut. Beliu dengan lugu, polos dan ikhlas di berbagai kesempatan selalu disertai ketawa ha…, ha … . tanpa memikirkan kekayaan. Beliu terkesan menikmati hidup apa adanya tanpa ada hal-hal yang ditutup-tutupi dengan kebohongan. Itulah gambaran kehidupan apa adanya duka dihadapi dengan suka, disertai usaha keras tanpa mengenal lelah. Suatu kelak pasti menuai hasilnya. Sejalan slogan nenek moyang kita yang masih relevan di era global ini, yaitu: “Sopo nandur bakal Ngunduh.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ilustrasi selanjutnya, coba kita cermati syair lagu dan vidio klip lagu Mbah Surip, sekali lagi putar ulang vidio klipnya, kesan yang dapat direnungkan adalah, disana termuat sindiran bahwa perilaku hidung belang dan perilaku gadis belia yang menjajakan diri adalah perilaku amoral yang patut dipertanyakan kebenarannya. Bagaimana dengan Anda? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penulis kutipkan kembali lagu Mbah Surip yang berjudul: “Mbah Surip Tak Gendong” &lt;br /&gt; Tag gendong kemana-mana&lt;br /&gt; Tak gendong kemana-mana&lt;br /&gt; Enak dong, mantep dong&lt;br /&gt; Dari pada kamu naik pesawat&lt;br /&gt; Kedinginan mendingan tak gendong to,&lt;br /&gt; Enak to, mentep to, hayo kemana&lt;br /&gt; Tak gendong kemana-mana,&lt;br /&gt; Tak gendong kemana-mana, enak tau&lt;br /&gt; Where are you going&lt;br /&gt; Oke I am waking&lt;br /&gt; Where are you going&lt;br /&gt; Oke my darling a…, a…, a…&lt;br /&gt; Tak gendong kemana-mana… .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;Berita dari beberapa tv swasta: RCTI, TV ONE, AN TV &amp;amp; INDOSIAR dan media cetak. Kompas, Solopos, Suara Merdeka, Jawa Pos dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambarawa, 8 Agustus 2009&lt;br /&gt;Oleh Roto Email: roto_amb@yahoo.com&lt;br /&gt;Anggota Agupena Jateng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-7319906444687448663?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/7319906444687448663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=7319906444687448663' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7319906444687448663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7319906444687448663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/08/dibalik-tawa-dan-duka-mbah-surip.html' title='Dibalik Tawa dan Duka Mbah Surip'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SoqM88UrpCI/AAAAAAAAAos/-QsmV-g9z10/s72-c/Roto+spd.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2741245095598134875</id><published>2009-08-10T02:33:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T03:31:21.908-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Peran Pengawas Perlu Diaktifkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sn_sBPkoYjI/AAAAAAAAAok/obaHldiRNKI/s1600-h/rakordin-09.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sn_sBPkoYjI/AAAAAAAAAok/obaHldiRNKI/s200/rakordin-09.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368268786953118258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;SEMARANG-Sertifikasi guru menjadi salah satu tolok ukur kualitas yang dimiliki guru. Kendati demikian, bukan berarti mereka yang sudah bersertifikasi lantas enggan mengembangkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan berarti ketika sudah menerima sertifikat lantas mengajar seenaknya. Tetap saja perlu peningkatan potensi diri sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Prof  Dr Ahmad Rofiq MA saat ditemui di sela-sela syukuran Dies Natalis IX Unwahas, Sabtu (8/8).&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, Ahmad juga mengkritisi proses sertifikasi yang menggunakan penilaian portofolio. Menurutnya, proses tersebut kurang bisa menjamin kualitas guru yang sebenarnya. Dokumen pelatihan, misalnya, pelampirannya tak menjamin guru yang bersangkutan menguasai dengan benar kegiatan yang disebutkan dalam dokumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang bisa menjamin mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh. Bisa saja keikutsertaannya sebatas pada pemenuhan syarat saja,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Ahmad menyebut peran pengawas yang bisa membantu penjaminan kualitas guru. Peran mereka harus lebih aktif dalam memantau pengajaran para guru namun sayang hal itu belum terwujud. “Kedatangan para pengawas ke sebuah sekolah dalam setahun bisa dihitung dengan jari,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran pengawas, tambah dia, sangatlah penting. Dari pantauan yang dilakukan akan bisa diketaui sejauh mana kekurangan para guru dalam mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika nantinya ditemukan kesalahan, pengawas bisa langsung memberikan kritikan pada guru yang bersangkutan. “Dengan begitu, bisa langsung segera dilakukan pembenahan,” tambahnya. (H31-45)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2741245095598134875?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2741245095598134875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2741245095598134875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2741245095598134875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2741245095598134875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/08/peran-pengawas-perlu-diaktifkan.html' title='Peran Pengawas Perlu Diaktifkan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sn_sBPkoYjI/AAAAAAAAAok/obaHldiRNKI/s72-c/rakordin-09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3202119779187439180</id><published>2009-08-05T05:38:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T06:30:52.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kerangka Quantum Teaching Dalam  Membudayakan  Menulis di Kalangan Guru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SnmAvizvmyI/AAAAAAAAAoc/lrP0hd-ldIY/s1600-h/sis.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SnmAvizvmyI/AAAAAAAAAoc/lrP0hd-ldIY/s320/sis.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366461985274698530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Sismanan, S.Pd               &lt;br /&gt;Pengurus ISPI Cabang Banyumas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah forum guru ada seorang guru yang meminta saya untuk mengajarinya menulis artikel dan makalah. Kemarin seorang guru yang lain pun datang minta dibimbing membuat skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa diatas bisa diambil kesimpulan bahwa profesi guru sangat terkait dengan kegiatan menulis. Tapi ternyata banyak guru yang kemampuan menulisnya masih rendah. Kenapa orang yang seperti saya yang baru belajar menulis dan kemampuan &lt;span id="fullpost"&gt;menulisnya masih terbatas, sudah dianggap bisa menulis. Itu karena saya sudah berani menulis maka saya dianggap lebih dari komunitas guru yang ada di kecamatan tempat tinggal saya tersebut, karena guru yang lain banyak yang belum ada keberanian untuk menulis. Maka jika kita ingin membudayakan menulis dikalangan guru adalah sangat penting agar guru memiliki percaya diri dan keberanian untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita justru harus memberikan apresiasi positif dan mengacungkan jempol kepada guru yang mau belajar dan bertanya dibanding guru yang lain yang tidak bisa, tapi tidak mau belajar dan bertanya. Banyak guru yang tidak mau belajar menulis dan ketika dituntut untuk bisa menulis maka mereka lebih memilih jalan pintas yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya sebagai seorang guru, seperti membayar seseorang untuk membuatkan tugas makalah, skripsi, penelitian tindakan kelas (PTK) dan karya ilmiah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas mendidik dan mengajar sebagai kegiatan inti seorang guru sangat berkaitan dengan kegiatan menulis. Yang dimaksud dengan proses menulis diatas sebenarnya meliputi tiga aspek, yaitu menulis (handwriting), mengeja, dan mengarang (Sunardi, 1997:3). Aspek menulis dan mengeja sendiri sebenarnya bagi seorang guru bukan hal yang sulit, kalau hanya sekedar menyalin atau menulis tulisan orang lain setiap guru pasti bisa. Tapi mengarang atau menulis ide-ide sendiri agar dapat dibaca orang lain dan menulis karya ilmiah, maka banyak yang memandangnya sebagai sesuatu yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin membudayakan menulis dikalangan guru maka bukan permasalahan yang mudah tapi bukan pula permasalahan yang tidak bisa diselesaikan. Karena hal tersebut berkaitan dengan pandangan dan kebiasaan hidup atau budaya maka pasti ada tantangan dan memerlukan waktu untuk mengubahnya. Disini diperlukan metode dan strategi yang dapat memotivasi guru untuk mau menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat tercapai hal yang demikian maka perlu langkah-langkah khusus. Salah satu diantaranya adalah dengan menerapkan kerangka dan model Quantum Teaching yaitu TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan). Kerangka TANDUR mengajak mereka agar tertarik dan berminat pada kegiatan menulis. Rasa suka terhadap sesuatu merupakan prasyarat untuk keberhasilan dibidang apapun. Demikian halnya dalam menulis (Mary Leonhardt,1998:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka ini juga akan membawa para guru mengalami proses pembelajaran, mau berlatih dan menjadikan menulis sebagai aktifitas rutin dan nyata serta mencapai kesuksesan dalam menulis.&lt;br /&gt;Kerangka perancangan Quantum Teaching yang disebut TANDUR meliputi hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tumbuhkan : Ajak mereka, pikat mereka dan pahamkan manfaat menulis&lt;br /&gt;Alami : Berikan peluang kepada mereka agar memiliki pengalaman langsung dalam kegiatan menulis&lt;br /&gt;Namai : Menjadikan pengalaman menulis sebagai sesuatu yang berarti dan memuaskan kehidupannya&lt;br /&gt;Demonstrasikan : Memberi kesempatan untuk saling mengaitkan pengalaman menulisnya dengan pengalaman lainnya sehingga mereka lebih menghayati kegiatan menulis.&lt;br /&gt;Ulangi : Mengulangi dan merekatkan kegiatan menulis satu dengan lainnya dan menjadi kebiasaan hidupnya&lt;br /&gt;Rayakan : Merayakan dan memberi penghargaan setiap keberhasilan dalam menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka pertama : Tumbuhkan&lt;br /&gt;Inilah yang utama dalam upaya mencetak guru yang mau menulis. Seperti halnya makan, walaupun disuguhkan makanan yang enak dan lezat, kalau tidak ada selera, maka ia tidak akan memakannya. Tapi walaupun hanya makanan yang biasa tapi karena seseorang memiliki selera yang tinggi maka pastilah ia akan melahap makanan tersebut dan akan merasakan enaknya makanan tersebut. Begitu pula menulis jika seseorang guru tidak ada minat untuk menulis maka walaupun banyak manfaat dari menulis baginya maka ia tidak akan mau melakukannya. Sebaliknya walau tidak ada penghargaan atau keuntungan yang bersifat materi seorang guru yang telah memiliki minat terhadap dunia menulis, maka ia akan tetap melakukan kegiatan menulis. Jadi dalam kerangka pertama ini kita harus dapat memahamkan guru manfaat menulis, menumbuhkan minat, membuat mereka mau dan percaya diri untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka kedua : Alami&lt;br /&gt;Setelah guru memiliki minat besar dan percaya diri untuk menulis diperlukan sarana dan media bagi mereka untuk mulai menyalurkan hasrat yang telah dimilikinya. Kita harus dapat menciptakan peluang atau menyediakan sarana yang membuat para guru tanpa ragu-ragu membuat tulisan. Saluran tersebut antara lain berupa pelatihan dan workshop penulisan yang betul-betul memberi kesempatan mereka untuk menulis dengan dipandu oleh penulis yang mereka percaya.&lt;br /&gt;Dalam hal bimbingan ini maka harus diperhatikan bahwa mereka masih membutuhkan dorongan dan masih perlu dipupuk rasa kepercayaan diri bagi mereka untuk menulis. Jadi jangan sampai mereka yang baru mengawali kegiatan menulis menjadi menurun semangatnya karena kritikan yang terlalu tajam.&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan semacam lomba penulisan artikel seperti yang dilakukan Agupena pun dapat menjadi salah satu pilihan agar guru memiliki pengalaman menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka ketiga : Namai&lt;br /&gt;Pengalaman adalah guru yang terbaik dan guru dalam kehidupan. Pengalaman akan menciptakan ikatan emosional dan membuat untuk menjadi sebuah hal yang bermakna (penamaan) yang akan diingat oleh sesorang selama hidupnya. Penamaan akan dapat memuaskan hasrat dan keinginan yang ada pada benak seseorang namun ditengah itu juga akan membuat mereka penasaran, penuh pertanyaan dan ingin terus melanjutkan kepada sesuatu hal tersebut. Pengalaman menulis yang dilakukan guru harus dapat memberikan kepuasan bagi guru tersebut dan menjadikannya terkesan serta menjadikannya semakin berhasrat untuk menulis. Jika sudah puas dan terkesan serta merasakan sendiri manfaat dari menulis, pasti mereka akan melanjutkan terus kegiatan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka keempat : Demonstrasikan&lt;br /&gt;Bagaimana mengajak guru agar mau mengaitkan kegiatan menulisnya dengan kegiatan lainnya. Guru harus dapat merasakan hubungan kegiatan menulis dengan profesi dan bidang kehidupan lainnya. Disini dapat diarahkan agar seorang guru menulis sesuatu yang sesuai dengan bidang yang digelutinya. Dengan demikian akan lebih dapat merasakan hubungan menulis dan profesinya selaku guru atau bidang lain yang memang sangat berkaitan dengan kehidupannya. Hal yang lain yang dapat diupayakan adalah dengan menampilkan karyanya dihadapan siswa dan rekan gurunya atau orang-orang yang dikenalnya. Disini diperlukan pula media yang dapat menerbitkan karya seorang guru agar dapat diketahui orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka kelima : Ulangi&lt;br /&gt;Pengulangan akan dapat memperkuat koneksi saraf otak terhadap sesuatu hal. Cara terbaik agar guru jatuh kepada kegiatan menulis adalah memperbanyak kesempatan kepada guru agar mau dan terus melanjutkan kegiatan menulis. Semakin sering menulis maka guru akan semakin mahir dan mencintai dunia menulis. Pepatah Jawa mengataka “Witing tresno jalaran soko kulino”. Ketika sudah menjadi kebiasaan untuk menulis, hal yang diperlukan adalah agar guru penulis dapat mengatur atau membagi waktu yang tepat untuk menulis tanpa menelantarkan tugasnya sebagai pendidik dan aktifitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka keenam : Rayakan&lt;br /&gt;Kita harus menghargai setiap usaha yang dilakukan oleh guru untuk menulis. Jika sesuatu layak dipelajari, maka layak pula untuk dirayakan (Prinsip Quantum Teaching). Apa yang dilakukan oleh Agupena Jawa Tengah yang akan memberikan hadiah bagi pemenang lomba penulisan artikel dan memberikan piagam bagi setiap peserta yang mengikuti lomba merupakan contohnya. Bagaimanapun orang ingin dihargai dan kalau mengikuti lomba tentunya ingin mendapat juara. Semakin banyak juara akan semakin memacu untuk berkembang dalam penulisan. Jadi alangkah lebih baiknya jika memperbanyak mungkin juara, misalnya sampai juara harapan 1, 2, 3 atau kategori lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan harus kita berikan kepada guru yang telah mau dan mampu menghasilkan karya tulis. Penghargaan tersebut tidak harus berupa materi. Bahkan penghargaan berupa ucapan atau pujian akan lebih berkesan dan akan mampu membangkitkan semangat seseorang untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Maka jangan ragu untuk memberikan ucapan selamat kepada guru yang telah berhasil membuat sebuah tulisan apalagi mendapatkan juara. Hindari mengkritisi tulisan terutama kepada penulis pemula, kecuali penulis sendiri yang meminta saran dan kritik atau perbaikan dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi permasalahan utama dalam membudayakan menulis dikalangan guru adalah belum adanya keinginan dan tertarik dengan dunia menulis. Maka kita harus dapat menanamkan pentingnya menulis bagi guru. Dalam quantum teaching, kita biasa mengenal sebagai AMBAK (apa manfaatnya bagiku). Kita harus bisa memahamkan para guru bahwa dengan menulis maka mereka mendapatkan manfaat yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat menulis bagi guru adalah :&lt;br /&gt;1. Dapat menuangkan pikiran, ide dan gagasannya.&lt;br /&gt;Seorang guru pasti memiliki pemikiran, gagasan dan ide baik terkait langsung dengan profesinya ataupun hal yang lebih umum. Dengan menulislah pemikiran dan gagasannya akan dapat diketahui oleh orang lain secara lebih luas. Dengan menuangkan ide dan pemikirannya merupakan cara agar sehat dan terhindar dari stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjadi guru yang profesional dan teladan.&lt;br /&gt;Dengan tulisan yang dibuatnya maka seorang guru akan dikenal sebagai guru yang layak, teladan dan profesional. Dalam lomba guru teladan pun biasanya akan dituntut bagi guru untuk memiliki karya tulis yang memiliki point besar dalam penilaian. Dengan keprofesionalan dan keteladanan yang dimilikinya maka ia akan lebih dihargai sebagai seorang guru baik dilingkungan tempat ia bekerja ataupun dimasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akan lebih menguasai materi&lt;br /&gt;Apabila kita mau menulis materi yang akan kita sampaikan, otomatis akan menjadikan kita lebih menguasai materi bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarnya saja. Dengan penguasaan materi yang lebih baik maka kita kan lebih percaya diri untuk tampil dihadapan siswa didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memiliki kredit point tinggi dalam sertifikasi guru&lt;br /&gt;Dalam sertifikasi guru ada kompetensi yang menuntut seorang guru untuk memiliki karya tulis. Karya tulis tersebut dapat berupa modul, penelitian tindakan kelas (PTK), buku ajar dan karya tulis lainnya. Jika seorang guru mau dan terbiasa menulis maka ketika saatnya untuk sertifikasi jabatannya selaku guru maka sudah tidak perlu lagi mencari atau minta dibuatkan karya tulis dengan membayar kepada orang lain.&lt;br /&gt;5. Tidak ada kendala untuk naik pangkat&lt;br /&gt;Banyak guru yang mengalami kendala untuk naik pangkat dari golongan IVa ke IVb karena untuk kenaikan pangkatnya harus memiliki karya tulis sejumlah 12 point. Sehingga mau jika seorang guru sudah memiliki banyak karya tulis akan memperlancar kenaikan pangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mendapatkan honor yang tidak sedikit&lt;br /&gt;Orang yang mau menulis dan bisa diterbitkan oleh sebuah penerbit maka ia akan mendapatkan honor. Bila seorang dapat menulis sebuah buku maka ia akan mendapatkan royalty dari setiap buku yang diterbitkan. Bila seorang guru dapat menulis sebuah buku ajar dapat juga dibeli oleh penerbit atau pemerintah dengan harga yang bisa mencapat ratusan juta rupiah satu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Membentuk Guru Penulis&lt;br /&gt;Karena permasalah utama ada pada kemauan, maka kita harus benar-benar mampu mengubah pandangan mereka. Tentunya untuk mengubah pandangan bukan perkara mudah, diperlukan strategi agar dapat menyentuh hati guru dan harus disesuaikan pula dengan waktu dan kondisi yang tepat untuk menyampaikan pentingnya menulis dan menggugah guru untuk menulis. Untuk itu diperlukan forum yang memberikan kesempatan agar dapat memotivasi guru untuk mau menulis yang dapat dilakukan melalui seminar, diskusi dan pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum tersebut dapat pula berupa organisasi profesi guru atau organisasi lain tapi memberi kesempatan untuk guru memberikan pertanyaan secara terbuka termasuk berkonsultasi tentang dunia penulisan. Dalam seminar, diskusi atau pelatihan yang diselenggarakan juga perlu didesain sedemikian rupa agar guru dapat tergugah dan tertarik terhadap kegiatan menulis. Untuk mengetahui manfaat menulis maka dapat pula menghadirkan penulis yang disamping memberikan materi juga bercerita tentang pengalaman dan manfaat menulis yang telah didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya untuk menumbuhkan minat dan mengembangkan wawasan maka kita juga harus dapat menumbuhkan semangat belajar dan membaca dikalangan guru. Diantaranya melalui forum diskusi atau bedah buku. Perlu diberi pengertian bahwa guru harus menjadi pribadi yang dinamis dan berkembang. Ia harus terus mau belajar dan belajar. Belajar yang tiada mengenal akhir, menyadari bahwa menuntut ilmu adalah dari buaian sampai liang lahat, menyadari pula bahwa guru bukan pribadi yang sempurna, dan jangan takut untuk mencoba dan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kesalahan bukan hal yang memalukan tapi tidak berani mencoba itulah yang menghalangi untuk mencapai keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar, membaca dan menulis merupakan rangkaian yang saling berkaitan dan mendukung. Membaca dan menulis tak pelak lagi, saling berkaitan. Anak-anak yang gemar membaca akan memperoleh rasa kebahasaan tertulis yang kemudian akan mengalir kedalam tulisan mereka (Mary Leonhardt, 1998). Seorang yang memiliki semangat untuk belajar maka akan memiliki minat untuk membaca. Melalui membaca itulah seseorang akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Dengan ilmu dan pengetahuan yang ada pada dirinya maka akan dapat menjadi modal dan pendorongnya untuk mau menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tuntutan jaman dan kemajuan teknologi dimana ilmu pengetahuan berfungsi untuk mempermudah kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah mempermudah seseorang untuk menulis. Maka bila kita ingin para guru menjadi penulis maka kita juga harus mengajaknya mengikuti perkembangan yang ada terutama yang akan membantunya untuk menjadi penulis. Penulis sekarang akan ketinggalan dan repot jika hanya bisa menulis dengan tulisan tangan atau mesin ketik. Kemajuan teknologi yang akan mempermudah dalam kegiatan menulis adalah kemampuan ketrampilan komputer dan mengakses internet. Dengan komputer maka mudah menulis dengan bermacam-macam variasi tulisan, mudah menghapus, mengedit dan menyimpan tulisan yang tidak bisa atau sulit bila dilakukan hanya dengan tulisan tangan atau mesin ketik. Dengan bisa mengakses internet maka seseorang akan dengan mudah mendapatkan pengetahuan yang diinginkan dan akan memotivasinya serta menjadi bahan untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya masih banyak guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer dan mengakses internet. Hal yang demikian tentunya akan menjadi kendala, oleh karenanya salah satu upaya untuk menumbuhkan minat menulis dikalangan guru adalah dengan menghilangkan kendala teknis berupa ketidakmampuan menggunakan komputer dan mengakses internet. Untuk itu terlebih dahulu kita harus mendorong dan melatih guru yang belum bisa menggunakan komputer dan mengakses internet agar mau belajar dan berlatih komputer dan mengakses internet. Kita bisa menyelenggarakan pelatihan komputer dan internet khusus guru. Lebih lanjut kita dapat menyelenggarakan pelatihan membuat blog bagi guru. Blog merupakan salah satu sarana bagi guru untuk melatih dan mengembangkan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi terbesar adalah motivasi yang ada pada diri sendiri yang didasari pada keinginannya untuk melakukan kebaikan yang merupakan jalan ibadah mengharap balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa berupa pahala yang tidak bisa diukur dengan harta dan materi yang bersifat keduniaan.&lt;br /&gt;Kita bisa mencontoh generasi sahabat, tabi’in dan ulama terdahulu yang banyak menghasilkan karya tulis yang luar biasa yang dapat dimanfaatkan hingga sekarang walau fasilitasnya terbatas. Mereka menulis lembar demi lembar hingga menjadi sebuah kitab yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya. Mereka melakukannya bukan karena ada royalty atau bonus dari karyanya tersebut tapi karena mereka ingin memberikan ilmu kepada masyarakat atau karena panggilan dakwah untuk mengubah masyarakat kearah kehidupan yang lebih baik sesuai dengan misi yang diembannya. Hal tersebut juga dilakukan karena didorong adanya pahala bagi orang yang memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. Jadi salah satu yang bisa menjadi penyemangat bagi seseorang untuk menulis adalah melalui pendekatan keagamaan terutama kepada guru yang juga berperan sebagai juru dakwah kita bisa mengetuk hati mereka bahwa dengan menulis adalah cara untuk mengeluarkan ide dan gagasan kita agar diketahui oleh orang lain. Dengan menulis maka orang lain dapat mengetahui pesan seorang guru atau juru dakwah. Jadi menulis merupakan sarana dakwah yang cukup efektif untuk mengajak orang kejalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah strategi untuk menumbuhkan minat dan kemauan bagi guru untuk menulis dan membudayakan menulis dikalangan guru. Tentunya diperlukan kesabaran dan kerja keras kita bersama yang peduli dengan dunia pendidikan. Yakinlah tidak ada suatu usaha yang sia-sia, Alloh tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Mari kita berjuang terus memajukan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ditulis untuk Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan oleh Agupena Jateng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3202119779187439180?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3202119779187439180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3202119779187439180' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3202119779187439180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3202119779187439180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/08/kerangka-quantum-teaching-dalam.html' title='Kerangka Quantum Teaching Dalam  Membudayakan  Menulis di Kalangan Guru'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SnmAvizvmyI/AAAAAAAAAoc/lrP0hd-ldIY/s72-c/sis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-886619460916818451</id><published>2009-07-24T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T01:55:21.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah Pendidikan'/><title type='text'>Sekolah, Paulo Freire, dan Pendidikan Alternatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sml0fubq5EI/AAAAAAAAAoU/A2w19aCN8mw/s1600-h/sawali.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sml0fubq5EI/AAAAAAAAAoU/A2w19aCN8mw/s320/sawali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361944919750140994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Drs. Sawali, M.Pd&lt;br /&gt;(Wakil Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, Anggota ISPI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama dunia pendidikan formal (sekolah) kita dikritik sebagai tempat yang kurang nyaman bagi siswa didik dalam mengeksplorasi dan menumbuhkembangkan jatidiri. Sekolah tak ubahnya kerangkeng penjara yang menindas para murid. Mereka harus menjadi sosok yang serba penurut, patuh, dan taat pada komando. Imbasnya, mereka menjadi sosok mekanis yang kehilangan sikap kreatif dan mandiri. Mereka belum terbebas sepenuhnya dari suasana keterpasungan dan penindasan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mencemaskan, dunia persekolahan kita dinilai hanya menjadi milik anak-anak orang kaya. Usai menuntut ilmu, mereka menjadi penindas-penindas baru sebagai efek domino dari proses dan sistem yang selama ini mereka dapatkan di sekolah. Sungguh sangat beralasan jika banyak pengamat pendidikan yang menilai bahwa dunia persekolahan kita selama ini hanya melahirkan kaum penindas. Sementara itu, anak-anak dari kalangan masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki akses terhadap dunia pendidikan hanya akan menjadi kacung dan kaum tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi keterpasungan dan ketertindasan yang berlangsung dalam dunia pendidikan kita, disadari atau tidak, telah menimbulkan resistensi dari para penggiat sosial. Mereka banyak merintis berdirinya pendidikan alternatif yang berupaya membebaskan peserta didik dari situasi keterpasungan dan penindasan. Kalau dalam dunia persekolahan kita identik dengan penyeragaman dan indoktrinasi, pendidikan alternatif mencoba memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pelajaran yang disukai atau memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan minat dan hobi mereka masing-masing, bebas upacara, bahkan bebas ujian. Tempat belajar pun tak selalu berada di sebuah gedung yang mentereng atau laboratorium ber-AC, tetapi bisa berlangsung di bawah jembatan, tepian rel kereta api, atau di gubug-gubug kardus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, maraknya pendidikan alternatif semacam itu terilhami oleh ide-ide cemerlang dari Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brasil. Ia dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat kontroversial lantaran keberaniannya menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil. Sistem pendidikan yang ada dianggap sama sekali tidak berpihak pada rakyat miskin, tetapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa. Karena hanya menguntungkan penguasa, menurut Freire, pendidikan yang hanya melahirkan kaum penindas semacam itu harus dihapuskan dan digantikan dengan sistem pendidikan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tentang Paulo Freire&lt;br /&gt;Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, Timur Laut Brasilia. Masa kanak-kanaknya dilalui dalam situasi penindasan karena orang tuanya yang kelas menengah jatuh miskin pada tahun 1929. Setamat sekolah menengah, Freire kemudian belajar Hukum, Filsafat, dan Psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil kuliah, ia bekerja “part time” sebagai instuktur bahasa Potugis di sekolah menengah. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1959, lalu diangkat menjadi profesor. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia menerapkan sistem pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Sistem pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya pada penyadaran siswa didik menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa. Oleh karena itu, ia dipenjarakan pada tahun 1964, kemudian diasingkan ke Chile. Pengasingan itu, walaupun mencabut ia dari akar budayanya yang menimbulkan ketegangan, tidak membuat idenya yang membebaskan “dipenjarakan”, tetapi sebaliknya ide itu semakin menyebar ke seluruh dunia. Ia mengajar di Universitas Havard, USA pada tahun 1969-1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Paulo Freire tentang pendidikan alternatif lahir dari suatu pergumulan dalam konteks nyata yang ia hadapi dan sekaligus merupakan refleksi terhadap filsafat pendidikan yang berporos pada pemahaman tentang manusia. Masyarakat feodal (hirarkis) merupakan struktur masyarakat yang umum berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, sehingga menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya, putaran waktu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton dan membosankan, sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum disadari sepenuhnya. Dalam kebudayaan bisu semacam itu, kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguasai realitas hidup, termasuk menyadari kebisuan itu, bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan yang membuat siswa didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk membuat mereka mampu mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar, termasuk suara sang pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi semacam itu, Freire terpanggil untuk membebaskan masyarakatnya yang tertindas dan yang telah “dibisukan”. Pendidikan “gaya bank” dilihatnya sebagai salah satu sumber yang mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Disebut pendidikan gaya bank, sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada siswa didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan, yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Siswa didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya siswa didik itu sendiri yang “disimpan” karena miskinnya daya cipta. Pendidikan gaya bank dinilai hanya menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghapuskan pendidikan gaya bank, Freire menawarkan pendidikan alternatif melalui sistem pendidikan hadap-masalah. Dalam proses pendidikan semacam ini, kontradiksi guru-murid (guru menjadi sumber segala pengetahuan, sedangkan murid menjadi orang yang tidak tahu apa-apa) tidak ada. Siswa didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai objek yang harus diajar dan menerima. Demikian pula sebaliknya, guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi. Guru dan siswa didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan. Sementara itu, siswa didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut. Materi dalam proses pendidikan pun tidak diambil dari sejumlah rumusan baku atau dalil dalam buku paket, tetapi sejumlah permasalahan yang diangkat dari kenyataan hidup yang dialami oleh siswa didik dalam konteksnya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quovadis Dunia Pendidikan Kita?&lt;br /&gt;Lantas, adakah relevansi antara pendidikan alternatif ala Freire dan dunia pendidikan (formal) kita? Dari setting sosial dan kultural, struktur masyarakat kita memang berbeda dengan kondisi masyarakat Brasil. Namun, berdasarkan struktur hierarkis masyarakat kita yang cenderung bergaya feodal, agaknya pendidikan alternatif ala Freire bisa dijadikan sebagai bahan analogi dan refleksi terhadap dunia pendidikan kita yang dinilai belum mampu membebaskan siswa didik dari keterpasungan dan ketertindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, pemegang kendali dalam feodalisme modern adalah kelompok pedagang/pengusaha yang menguasai ekonomi lebih dari setengah kekayaan yang ada. Kelompok tersebut mengakumulasikan kekayaan kurang lebih 80% kekayaan Indonesia, padahal jumlah mereka tidak lebih dari 20 % dari jumlah penduduk. Kedua kelompok “penindas” tersebut semakin memperkokoh kekuasaannya sebab secara praktik hanya mereka yang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi yang sangat mahal dan terpola dalam sistem kekuasaan itu. Generasi itulah yang kemudian menjadi pewaris “tahta penindasan”. Kalau ada dari kelompok rakyat kecil yang mampu mengecap pendidikan tinggi, ia akan berubah menjadi pemegang kendali feodalisme baru, baik dalam rangka balas dendam maupun dalam “penindasan” terhadap sesama kaum “tertindas”. Salah satu kritikan Freire adalah pendidikan yang berupaya membebaskan kaum tertindas untuk menjadi penindas baru. Bagi Freire pembebasan kaum tertindas tidak dimaksudkan supaya ia bangkit menjadi penindas yang baru, tetapi supaya sekaligus membebaskan para penindas dari ketertindasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan Freire agaknya masih cukup relevan jika kita kaitkan dengan fenomena korupsi yang dinilai sudah menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat kita. Korupsi dengan berbagai bentuknya merupakan manifestasi dari imbas proses pendidikan kita yang dianggap belum sanggup membebaskan dan mencerahkan siswa didik dari perilaku yang kerdil dan cacat moral. Mereka ingin menjadi neo-borjuis, neo-feodal, atau penindas-penindas baru secara instan melalui praktik korupsi sebagai upaya untuk mengembalikan modal sebagai dampak mahalnya biaya pendidikan. Quovadis dunia pendidikan (formal) kita kalau hanya melahirkan borjuis dan penindas-penindas baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salahkan pendidikan alternatif kalau dunia pendidikan (formal) kita gagal menyediakan tempat yang nyaman bagi masyarakat miskin untuk menimba ilmu. Jangan ratapi pula maraknya koruptor yang masih terus bebas melenggang mengemplang harta negara kalau tak ada perubahan mendasar dalam desain dan sistem pendidikan kita. Juga, jangan tangisi puluhan sarjana gadungan yang harus menggadaikan harkat dan martabat kemanusiaannya dengan membeli ijazah palsu kalau struktur masyarakat kita masih memberhalakan feodalisme dan borjuisme! ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-886619460916818451?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/886619460916818451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=886619460916818451' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/886619460916818451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/886619460916818451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/07/sekolah-paulo-freire-dan-pendidikan.html' title='Sekolah, Paulo Freire, dan Pendidikan Alternatif'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sml0fubq5EI/AAAAAAAAAoU/A2w19aCN8mw/s72-c/sawali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1897387349644593966</id><published>2009-06-05T06:23:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T01:57:01.538-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Menjadi Kepala Sekolah Baru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sikf2D2SQNI/AAAAAAAAAnw/9H25Ba2fNr8/s1600-h/cengkareng%282%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sikf2D2SQNI/AAAAAAAAAnw/9H25Ba2fNr8/s200/cengkareng%282%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343837446458196178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh : ZULKARNAEN SYRI LOKESYWARA&lt;br /&gt;(Pengurus Agupena Jawa Tengah, Anggota ISPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kesempatan itu datang. Setelah berpuluh tahun. Menjadi kepala sekolah! Tim seleksi sekolah merekomendasikan aku dan salah satu teman untuk mengikuti seleksi kepala sekolah SMA yang lowong karena berbagai hal. Ada yang pensiun, telah menjabat dua periode, dan ada pula yang lowong karena kepala sekolah lama meninggal dunia. Pernah aku sangat berharap ada kepala sekolah yang mengundurkan diri karena merasa gagal dalam tugas, namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkas-berkas persyaratan seleksi aku siapkan semuanya. Piagam-piagam penghargaan dari berbagai kejuaraan menulis, piagam penataran, surat keterangan dari banyak lembaga tentang keaktifanku dalam kegiatan sosial budaya di masyarakat, dan surat rekomendasi dari LSM yang bergerak di bidang pendidikan tersusun rapi dalam map yang, astaga…!, harus sewarna dengan warna khas parpol kendaraan Bupati baru menuju kursi kekuasaannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman satu sekolah mendoakan kami berdua setelah acara briefing oleh Kepala Sekolah selesai. Bu Dana, yang mengikuti seleksi kepala sekolah tahun lalu tetapi gagal, menghampiriku ketika pembacaan doa usai. Sambil menyalami tanganku, beliau bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah siap lahir batin Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes! Semua syarat yang berhubungan dengan administrasi ada dalam map ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan ada dalam otak saya. Bahkan UU Nomor 20 Tahun 2003 hampir hapal aku Bu!”, jawabku mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oalah Pak…, nggak cukup syarat itu. Bapak harus menyediakan juga dana segar agar terpilih menjadi salah satu kepala sekolah. Tanpa duit di tangan…, Bapak hanya buang-buang waktu dan tenaga Pak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar Bu…? Ini Bupati baru Bu. Ingat kan waktu kampanye dia bilang apa? Beliau berjanji akan menumpas korupsi dan praktik suap-menyuap. Jangan-jangan itu hanya alasan Bu Dana karena kemarin nggak lolos seleksi?”, candaku pada Bu Dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak wajah Bu Dana berubah serius. Aku khawatir Bu Dana tersinggung dengan gurauanku. Dengan suara setengah berbisik, Bu Dana berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun kemarin Pak, mereka yang lolos menjadi kepala sekolah harus setor ke Bupati antara 70 juta sampai 100 juta rupiah tergantung posisi dan besar kecilnya sekolah. Jadi kalau Pak…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar Bu…,” aku potong perkataan Bu Dana, “apa Bupati yang kaya tega minta uang dari para calon kepala seperti saya ini Bu? Terus apa ada bukti kalau mereka harus setor puluhan juta itu Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Kun ini kura-kura dalam perahu, semua orang juga tahu untuk jadi Bupati beliau harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Mengenai uang setoran memang sulit Pak dibuktikan. Beliau itu kan orang pintar, pasti tidak mau memberi kuitansi setoran tidak sah tersebut. Bunuh diri namanya kalau sampai mau memberi kuitansi. Saya tahu dari pengakuan salah satu calon yang sekarang telah menjabat Kepala Sekolah di SMA ndesa lereng gunung sana. Katanya sih, setoran dia paling kecil di antara calon lainnya, sehingga dia dibuang di sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kok tidak yakin Bu dengan semua itu. Saya yakin itu issue yang dihembuskan oleh …, maaf ya Bu bukan berarti saya nuduh Bu Dana….., dihembuskan oleh para kandidat yang tidak lolos seleksi. Untuk menutup kelemahannya gitu lho Bu!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Soal-soal seleksi kulahap dengan cepat. Maklum hanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah popular selama ini. Begitu pula soal-soal teknis manajemen pengelolaan sekolah. Lancar abis…, kata anak-anak muda sekarang. Tidak ada satu pun soal terlewatkan tanpa jawaban. Makalah yang aku buat juga mendapat pujian dari para penguji ketika presentasi berlangsung, sehingga tidak mengherankan kalau nilaiku tertinggi di antara 22 kandidat kepala sekolah SMA tahun ini. Bayangan kursi kepala sekolah favorit berkelebat di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari kemudian, wawancara sebagai seleksi terakhir dilaksanakan. Rumor yang beredar, tahapan inilah yang rawan suap-menyuap selain pertemuan-pertemuan informal antara kandidat dengan decision maker, karena tidak terpantau oleh kandidat lainnya. Masa bodoh dengan segala macam rumor. Aku yakin profesionalitas ada di atas semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tes wawancara, sejumlah gagasan baru dalam penyelenggaraan pendidikan coba aku tawarkan. Demokratisasi dalam pendidikan menjadi prioritas programku. Siswa mempunyai hak untuk menentukan kebijakan sekolah melalui pembentukan Dewan Siswa. Dewan Siswa, dalam paparanku di depan penguji, berhak mengkritisi kebijakan sekolah yang dianggap merugikan siswa, seperti pembelian seragam sekolah, penyeragaman buku pegangan, dan kenaikan SPP atau apapun namanya. Bukan kebijakan populer memang, tapi aku yakin akan sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas bangsa ini. “Itulah sumbangan saya pada dunia pendidikan di kota ini”, jawabku mantap mengomentari pertanyaan terakhir dari penguji.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pengumuman seleksi ternyata mundur untuk yang ke dua kalinya hari ini. Lagi-lagi rumor yang beredar adalah memberi kesempatan kepada para kandidat untuk menaikkan besarnya uang setoran kepada ‘Juragan’. Aku tetap kukuh dengan sikap awalku. Profesionalitas tetap aku junjung tinggi-tinggi, dan terbukti tiga hari kemudian. Aku merupakan salah satu dari tujuh orang yang akan mengisi lima lowongan kepala sekolah di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Dana menjadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Sambil menggenggam tanganku dengan erat, Bu Dana berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda beruntung Pak, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, Pak Kun lolos seleksi tahap-tahap akhir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Bu. Benar kan kata saya, profesionalitas ada di atas segala rumor yang berkembang? Ini sudah final Bu. Tinggal me…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum Pak…,” potong Bu Dana cepat, “tahap ini rawan sekali dengan suap-menyuap. Kalau Anda tidak mau memberikan uang setoran, jangan harap dilantik! Bapak cuma dijadikan bemper oleh Bupati. Kalau ada kandidat lain atau wartawan yang mencurigai ada suap dalam proses ini, saya yakin Bapak akan mengatakan bahwa tidak ada, karena Bapak memang tidak setor. Periode kemarin juga begitu, yang nggak mau setor ya cadangan melulu Pak! Mau setor berapa Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai kapan pun saya tidak akan mau melakukan suap seperti itu. Tunggu saja tanggal mainnya. Bu Dana akan jadi orang pertama yang saya kabari saat pelantikan nanti. Percaya deh Bu!”, kataku mantap.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor butut kesayangan sudah kucuci bersih kemarin. Kubeli dari orang tua murid dari tabungan hasil tulisan di koran-koran lokal ditambah hadiah dari lomba menulis. Ini hari pertamaku masuk ke sekolah baru, sebagai Kepala Sekolah! Berbagai skenario sudah kurancang sampai detail, termasuk sambutanku pada upacara perkenalan nanti di lapangan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenang aku mengatur letak mikropon yang terlalu tinggi bagi tubuhku yang kecil setelah protokol mempersilakan Pembina Upacara menyampaikan amanat. Kumulai dengan perkenalan singkat untuk selanjutnya memperkenalkan program Kepala Sekolah baru, Demokratisasi Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Ibu Guru dan Karyawan yang saya hormati, anak-anak yang mudah-mudahan bisa saya banggakan, tanpa demokratisasi pendidikan, pendidikan di negeri ini hanya akan menghasilkan generasi penurut yang tidak punya inisiatif. Generasi bebek! Yang depan belok kanan, bebek di belakang pun belok kanan. Kita ingin bangsa ini punya karakter! Kita semua ingin generasi bangsa ini menjadi generasi jujur, berani berbeda pendapat, antisuap, bertanggung-jawab atas apa yang telah diperbuat. Pendidikan dilaksanakan untuk memerdekakan pikiran. Pendidikan bukan dimaksudkan untuk membuka peluang baru bagi penindasan manusia atas manusia, penindasan siswa oleh guru, ataupun penindasan kepala sekolah kepada guru dan para siswa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa bertepuk tangan sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Aku semakin bergairah melanjutkan pidatoku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian boleh mengkritisi kebijakan sekolah yang kalian anggap merugikan! Lengserkan saya kalau menyalahgunakan keuangan sekolah. Uang itu penting, tapi bagi saya dan mudah-mudahan kita semua, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memperoleh uang tersebut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan jantungku berdegup lebih kencang didorong keinginanku memuntahkan segala unek-unek di dalam hati. Peluh keluar dari seluruh pori-pori tubuhku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuklah Dewan Siswa! Saya berjanji akan melibatkan dewan ini dalam mengambil kebijakan-kebijakan sekolah. Dewan Murid akan mempunyai kedudukan setara dengan Dewan Guru. Setuju…? Buku pegangan pelajaran tidak harus sama. Setuju…? Seragam tidak harus beli di sekolah. Setuju…? Piknik atau apapun namanya tidak wajib ikut. Setuju…? Memb..…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai aku memuntahkan semua masalah pendidikan yang mengganggu pikiranku, seseorang mencoba maju merebut mikropon dan mencegahku melanjutkan pidatoku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, eling Pak. Bangun! Siang hari gini kok mengigau ‘setuja-setuju’. Istighfar Pak, tidak jadi kepala sekolah nggak apa-apa. Saya kan tidak pernah nuntut Bapak harus jadi kepala sekolah”, kata istri menyadarkan aku dari mimpi di siang yang panas ini.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1897387349644593966?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1897387349644593966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1897387349644593966' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1897387349644593966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1897387349644593966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/06/menjadi-kepala-sekolah-baru.html' title='Menjadi Kepala Sekolah Baru'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sikf2D2SQNI/AAAAAAAAAnw/9H25Ba2fNr8/s72-c/cengkareng%282%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3506464804393485655</id><published>2009-05-25T07:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T01:49:55.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Gank Remaja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Shqlg12kSJI/AAAAAAAAAno/BE8d2QuwUnY/s1600-h/yuki-kato-kecil-kecil-nikah-siri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Shqlg12kSJI/AAAAAAAAAno/BE8d2QuwUnY/s200/yuki-kato-kecil-kecil-nikah-siri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339762291831490706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Sri Mulyati, guru bimbingan konseling MTs Nurul Huda Semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR-AKHIR ini, banyak pihak menyoroti kehidupan remaja berkait dengan keberadaan gank yang meresahkan masyarakat. Sebab, mereka minum minuman keras, tawuran, menganiaya, dan mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gank remaja ada sejak dulu. Normal bagi remaja membentuk perkumpulan atau gank karena mereka suka berkumpul dengan teman sebaya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak masalah jika kegiatan mereka positif dan bisa menambah pengalaman anggota. Namun, bagaimana jika kegiatan itu negatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, keberanian anggota Gank Cokor, Gank Nero, atau Gank Kacau bertindak kriminal dan melakukan kekerasan merupakan ekspresi sifat dasar remaja. Mereka ingin menunjukkan eksistensi di muka umum. Ketika keinginan menonjolkan diri di hadapan teman sebaya tak dibentengi pendidikan moral dan religius yang kuat, mereka tergoda berbuat menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengalaman saya selama ini ketika menangani para siswa bermasalah. Banyak di antara mereka yang mengaku bertindak nakal dan menyimpang, misalnya memukul teman dan mencuri, ternyata tak memiliki landasan moral dan agama yang kuat. Akibatnya, mereka langsung mengikuti perbuatan teman, tanpa berpikir tentang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangani anak-anak bermasalah itu butuh beberapa cara. Pertama, penyuluhan dan pendampingan yang serius dan konsisten. Butuh guru bimbingan konseling (BK) yang sabar dan telaten sehingga konsisten memberikan konseling pada anak didik. Jadi mereka bisa mengikuti saran sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menghilangkan hukuman fisik di sekolah. Anak didik yang melanggar diberi konseling persuasif oleh guru BK.  Dengan konsekuensi, guru BK di sekolah harus ditambah untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu banyak anak didik bermasalah.&lt;br /&gt;Itu sebetulnya salah satu upaya pula untuk memperkuat keberadaan guru BK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, guru BK selama ini berkesan jadi pelengkap di sekolah. Padahal sejatinya keberadaan guru BK sangat penting untuk membentuk moralitas yang kuat pada diri anak didik. Dengan harapan, anak didik tak terpengaruh teman yang berbuat menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk mengatasi agar tak ada lagi gank yang berbuat anarkis, perlu lingkungan keluarga yang bersahabat dengan anak. Terutama, pada anak yang sedang pada masa remaja (11-19 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua perlu mengakomodasi keinginan anak, asal positif. Jika anak nakal, lebih baik dibimbing dan diberi nasihat yang baik dan halus. Tanpa menghukum secara fisik atau memarahi. (53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber; Suara Merdeka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3506464804393485655?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3506464804393485655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3506464804393485655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3506464804393485655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3506464804393485655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/gank-remaja.html' title='Gank Remaja'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Shqlg12kSJI/AAAAAAAAAno/BE8d2QuwUnY/s72-c/yuki-kato-kecil-kecil-nikah-siri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-5919512752019381642</id><published>2009-05-22T01:04:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T01:20:56.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Siswandi, Bukan Guru Biasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShZeAKDs2II/AAAAAAAAAng/NTjmByHvm0k/s1600-h/photo_5-240x300.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShZeAKDs2II/AAAAAAAAAng/NTjmByHvm0k/s200/photo_5-240x300.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338557765087189122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: DENI KURNIAWAN AS'ARI&lt;br /&gt;(Ketua Umum Agupena Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah ini, merupakan salah satu Pembina Agupena Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa yang sepi, pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang amat kecil dan kurus sehingga sering dijuluki seekor kucing kecil. Anak kedua dari delapan bersaudara (empat orang meninggal dunia) ini memiliki semangat kepenulisan yang luar biasa dan perlu ditiru oleh segenap keluarga besar Agupena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Siswandi mulai belajar menulis artikel saat beliau sudah masuk semester dua di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Muhammadiyah Purwokerto. Awal konsep ditulis tangan, setelah itu diketik di balai desa Kaliori atau meminjam mesin ketik milik SD Kaliori 1. Biasanya beliau mengetik pada hari Sabtu sore sampai Minggu siang. Konon, mengetik naskah selembar saja harus menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah naskahnya selesai, kemudian beliau kirimkan ke Redaksi SKM Jakarta dengan perangko biasa sebesar Rp 50,00 kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturannya, “ Entah berapa puluh naskah yang dikirimkan ke Redaksi Suara Karya Minggu (SKM), namun tak pernah terpampang tulisannya , di setiap edisi terbaru.”   Beliau juga rajin menulis puisi, artikel remaja dan gambar vignette, tetapi berbulan-bulan tetap tak ada satu pun tulisannya yang dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan tersebut, teman dekat sekolahnya, Bambang sempat berujar” Buat apa kirim tulisan terus kalau tidak dimuat. Sudah payah, pusing, uang untuk beli perangko melayang sia-sia. Untuk beli bakso jelas ada gunanya.”  Mendengar kata-kata temannya itu, Siswandi sungguh merasa sedih dan sakit. Beliau katakan, “ Seperti ditusuk ribuan jarum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan Siswandi namanya kalau harus patah semangat. Dia terus menulis dan menulis sampai akhir kelas 3 SPG. Namun rupanya dewi portuna masih belum mau menghampirinya, sehingga sampai kelas 3 SPG itu tidak ada satu pun naskah yang dimuat. Sekali lagi beliau tidak putus asa dan sempat terhibur ketika mendapat informasi melalui kontak pembaca SKM bahwa setiap minggunya ada sebelas ribu naskah yang masuk ke redaksi SKM dan berarti  banyak teman lainnya yang ditolak dan  memiliki nasib yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Siswandi banting setir, karena gagal terus di SKM, memilih untuk berlatih mengarang menggunakan bahasa Jawa. Beliau menulis dongeng untuk koran berbahasa Jawa, namanya Parikesit yang diterbitkan di Solo. Rupanya dari sini debut kepenulisan Siswandi dimulai, ketika naskah dongengnya dimuat dalam satu halaman penuh. Betapa bahagianya Siswandi kala itu dan mendapat honor sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah) yang setara dengan harga bakso lima mangkuk. Dia pun mendapat uacapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan pertama ternyata menjadi pendorong Siswandi untuk terus menulis. Selanjutnya beliau menulis lagi beberapa dongeng yang dikirim ke Majalah Jawa Penyebar, hasilnya naskahnya kembali dimuat dan selanjutnya setiap naskah yang dikirim ke Parikesit pun hampir setiap minggu dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debut Kepenulisan&lt;br /&gt;Bakat dan kemampuan kepenulisan Siswandi terus diasah, termasuk ketika pertama kali mendapat tugas sebagai guru SD di tempat terpencil, tepatnya SD Negeri Cikakak 4 (6 KM jalan kaki dari ibukota kecamatan). Di rumah dinas guru, Siswandi menghabiskan masa mudanya untuk mengajar siswa sekaligus mengembangkan kepenulisanya di tempat yang sepi dan sunyi. Mengingat di sekolahnya belum ada mesin ketik, maka Siswandi membuat konsep tulisan tangan untuk kemudian diketik di rumah. Beliau merencanakan kalau sudah mendapat gaji pertama akan membeli mesin ketik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan pertama, Siswandi berhasil menyelesaikan cerita bersambung bahasa Jawa dengan judul Ati Kang Keri (Hati yang Tertinggal). Cerita itu dimuat secara bersambung di koran Mingguan Jawa Parikesit. Koran itu oplahnya besar karena hampir semua SD di Jawa Tengah dijatah untuk berlangganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Siswandi akhirnya sering muncul dan membuat honornya semakin banyak. Sebelum rapel gaji beliau terima, sudah berhasil membeli mesin ketik merk fish yang harganya Rp 27.000,00 pada awal tahun 1980. Honor penulisannya datang silih berganti dari berbagai penerbitan. Konon beliau tidak pusing lagi masalah keuangan karena belum gajian pun duitnya masih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat mengajarnya yang sunyi dan terpencil itu seolah membawa hoki tersendiri, karena dari sana lahir berbagai karya Siswandi. Inspirasinya terus mengalir dan mengalir bagaikan air sungai. Aktifitasya mengajar dan mengetik naskah. Sampai tiba saatnya, SKM yang dulu selalu menolak tulisan beliau, akhirnya luluh tak berdaya dan mau menerbitkan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Siswandi mulai dikenal dan menjadi pembicaraan orang banyak terutama di wilayah Wangon. Hampir setiap minggu rekan sejawatnya membaca tulisan beliau. Sebagian honor tulisannya digunakan untuk mentraktir makan bakso teman-temannya dan jalan-jalan ke Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswandi, dari Lomba ke Lomba&lt;br /&gt;Setelah sukses menulis di media, Siswandi yang telah lama menjadi guru mencoba peruntungannya untuk mengikuti lomba. Beliau mulai mengikuti lomba atas desakan Kepala Dinas Pendidikan Wangon saat itu tahun 1992. Waktu itu ada pengumuman lomba mengarang cerita anak berbahasa Jawa yang diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Akhirnya dewi fortuna itu mau mendekatinya, dengan judul naskah Langite Hiru Resik (Langit Biru Bersih) berhasil menjadi pemenang pertama setelah menunggu pengumuman selama 3 bulan. Hadiahnya berupa Tabanas sebesar gaji selama satu bulan ditambah trophy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, Siswandi megikuti lomba yang sama dan berhasil menjadi juara dua. Menurut beliau, “ Saya senang membaca majalah Jawa sejak SMP”. Sehingga menjadi modal tersendiri dalam memenangkan perlombaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993 Siswandi kembali mengikuti lomba dan kali ini lomba mengarang guru tingkat nasional. Awalnya dia tidak mau iku karena merasa kurang percaya diri ketika dari Bayumas belum ada satu pun guru yang berhasil menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Siswandi namanya kalau tidak mencoba, Akhirnya, Siswandi menulis karangan yang berjudul Pelangi di Atas Taman Hati. Dan sungguh menggembirakan, karyanya masuk final 6 besar dan harus ikut bertanding di final yang diadakan di Jakarta dan akan dibuka langsung oleh Mendikbud kala itu, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Siswandi memang bukan guru biasa, dia kembali menunjukkan kemampuannya dengan menggondol juara ketiga Lomba Mengarang Guru Tingkat Nasional dengan membawa pulang throphy dan Tabanas senilai Rp 600,000 padahal gajinya waktu itu hanya Rp 275.000 ditambah uang transport dan jalan-jalan ke tempat rekreasi secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan untuk meraih juara selalu membuat Siswandi makin bersemangat mengikuti lomba mengarang. Pada bulan Maret 1994, beliau mendapat brosur tentang Sayembara Penulian Naskah Buku bacaan dari kantor Depdikbud Kecamatan Wangon. Semangat menulis Siswandi memang tiada duanya, saat itu beliau langsung menulis naskah buku dan membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Naskah kali ini diberi judul Lambaian Seribu Bunga dan lagi-lagi Siswandi beruntung karena berhasil menjadi juara ketiga dengan hadiah sebesar Rp 750.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun meraih Tiga Gelar Juara&lt;br /&gt;Tak puas dengan prestasi yang telah dicapai, Siswandi terus mengikuti lomba. Tahun 1995 beliau mengikuti lagi sayembara penulisan naskah buku bacaan dengan pilihan buku bacaan fiksi SD. Dengan menulis cerita mengambil setting perkampungan nelayan dengan tokoh utamanya Gunawan dan diberi kudul Senandung Ombak. Untuk karya kali ini berhasil mendapat juara harapan kedua dengan hadiah Rp 1.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, tahun 1995 itu menjadi tahun keberuntungan bagi Siswandi karena berhasil menggaet juara sampai tiga kali berturut-turut. Selain juara harapan nasional, juga masuk nominasi Provinsi Jawa Tengah dan mendapat hadiah Rp 1.250.000.00 ditambah juara kedua mengarang cerita anak berbahasa jawa tingkat provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan Siswandi berikutnya, buku Seandung ombak tak lama kemudian terbit dan Siswandi mendapat royalty Rp 5.400.000,00 Menurut penuturannya, “ Dengan satu buku itu saya bisa membangun dapur keramik, kamar mandi dan ruangan tingkat 2 ukuran 3 X 6 meter”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak prestasi kepenulisan beliau yang lain yang berhasil diraih. Saking banyaknya, maka penulis akhiri sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibroh yang dapat dipetik adalah menulis merupakan keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan terus menerus. Sosok Siswandi ini barangkali bisa menjadi spirit bagi kita untuk terus belajar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat untuk Pak Siswandi atas capaian prestasinya. Dan terima kasih atas kesediaanya untuk berbagi dan menjadi pembina Agupena Jawa Tengah. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-5919512752019381642?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/5919512752019381642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=5919512752019381642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5919512752019381642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5919512752019381642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/siswandi-bukan-guru-biasa.html' title='Siswandi, Bukan Guru Biasa'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShZeAKDs2II/AAAAAAAAAng/NTjmByHvm0k/s72-c/photo_5-240x300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2395654713579435999</id><published>2009-05-19T02:52:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T02:55:23.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sekolah Swasta Gratis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShKBfoUIqrI/AAAAAAAAAnY/IHaiJyZqDUE/s1600-h/Mujahid.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShKBfoUIqrI/AAAAAAAAAnY/IHaiJyZqDUE/s200/Mujahid.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337470888785259186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : SISMANAN, S.Pd&lt;br /&gt;(Pengurus ISPI Banyumas, Guru MTS Muhammadiyah Patikraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat dengan Film Laskar Pelangi, maka saya teringat pula iklan di televisi tentang sekolah gratis yang diperankan oleh Cut Nini yang juga berperan sebagai Bu Muslimah dalam Film Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang bergelut didunia pendidikan, apalagi pendidikan swasta, saya terusik dengan iklan tersebut karena memberikan dampak terhadap masyarakat secara umum dan sekolah swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Iklan tersebut bisa menjadi boomerang bagi pemerintah. Kenapa? Karena iklan tersebut tidak memberikan penjelasan tentang komponen mana yang digratiskan, sedang biaya pendidikan meliputi banyak hal. Tanpa penjelasan komponen apa yang digratiskan dan sepertinya bermuatan politis serta banyak memberikan mimpi terutama mereka yang menganggap bahwa sekolah betul-betul tidak memerlukan biaya. Bila kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang mereka impikan maka mereka yang semula simpati dapat menjadi berbalik menjadi antipati kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan juga dapat muncul antara pihak sekolah dengan masyarakat. Hal tersebut muncul karena masyarakat tidak mau memberikan bantuan untuk penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan belum semua komponen penyelengaraan pendidikan ditanggung pemerintah. Maka bila sekolah meminta bantuan dan partisipasi dari masyarakat atau orangtua maka mereka akan protes atau ketegangan antara sekolah dan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang paling dirugikan dari iklan tersebut adalah sekolah swasta. Karena jelas tertulis bahwa sekolah gratis berlaku untuk SD dan SMP Negeri. Sekolah swasta yang selama ini ada kesan mahal dibanding sekolah negeri akan semakin dianggap mahal. Sekolah swasta pinggiran yang nasibnya sudah kempas-kempis, akan semakin terpuruk dalam kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran saya mudah-mudahan tidak menjadi kenyataan karena menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dalam acara Dialog Pendidikan Gratis, Benarkah? Yang diselenggarakan oleh PC IMM Banyumas Sabtu 16 Juli 2009 di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas. Walaupun penulis tidak mengikuti lengkap karena ada tugas pendidikan yaitu mengajar Kejar Paket C,. Menurutnya pelaksanaan sekolah gratis di Kabupaten Banyumas meliputi biaya operasional komite diseluruh SD dan SMP, kecuali sekolah standar internasional dan Nasional. Sedang sekolah masih bisa menarik biaya lain seperti dana pembangunan pada tahun pertama dan beberapa biaya lainnya. Mudahan-mudahan sekolah gratis, ada dimana-mana, betul-betul nyata bukan impian belaka, serta tidak dibedakan negeri dan swasta, pendidikan umum atau agama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2395654713579435999?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2395654713579435999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2395654713579435999' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2395654713579435999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2395654713579435999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/menyumbangkan-tenaga-dan-pikiran-untuk.html' title='Sekolah Swasta Gratis?'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/ShKBfoUIqrI/AAAAAAAAAnY/IHaiJyZqDUE/s72-c/Mujahid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1245506406843463427</id><published>2009-05-15T04:31:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T04:40:30.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Sistem Sertifikasi Guru Perlu Ditinjau Ulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sg1ToW9GhzI/AAAAAAAAAnI/_3lVfVb5Y10/s1600-h/14910458.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sg1ToW9GhzI/AAAAAAAAAnI/_3lVfVb5Y10/s200/14910458.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336013086325638962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;JAKARTA-Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) meminta Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk meninjau kembali sistem sertifikasi guru yang dinilai kurang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sistem sertifikasi guru harusnya melalui uji profesi bukan melalui lampiran dokumen portofolio sehingga sistem tersebut harus ditinjau kembali,” kata Sekjen FGII Iwan Hermawan, di Jakarta, Rabu kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Iwan, bila sertifikasi guru melalui lampiran dokumen portofolio maka dengan mudah guru membuatnya dan bisa saja ada kecurangan untuk memperoleh sertifikat guru, salah satunya dalam mengikuti forum ilmiah.&lt;br /&gt;”Agar mendapatkan sertifikat guru, para guru akan berbondong-bondong mengikuti seminar dan forum ilmiah lainnya. Ini sangat mudah dan bisa terjadi kecurangan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selain itu, dengan adanya portofolio itu maka guru yang memiliki masa jabatan lebih lama bisa setara dengan guru yang pengalamannya kurang. Akibatnya, guru yang berpengalaman harus bersaing dengan guru yang masih baru untuk mendapatkan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lanjut dia, bila sertifikasi guru melalui uji profesi yang dilakukan oleh seorang penguji maka akan diketahui sejauh mana tingkat kemampuan guru dalam mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Uji profesi ini dilihat dari cara guru mengajar, cara berinteraksi dengan anak didik dan wawasannya tentang bidang yang ditekuni. Kalau ini diberlakukan, maka guru yang mendapatkan sertifikat adalah guru yang profesional,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Adil&lt;br /&gt;Selain masalah dokumen portofolio, kata Iwan, jatah guru yang mendapatkan sertifikat berbeda-beda di masing-masing daerah mengandung unsur ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Guru yang berada di daerah terpencil, kuotanya lebih banyak daripada guru yang berada di kota besar. Ini akan menjadi kecemburuan bagi guru-guru yang lain,” kata Iwan yang berprofesi sebagai guru di Kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi pernah mengatakan, sertifikasi guru perlu dievaluasi karena masih diwarnai kecurangan dalam pelampiran dokumen portofolio. ”Pemalsuan dokumen seperti sertifikat guru dalam forum ilmiah masih banyak dilakukan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, banyak guru menginginkan kelulusan dengan cara curang seperti memalsukan dokumen portofolio tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, lanjut dia, Depdiknas dan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) yang ditunjuk perlu memperbaiki penilaian keaslian dokumen dan menindak tegas setiap pelanggaran. ”Sosialisasi kepada guru juga perlu ditingkatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program sertifikasi guru diharapkan mampu mengutamakan peningkatan mutu guru dalam pembelajaran sehingga memberikan manfaat kepada anak didik. Bagi guru yang tidak lulus sertifikasi masih memiliki kesempatan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diselenggarakan perguruan tinggi untuk meningkatkan ilmunya, belajar teori tentang penguasaan teknis cara mengajar, sertabelajar berinteraksi. (ant-45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara merdeka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1245506406843463427?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1245506406843463427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1245506406843463427' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1245506406843463427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1245506406843463427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/browse-home-informasi-refleksi-sistem.html' title='Sistem Sertifikasi Guru Perlu Ditinjau Ulang'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sg1ToW9GhzI/AAAAAAAAAnI/_3lVfVb5Y10/s72-c/14910458.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-7490055744055703404</id><published>2009-05-11T06:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T06:07:57.267-07:00</updated><title type='text'>BEDAH BUKU &amp; WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SggiZW53bRI/AAAAAAAAAnA/Zug58jwv7qY/s1600-h/P1080650.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SggiZW53bRI/AAAAAAAAAnA/Zug58jwv7qY/s200/P1080650.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334551577660714258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari Kamis, 26 Maret 2009, 10 guru SMA Negeri 2 Purwokerto dan lebih dari 200 guru dari berbagai tingkat pendidikan wilayah Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara mengikuti acara Bedah Buku dan Workshop Penulisan Artikel pada Media Massa. Acara yang berlangsung di aula SMA Negeri 2 Purwokerto itu, diadakan oleh ISPI Cabang Banyumas bekerja sama dengan AGUPENA Jateng. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memfasilitasi para pendidik di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya dalam menambah wawasan seputar pembelajaran sekaligus membekali keterampilan menulis artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang dibedah berjudul PEMBELAJARAN BERBASIS FITRAH karya Bapak Achjar Chalil, S.Pd (Ketua Umum AGUPENA Pusat). Pembedahnya adalah Drs. Subur, M. Ag (Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto, Pembina ISPI Cabang Banyumas). Sedangkan Workshop Penulisan Artikel menghadirkan wartawan senior dan sekaligus kepala biro Suara Merdeka Banyumas,H. Didi Wahyu, S.H., M.H.&lt;br /&gt;&lt;span class="style4"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Susi, humas &lt;/span&gt;SMAN 2 Purwokerto&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-7490055744055703404?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/7490055744055703404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=7490055744055703404' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7490055744055703404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7490055744055703404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/bedah-buku-workshop-penulisan-artikel.html' title='BEDAH BUKU &amp; WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SggiZW53bRI/AAAAAAAAAnA/Zug58jwv7qY/s72-c/P1080650.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-7064972962431802358</id><published>2009-05-02T01:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T01:07:22.853-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>Ucapan Hardiknas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sfv-9Ke7xfI/AAAAAAAAAmA/0Rc72aMCg90/s1600-h/headerispibaru.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 46px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sfv-9Ke7xfI/AAAAAAAAAmA/0Rc72aMCg90/s200/headerispibaru.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331134910662690290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Atas Nama Pengurus ISPI Cabang Banyumas mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita wujudkan Dunia Pendidikan di Banyumas lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-7064972962431802358?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/7064972962431802358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=7064972962431802358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7064972962431802358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/7064972962431802358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/ucapan-hardiknas.html' title='Ucapan Hardiknas'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/Sfv-9Ke7xfI/AAAAAAAAAmA/0Rc72aMCg90/s72-c/headerispibaru.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-5424531256750118449</id><published>2009-05-02T00:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T01:11:14.369-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan (Refleksi Hardiknas 2009)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s1600-h/sawali.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 191px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s400/sawali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324465781885899122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Drs. Sawali, M.Pd&lt;br /&gt;Secara lahirilah, negeri ini memang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa. Perubahan fisik juga tampak menonjol. Jakarta telah berubah menjadi mega-belantara gedung raksasa yang tinggi menjulang. Kota-kota besar di negeri ini juga berupaya mengimbangi dinamika penduduk yang terus meningkat dengan menambah sejumlah jaringan infrastruktur publik yang bergengsi dan memanjakan. Namun, secara batiniah, diakui atau tidak, negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Reformasi kultural yang gagal dinilai telah membangkitkan kembali meruyaknya semangat primordialisme yang mengagungkan egoisme, feodalisme, chauvinisme, atau fanatisme sempit yang berujung pada merajalelanya kekerasan berbau SARA. Ibarat kaos lampu petromaks, dari luar tampak gemebyar, tetapi gampang hancur ketika terkena sentuhan angin.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ranah pendidikan pun tak luput dari situasi semacam itu. Pendidikan dinilai telah jauh menyimpang dari “khittah”-nya sebagai media pembebas untuk memanusiakan manusia agar menjadi lebih bermartabat, berbudaya, dan berperadaban. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945 pun tak lebih dari slogan dan retorika belaka. Pendidikan bukannya didesain untuk mencerdaskan anak bangsa, melainkan hanya sekadar jadi alat untuk melanggengkan status-quo dan mempertahankan kekuasaan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, pelaksanaan UN selama ini! UN bukannya dijadikan sebagai media untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, melainkan justru menjadi tujuan itu sendiri. UN juga bukan untuk memotret kompetensi siswa secara integral dan komprehensif, melainkan semata-mata diperalat untuk mempertahankan dan sekaligus juga meningkatkan gengsi daerah/sekolah. Buktinya? Lihat saja kecurangan demi kecurangan yang berlangsung setiap tahun! Alih-alih mengusutnya hingga tuntas, perilaku tak terpuji itu justru dibiarkan membudaya dan mengakar hingga akhirnya orang yang berupaya menihilkan UN dari praktik-praktik kecurangan malah disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miskin Kreativitas&lt;br /&gt;Sungguh, kita sedih ketika ada pengawas UN, sebagaimana ditayangkan sebuah stasiun TV, membocorkan kunci jawaban secara terang-terangan di ruang UN. Kita juga prihatin menyaksikan berbagai bentuk pembocoran soal atau kunci jawaban dengan segala macam modus operandinya. Sungguh tak masuk akal kalau seorang pengawas mau-maunya membocorkan kunci jawaban kalau tak ada instruksi atau tekanan dari pihak tertentu yang memiliki taring kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tragis, demi mempertahankan jabatan, gengsi, dan marwah kelembagaan, mereka tak segan-segan melakukan kecurangan demi kecurangan. Secara tidak langsung, praktik-praktik busuk semacam itu sesungguhnya telah menjadi mesin pembunuh terhadap talenta dan potensi anak-anak bangsa. Betapa tidak! Anak-anak yang ingin sukses melalui cara dan proses yang benar harus takluk oleh anak-anak pemalas dan bermental instan. Akibatnya bisa ditebak. Anak-anak yang cerdas justru telah ikut-ikutan tercuci otaknya dan ikut arus terhadap proses anomali yang amat tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa itu. Bukankah ini sebuah pembunuhan massal terhadap aset masa depan bangsa sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau proses penyelenggaraan UN yang sarat pembusukan semacam itu terus berlangsung, bukan mustahil dunia pendidikan kita hanya akan melahirkan robot-robot peradaban yang miskin kreativitas dan inisiatif. Hidup mereka akan senantiasa bergantung kepada orang lain dan berharap meraih sukses tanpa melalui proses yang jujur dan fair. Pola dan sistem penyelenggaraan UN yang kacau benar-benar telah membuat dunia pendidikan kita tak lagi merdeka, mandiri, dan otonom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, UN bukan menjadi penentu kelulusan. Sungguh naif kalau di tengah situasi kesenjangan yang begitu lebar antara desa dan kota, UN dijadikan sebagai “alat penyihir” untuk menyamaratakan kemampuan siswa yang beragam kemampuannya. Anak-anak yang tersebar di berbagai penjuru jelas memiliki asupan ilmu yang amat berbeda ketika dukungan sarana dan fasilitas pendidikan masih demikian timpang. Dalam kondisi demikian, UN seharusnya dijadikan sebagai sarana pemetaan mutu pendidikan untuk memotret kemampuan daerah/sekolah dalam mengelola pendidikan. Daerah/sekolah yang rendah tingkat kelulusannya, perlu mendapatkan perhatian khusus, dicari sebab-sebab dan latar belakangnya, untuk selanjutnya diberikan kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan akses sarana dan fasilitas pendidikan sehingga bisa mengejar kemajuan yang telah diperoleh daerah/sekolah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuah Ki Hajar Dewantara&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, UN yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses, telah membuat hakikat pendidikan kita tercabik-cabik. Mungkin sekarang belum terasakan dampaknya. Namun, kalau tak ada perubahan paradigma dalam sistem evaluasi pendidikan kita, bukan tidak mungkin kelak negeri ini hanya akan dihuni oleh generasi bermental instan yang ingin meraih sukses tanpa harus kerja keras. Otak dan kecerdasan mereka telah tercuci oleh desain pendidikan yang ditengarai sudah mulai mengarah pada upaya pembodohan massal melalui ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, sudah lama sekali kita diingatkan oleh petuah Ki Hajar Dewantara bahwa hakikat pendidikan adalah sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Dari sini tampak jelas bahwa kehadiran seorang anak dalam kancah dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteksnya sebagai bagian dari alam dan kehidupan masyarakat. Namun, akibat pemahaman yang keliru terhadap hakikat pendidikan, potensi anak-anak justru dikerangkeng dan dipenjara, serta dijauhkan mereka dari konteks kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita merunut sejarah gerakan kebangsaan pada permulaan abad XX, dunia pendidikan memiliki titik singgung dengan perkembangan dan dinamika spirit kebangsaan sebagai kerangka kerja sosial pembebasan manusia dari kebodohan dan keterbelakangan. Namun, disadari atau tidak, praktik pendidikan kita selama ini justru makin menjauhkan siswa didik dari spirit kebangsaan itu. Siswa didik terus dicekoki bejibun teori model hafalan dan dijauhkan dari persoalan-persoalan kebangsaan secara riil. Pendidikan yang sejatinya berfungsi sebagai kerangka kerja sosial pembebasan manusia demi meraih martabat dalam kehidupan telah tereduksi sebagai sistem sosial yang menanggalkan misi profetik penguatan kesadaran kebangsaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang Ki Hajar Dewantara tahun ini, agaknya kita masih harus meneriakkan pekik setengah merdeka buat pendidikan kita yang belum sepenuhnya terbebas dari pasungan kekuasaan yang salah mengurus pendidikan. Entah sampai kapan? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-5424531256750118449?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/5424531256750118449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=5424531256750118449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5424531256750118449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5424531256750118449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/05/pekik-setengah-merdeka-buat-pendidikan.html' title='Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan (Refleksi Hardiknas 2009)'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s72-c/sawali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-5070520980887309102</id><published>2009-04-25T04:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T01:42:45.332-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>SEMINAR NASIONAL  PENULISAN BUKU DAN KARYA ILMIAH SERTA  LOMBA PENULISAN ARTIKEL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfPXQRQoeoI/AAAAAAAAAl4/Xl_C3H9FEHA/s1600-h/zzzzzzzzzzzzzzzzzz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfPXQRQoeoI/AAAAAAAAAl4/Xl_C3H9FEHA/s200/zzzzzzzzzzzzzzzzzz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328839458620471938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemampuan menulis merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dengan menulis, seorang guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir dinamis, kreatif, dan kemampuan menganalisis serta kemampuan meningkatkan kualitas pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemampuan ini jarang ditingkatkan. &lt;span id="fullpost"&gt;Tak heran, jika masih tetap melekat stigma pada sebagian besar guru “Menulis itu sulit dan saya tidak bisa“. Hal ini perlu dicari solusinya agar kualitas pendidikan kita meningkat. Ibarat kita sedang sakit, kita perlu mencari penyebab sakit kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar Nasional “Penulisan Buku dan Karya Ilmiah” dan Lomba Penulisan Artikel bagi Guru se-Jawa Tengah dengan tema “Membudayakan Menulis di Kalangan Guru”, yang digagas oleh Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (AGUPENA) Wilayah Provinsi Jawa Tengah berupaya mencari solusi sekaligus menjadi kontributor untuk meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya budaya menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA : “ MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;1.Menambah informasi dan wawasan dalam hal penulisan buku dan karya ilmiah.&lt;br /&gt;2.Memberikan semangat dan motivasi baru bagi guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam bidang tulis-menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMINAR NASIONAL PENULISAN BUKU DAN KARYA ILMIAH&lt;br /&gt;PEMBICARA&lt;br /&gt;1.H. Ahmad Tohari (Budayawan dan Penulis Internasional, Pembina Agupena Jawa Tengah)&lt;br /&gt;2.Dr. Mulyadi HP, M.Pd. (Ketua Asosiasi Widyaiswara Indonesia dan Tim Penilai Karya Ilmiah, Pembina Agupena Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU &amp;amp; TEMPAT&lt;br /&gt;Kamis, 25 Juni 2009, 08.00 – 14.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;di LPMP Jawa Tengah (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jl. Kyai Maja Srondol, Kulon, Semarang&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;) Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIAYA PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Biaya pendaftaran sebesar Rp. 75.000,- sudah termasuk snack, makan siang, paper, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Juni 2009. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melalui telepon dengan urutan:&lt;br /&gt;Mentransfer biaya pendaftaran melalui BNI Capem UNS a.n. Johan Wahyudi No. Rek. 0167919194&lt;br /&gt;Menginformasikan SEGERA setelah melakukan transfer uang biaya pendaftaran melalui telepon (bukan SMS) ke Johan Wahyudi (08562517895, 02712015778)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melalui koordinator wilayah masing-masing:&lt;br /&gt;Banyumas Dra. Hj. Endar Yuniarti, M.Hum.&lt;br /&gt;HP. 081327014301 SMKN 3 Purwokerto&lt;br /&gt;Drs. Heri Suritno HP. 081327227205&lt;br /&gt;SDN Siwarak Wetan Tambak Banyumas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purbalingga&lt;br /&gt;Teguh Trianton, S.Pd HP. 08056987444&lt;br /&gt;SMK Widya Manggala Purbalingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brebes&lt;br /&gt;Sadimin, S.Pd., S.Ip., S.Ipem. HP. 081329682084&lt;br /&gt;SMAN 3 Brebes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemalang&lt;br /&gt;Drs. Samsudin HP. 081328015877&lt;br /&gt;SMPN 3 Pulosari, Pemalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekalongan&lt;br /&gt;Zulmasri, S.S. HP. 085642638639&lt;br /&gt;SMPN 2 Talun Pekalongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang&lt;br /&gt;Asim, S.Pd. HP. 081327119947&lt;br /&gt;SD Kambangan 2 Blado Batang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendal&lt;br /&gt;Drs. Sawali Tuhusetya, M.Pd. HP. 0822895208&lt;br /&gt;SMPN 2 Pegandon Kendal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang&lt;br /&gt;Drs. Edi Marwanda HP. 081325360220&lt;br /&gt;SMKN 7 (STM Pembangunan) Semarang&lt;br /&gt;Diyarko, S.Pd HP. 081325952303&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMKN 11 Semarang&lt;br /&gt;Hery Nugroho, S.Pd.I HP. 081325360001&lt;br /&gt;SMPN 7 Semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purworejo&lt;br /&gt;Nikmah Nurbaity, M.Pd HP. 081327008618&lt;br /&gt;SMAN 11 Purworejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magelang&lt;br /&gt;Nok Mujianti, S.Pd HP. 08562969327&lt;br /&gt;SMPN 11 Magelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak&lt;br /&gt;Zaenal Abidin, S.Pd., M.Si. HP. 085225107979&lt;br /&gt;MAN Demak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukoharjo&lt;br /&gt;Budi Harjo, S.Pd., M.Pd HP. 081393116610&lt;br /&gt;SMP Islam Al-Azhar 21 Sukoharjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta&lt;br /&gt;Yuni Susilowati, S.Pd. HP. 085725502721&lt;br /&gt;UNS Surakarta&lt;br /&gt;Pris Priyanto, S.Kom., M.Kom HP. 081329222741&lt;br /&gt;SMA Batik 1 Surakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonosobo&lt;br /&gt;Haryati, S.Ag HP. 085292387183&lt;br /&gt;MAN Mendolo Wonosobo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri&lt;br /&gt;Witono, S.Pd HP. 085229930721&lt;br /&gt;SMPN 1 Purwantoro Wonogiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilacap&lt;br /&gt;Rr. Septriwi Antarsari, S.Pd. HP. 0817259310&lt;br /&gt;Al-Azhar 16 Play Group Kindergarten Islamic School Cilacap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sragen&lt;br /&gt;Johan Wahyudi, S.Pd. HP. 08562517895&lt;br /&gt;SMPN 2 Kalijambe Sragen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blora&lt;br /&gt;Andreas Sutrasno, S.Pd HP. 08122816169&lt;br /&gt;SMPN 5 Blora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati&lt;br /&gt;Izzul Hasanah 085640890783&lt;br /&gt;SMK Tunas Harapan Pati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembang&lt;br /&gt;Tri Budiyono, S.Pd. HP 081390072998&lt;br /&gt;SMPN 1 Pamotan Rembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten&lt;br /&gt;Drs. Zulkarnaen SL HP. 081329030243&lt;br /&gt;SMAN 1 Jatinom Klaten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebumen&lt;br /&gt;Martiyono, S.Pd HP. 085726596325&lt;br /&gt;SMP 4 Kebumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarnegara&lt;br /&gt;Drs. Widi Purwanto HP. 081327451828&lt;br /&gt;SMPN 3 Punggelan Banjarnegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanggung&lt;br /&gt;Parjuni, S.Pd HP. 08122778766&lt;br /&gt;SMPN 6 Temanggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grobogan&lt;br /&gt;Wahono, M.Pd. HP 08112706671&lt;br /&gt;SMPN 1 Tanggungharjo, Grobogan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOMBA PENULISAN ARTIKEL BAGI GURU SE-JAWA TENGAH&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran.&lt;br /&gt;Peserta BUKAN pengurus AGUPENA Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Peserta lomba harus menjadi peserta Seminar Nasional ”Penulisan Buku dan Karya ilmiah” tersebut.&lt;br /&gt;Penyerahan ARTIKEL&lt;br /&gt;Artikel dikirimkan secara langsung ke koordinator wilayah masing-masing atau melalui e-mail ke agupena64@gmail.com&lt;br /&gt;Batas akhir penyerahan artikel 15 Juni 2009&lt;br /&gt;Pengumuman 3 (tiga) artikel terbaik 25 Juni 2009&lt;br /&gt;Aturan Penulisan&lt;br /&gt;Artikel yang diserahkan merupakan hasil karya perorangan, bukan hasil duplikasi karya orang lain&lt;br /&gt;Artikel belum pernah dipublikasikan.&lt;br /&gt;Artikel yang dibuat harus merujuk sekurang-kurangnya 2 (dua) referensi utama.&lt;br /&gt;Format penulisan artikel lengkap (minimal 5 halaman, ukuran kertas A4, dengan huruf Times New Roman ukuran 10 point, 1.5 spasi).&lt;br /&gt;Tema : MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU&lt;br /&gt;Penghargaan/Apresiasi&lt;br /&gt;Pemenang akan mendapatkan hadiah masing-masing :&lt;br /&gt;Juara I : Rp. 1.000.000 + Piagam&lt;br /&gt;Juara II : Rp. 750.000 + Piagam&lt;br /&gt;Juara III : Rp. 500.000 + Piagam&lt;br /&gt;Seluruh peserta Lomba Penulisan Artikel yang tidak menjadi juara akan mendapat Surat Keterangan (Partisipasi Peserta) dari Ketua Umum Agupena Jawa Tengah&lt;br /&gt;Lain-lain&lt;br /&gt;1. Artikel yang masuk menjadi hak panitia dan akan diterbitkan di Web Agupena Jawa Tengah (http://agupenajateng.net/) atau Majalah Agupena Jawa Tengah&lt;br /&gt;2. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;3. Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia Lomba Penulisan Artikel melalui HP. 08170600305, 085225107979, 085725502721&lt;br /&gt;FORMULIR PENDAFTARAN&lt;br /&gt;(Bisa difotokopi)&lt;br /&gt;SEMINAR NASIONAL&lt;br /&gt;MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU&lt;br /&gt;(Isi formulir lalu kirimkan ke Kordinator Pendaftaran)&lt;br /&gt;Nama : ..................................................&lt;br /&gt;Tempat/&lt;br /&gt;Tgl Lahir : ...................................................&lt;br /&gt;Alamat Kantor : ....................................................&lt;br /&gt;Telp/Fax : ....................................................&lt;br /&gt;Alamat Rumah : ………………………………………………….&lt;br /&gt;………………………………………………….&lt;br /&gt;………………………………………………….&lt;br /&gt;Telp/HP : ………………………………………………….&lt;br /&gt;Email : ……………………………………………………&lt;br /&gt;_____________________2009&lt;br /&gt;Pendaftar&lt;br /&gt;_______________________&lt;br /&gt;(Nama Jelas &amp;amp; Tanda Tangan) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-5070520980887309102?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/5070520980887309102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=5070520980887309102' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5070520980887309102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/5070520980887309102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/04/seminar-nasional-penulisan-buku-dan.html' title='SEMINAR NASIONAL  PENULISAN BUKU DAN KARYA ILMIAH SERTA  LOMBA PENULISAN ARTIKEL'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfPXQRQoeoI/AAAAAAAAAl4/Xl_C3H9FEHA/s72-c/zzzzzzzzzzzzzzzzzz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6775987208670646837</id><published>2009-04-24T01:14:00.001-07:00</published><updated>2009-04-25T20:40:38.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Prof Soedijarto: Pendidikan makin menyedihkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfF2De9hwJI/AAAAAAAAAlg/uHenVaPyDAQ/s1600-h/foto43.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfF2De9hwJI/AAAAAAAAAlg/uHenVaPyDAQ/s200/foto43.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328169636378820754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;JAKARTA - Pada usianya ke 70 tahun, dia masih tetap jernih, runut, dan penuh semangat menyampaikan berbagai persoalan tentang pendidikan. Pikiran dan gagasannya seringkali mencengangkan meskipun seringkali dianggap membuat pemerintah miris dan kelabakan dibuatnya. Bahkan seakan-akan berseberangan dengan kebijakan pemerintah.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Prof Dr Soedijarto, MA -- guru besar ilmu pendidikan pada Universitas Negeri Jakarta (IKIP Jakarta), yang meluncurkan buku berjudul "Landasan dan Arah Pendidikan Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita", bertempat di kantor Departemen Pendidikan Nasional, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kondisi pendidikan kita semakin menyedihkan. Karena itu, ketika saya menjadi anggota MPR-RI saya melontarkan gagasan agar pendidikan dipatok 20 persen dari APBN dan itu diterima," kata Guru Besar Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perjuangan panjang bersama anggota MPR-RI yang sepaham, gagasan itu akhirnya disetujui dan menjadi komitmen bangsa. Suatu komitmen yang unik karena satu-satunya alokasi anggaran yang "dikunci" dalam konstitusi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun komitmen bangsa yang sudah empat tahun ditorehkan dalam konstitusi itu tidak kunjung terwujud. Karena itu, Soedijarto bersama rekan-rekannya dalam Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) membawa persoalan ini ke Mahkamah Konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, MK menyatakan pemerintah melanggar Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945, yang secara tegas mengamanatkan minimal 20 persen dari APBN untuk anggaran pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soedijarto, kesepakatan pemerintah dan DPR yang tak ada niat dan usaha keras untuk memenuhi anggaran pendidikan minimal 20 persen itu menunjukkan betapa penyelenggara negara tidak memahami makna pendidikan sebagai modal utama pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalih anggaran 20 persen sudah terpenuhi, hanya akal-akalan pejabat karena gaji guru serta anggaran pendidikan dan pelatihan (diklat) pegawai masuk di dalamnya. Di negara mana pun tidak ada perhitungan seperti itu. Harus murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (PENDIS: hans)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6775987208670646837?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6775987208670646837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6775987208670646837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6775987208670646837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6775987208670646837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/04/prof-soedijarto-pendidikan-makin.html' title='Prof Soedijarto: Pendidikan makin menyedihkan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SfF2De9hwJI/AAAAAAAAAlg/uHenVaPyDAQ/s72-c/foto43.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3613828937157728104</id><published>2009-04-14T01:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T20:46:05.932-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Sawali, Guru Sastra untuk Semua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s1600-h/sawali.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 191px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s400/sawali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324465781885899122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa bilang guru sekolah di daerah itu gaptek? Pasti belum kenal dengan Sawali, guru SMP dari Kendal yang rajin ngeblog. Senantiasa membagi ilmu pengetahuannya soal sastra dan pendidikan pada umumnya, Sawali menyebarkan semangat untuk terus membaca dan menulis bagaimanapun caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan fasilitas tidak terus menjadi kendala, terbukti blognya mencerahkan bagai cahaya.Pak Guru ini memang senang berbagi. Bagaimana tidak? Saat ini Sawali merupakan pengelola lima blog sekaligus, yaitu: sawali.info, sawali.us, sawali.co.cc,&lt;span id="fullpost"&gt; mgmpbismp.co.cc, dan agupenajateng.net. Dua yang terakhir dikelola bersama teman-temannya sesama guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalannya dengan blog dimulai pada tahun 2007. Dia mengaku masih gaptek saat memulai jalan-mendaki.blogspot.com. Namun keinginan untuk segera bisa ngeblog sedemikian kuatnya, hingga kemudian dibelinya buku-buku panduan ngeblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Sawali bersemangat untuk menularkan kebiasaan ngeblog ini kepada teman-temannya sesama guru. Beberapa waktu yang lalu, bersama 300-an guru membuat blog bersama-sama. Ratusan guru yang berasal dari Kabupaten Banyumas ini terbagi menjadi empat angkatan. Namun sayangnya, kini yang tersisa aktif hanya sekitar sepuluh persen saja. “Pada tiarap”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ada dua hal yang menyebabkan “tiarap”nya para guru untuk tetap ngeblog. Pertama, akses internet yang belum memadai. Memang kini Pemerintah sudah melakukan usaha untuk membuat internet lebih terjangkau oleh lebih banyak kalangan pendidikan melalui pembangunan ICT di beberapa daerah. Namun pada kenyataannya, pembangunan ICT belum merata di seluruh sekolah, terutama sekolah-sekolah yang lokasinya belum terjangkau sinyal ICT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kedua adalah budaya menulis di kalangan guru yang belum terbangun dengan baik. “Bagaimana mungkin bisa melahirkan generasi yang memiliki budaya baca-tulis yang bagus kalau guru gagal memberikan teladan yang baik?”, tanyanya. Guru yang merupakan akronim digugu-ditiru memang diharapkan bisa menurunkan kegemaran membaca dan menulis kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan budaya menulis di kalangan guru? “Yang pertama mesti gemar membaca dulu”, jawabnya tegas. “Membaca menumbuhkan inspirasi. kalau inspirasi sudah ada, guru ‘kan tinggal menuliskannya, baik dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi”, jelasnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, guru tidak akan kesulitan soal bahan untuk ditulis. “Peristiwa-peristiwa di kelas, bahan ajar, metode dan pembelajaran, opini pendidikan. Wah, banyak sekali pokoknya, hehe!”. Intinya, banyak hal yang bisa dibagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawali berpendapat bahwa selain media cetak, yang pasti blog masih akan menjadi primadona untuk membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru. Tak lain karena keunggulan blog yang mudah dan murah. “Blog itu ndak perlu pakai redaksi seperti di media cetak”, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengenal blog, Sawali memang sudah suka menulis di media cetak baik lokal maupun nasional. Tapi blog memberikannya kenyamanan dalam beberapa hal. “Ndak harus menunggu otoritas redaksi yang begitu ketat dalam menyortir tulisan. Lewat blog, saya bisa memublis tulisan apa saja dan kapan saja saya mau”, begitulah katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manfaat yang didapatnya melalui kegiatan ngeblog. Jaringan pertemanan, silaturahmi lintakultur dan lintas geografis adalah beberapa di antaranya. “Selalu saja ada bessing ini disguise-nya di balik jerih-payah kita ngeblog”, jelasnya. Tak hanya itu, kesempatan menerbitkan buku kumpulan cerpen pun rupanya didapat setelah Sawali mulai aktif ngeblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar Bahasa Indonesia pada sebuah SMP di Kendal ini memang kerap menulis soal sastra dan pengajaran sastra di bangku sekolah. Menurut Sawali, idealnya pengajaran sastra mesti difokuskan pada apresiasinya, bukan teoretis dan hafalan melulu. “Saya sedih ketika masih ada rekan sejawat yang menyajikan pengajaran sastra sekadar mencekoki anak-anak dengan pengertian-pengertian dan hafalan nama-nama pengarang dan karyanya”, ungkapnya. Baginya, ini sebuah proses “pembusukan” terhadap proses apresiasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawali setuju dengan pendapat Danarto bahwa bengalnya anak-anak remaja sekarang lantaran tidak pernah diajar apresiasi sastra dengan baik. “Kalau saja mereka mendapatkan pengajaran sastra yang baik, mereka bisa terangsang untukmenjadi manusia yang lebih humanis, beradab, dan berbudaya, sehingga bisa mengontrol perilaku anomali yang merangsek dalam jiwa dan batinnya”, jelasnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, keluaran dari pengajaran sastra yang baik adalah output dari pengajaran sastra yang baik adalah manusia2 yang humanis dan beradab. “Ada yang bilang, aktivitas apresiasi sastra bisa membuat seseorang menjadi lebih responsif terhadap berbagai fenomena hidup dan kehidupan yang terjadi di sekelilingnya. Mereka bisa menjadi lebih berempati terhadap sesamanya”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran-pemikiran yang tertuang di blognya memang sungguh mencerahkan. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh para pembaca setianya dan Dewan Juri Internet Sehat. Menjelang akhir obrolan kami sore itu, Sawali mengabarkan berita baik yang baru diterimanya: blognya mendapatkan penghargaan Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 untuk kategori mingguan Education Blog. Selamat, Pak Guru! (Oleh: nonadita)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sumber: dagdigdug.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3613828937157728104?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3613828937157728104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3613828937157728104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3613828937157728104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3613828937157728104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/04/sawali-guru-sastra-untuk-semua.html' title='Sawali, Guru Sastra untuk Semua'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SeRNaxwIEXI/AAAAAAAAAlQ/zXGUvDvIoEc/s72-c/sawali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-629354373424581111</id><published>2009-04-01T20:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T21:05:43.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>SAYEMBARA PENULISAN NASKAH BUKU PENGAYAAN TAHUN 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdQwx4j_-RI/AAAAAAAAAlI/PoxM-nkbjzY/s1600-h/buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdQwx4j_-RI/AAAAAAAAAlI/PoxM-nkbjzY/s320/buku.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319930693386500370" /&gt;&lt;/a&gt; Pusbuk Depdiknas kembali menggelar ajang bergengsi dengan hadiah lumayan banyak bagi para pendidik dan tenaga kependidikan. Lomba menulis buku ini setiap tahun diselenggarakan dan siapa pun guru dapat mengikutinya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema penulisan naskah: Membangun manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif.&lt;br /&gt;Naskah buku yang disayembarakan adalah naskah buku pengayaan, yaitu buku yang dapat memperkaya pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan membentuk kepribadian/watak yang positif peserta didik untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK/MAK. Naskah yang disayembarakan adalah naskah fiksi dan nonfiksi.&lt;br /&gt;A. Naskah fiksi adalah naskah yang diciptakan terutama berdasarkan kreativitas dan imajinasi, dalam bentuk:&lt;br /&gt;1. prosa, berupa novel atau kumpulan cerpen;&lt;br /&gt;2. puisi (kumpulan puisi);&lt;br /&gt;3. drama (sebuah atau lebih drama).&lt;br /&gt;B. Naskah nonfiksi adalah naskah yang berisi hasil observasi (secara langsung atau melalui studi kepustakaan) mengenai suatu proses atau suatu objek yang bersifat faktual, dalam bentuk:&lt;br /&gt;1. pengayaan pengetahuan alam (tentang biologi, fisika, kimia, IPA, lingkungan alam, dll),&lt;br /&gt;2. pengayaan pengetahuan sosial (tentang ekonomi, geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, kesenian, dll),&lt;br /&gt;3. pengayaan keterampilan.&lt;br /&gt;Naskah nonfiksi dapat disajikan dalam bentuk eksposisi (pemaparan ilmiah populer) atau narasi (untuk penulisan biografi dan sejarah). Tokoh/objek, kegiatan, waktu, dan tempat yang dipaparkan/dikisahkan sepenuhnya bersifat faktual.&lt;br /&gt;Hadiah&lt;br /&gt;Pemenang I : Rp 17.000.000,00&lt;br /&gt;Pemenang II : Rp 16.000.000,00&lt;br /&gt;Pemenang III : Rp 15.000.000,00&lt;br /&gt;Hadiah dikenai PPh 15%.&lt;br /&gt;Jumlah pemenang sayembara untuk semua jenis dan jenjang pendidikan sebanyak 54 orang.&lt;br /&gt;Persyaratan&lt;br /&gt;A. Peserta&lt;br /&gt;1. Pendidik dan tenaga kependidikan, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, dibuktikan dengan surat keterangan dari pimpinan atau salinan pensiun.&lt;br /&gt;2. Belum menjadi pemenang tiga kali atau lebih dalam sayembara penulisan naskah buku pengayaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;B. Naskah&lt;br /&gt;1. Isi naskah dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis, tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku, tidak bias gender, serta tidak menimbulkan masalah SARA.&lt;br /&gt;2. Naskah merupakan karya asli, tidak berseri, belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara mana pun, tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, dan belum pernah diterbitkan yang ditunjukkan dengan surat pernyataan bermeterai Rp6.000,00 (enam ribu rupiah).&lt;br /&gt;3. Naskah berbentuk biografi harus memenuhi ketentuan:&lt;br /&gt;tokoh yang ditulis adalah warga negara Indonesia yang berprestasi di tingkat provinsi, nasional, atau internasional.&lt;br /&gt;data harus akurat dan dapat dibuktikan keabsahan dan kebenarannya;&lt;br /&gt;melampirkan izin dari tokoh yang diceritakan atau ahli warisnya.&lt;br /&gt;4. Menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan sasaran dan tingkat berpikir pembaca.&lt;br /&gt;5. Ilustrasi/gambar dibuat pada halaman tersendiri (terpisah) disertakan identitas gambar.&lt;br /&gt;6. Naskah diberi identitas, yakni: (a) judul naskah, (b) kelompok naskah (fiksi atau nonfiksi), (c) jenis naskah (prosa, puisi, drama, pengayaan pengetahuan alam, pengayaan pengetahuan sosial, atau pengayaan keterampilan), (d) jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, atau SMA/MA/SMK/MAK).&lt;br /&gt;7. Naskah diketik di atas kertas A4, minimal 60 halaman, 2 spasi, minimal 20 baris per halaman. Apabila ditulis tangan, naskah ditulis rapi sekurang-kurangnya 80 halaman folio, minimal 25 baris per halaman.&lt;br /&gt;8. Semua kutipan, foto, dan ilustrasi harus menyebutkan sumbernya (Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002).&lt;br /&gt;9. Melampirkan identitas diri (KTP/SIM), dan riwayat hidup yang berisi informasi nama lengkap, NIP (jika ada), pekerjaan, alamat rumah dan kantor, telepon/HP.&lt;br /&gt;10. Naskah dikirim kepada panitia Sayembara dalam bentuk ketikan/tulisan asli (bukan fotokopi atau tindasan) dan dijilid.&lt;br /&gt;11. Setiap calon peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu (1) judul naskah.&lt;br /&gt;12. Naskah dikirim paling lambat tanggal 15 Mei 2009 (stempel pos) kepada:&lt;br /&gt;Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2009&lt;br /&gt;Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Jln. Gunung Sahari Raya No. 04 Jakarta 10002&lt;br /&gt;13. Naskah yang dikirim ke panitia menjadi milik panitia dan tidak dikembalikan.&lt;br /&gt;Penjelasan&lt;br /&gt;1. Hasil keputusan Dewan Juri Sayembara tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;2. Pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang akan dilaksanakan pada peringatan Hari Guru tahun 2009.Para calon pemenang sayembara akan diundang ke Jakarta untuk menghadiri pengumuman pemenang.&lt;br /&gt;3. Hak Cipta (Hak Ekonomi) naskah pemenang sayembara ada pada Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Hak Moral melekat pada Penulis.&lt;br /&gt;4. Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Tel. (021) 3804248 Pesawat 275, Fax. (021) 3806229, serta melalui Situs Internet Pusat Perbukuan dengan alamat www.sibi.or.id. E-mail: pusbuk@sibi.or.id.&lt;br /&gt;Pusat Perbukuan&lt;br /&gt;Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-629354373424581111?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/629354373424581111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=629354373424581111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/629354373424581111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/629354373424581111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/04/sayembara-penulisan-naskah-buku.html' title='SAYEMBARA PENULISAN NASKAH BUKU PENGAYAAN TAHUN 2009'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdQwx4j_-RI/AAAAAAAAAlI/PoxM-nkbjzY/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-589036397155094743</id><published>2009-03-30T08:41:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T08:52:22.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan...'/><title type='text'>KETUA ISPI WISUDA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdDosV0daiI/AAAAAAAAAlA/3n36IUUjpDE/s1600-h/wwwwwwwwwwwwwww.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdDosV0daiI/AAAAAAAAAlA/3n36IUUjpDE/s400/wwwwwwwwwwwwwww.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319007008393620002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Atas nama Keluarga Besar ISPI Cabang Banyumas mengucapkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;SELAMAT DAN SUKSES &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;ATAS DIWISUDANYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Drs. DAYONO, MM (Ketua Umum ISPI Banyumas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;pada hari Selasa, 20 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Universitas Jenderal Soedirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;SEMOGA ILMU YANG TELAH DIPEROLEH DAPAT BERMANFAAT UNTUK  KEMAJUAN PENDIDIKAN &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kami yang ikut bangga:&lt;br /&gt;Keluarga Besar ISPI Cabang Banyumas&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-589036397155094743?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/589036397155094743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=589036397155094743' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/589036397155094743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/589036397155094743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/03/ketua-ispi-wisuda.html' title='KETUA ISPI WISUDA'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SdDosV0daiI/AAAAAAAAAlA/3n36IUUjpDE/s72-c/wwwwwwwwwwwwwww.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1903272833967933903</id><published>2009-03-12T05:16:00.001-07:00</published><updated>2009-04-25T21:07:03.087-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>BEDAH BUKU dan WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL ISPI-AGUPENA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;ISPI Cabang Banyumas bekerjasama dengan AGUPENA Jateng menyelenggarakan Bedah Buku dan Workshop Penulisan Artikel pada Media Massa. Kegiatan insya Allah akan dilaksanakan pada hari Kamis, 26 Maret 2009, di Aula SMAN 2 Purwokerto Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kegiatan ini untuk memfasilitasi para pendidik dalam menambah wawasan seputar pembelajaran sekaligus membekali keterampilan menulis artikel. Buku yang dibedah berjudul PEMBELAJARAN BERBASIS FITRAH karya Bapak Achjar Chalil, S.Pd (Ketua Umum AGUPENA Pusat). Pembedah terdiri dari Drs. Subur, M. Ag (Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto, Pembina ISPI Cabang Banyumas) dan Drs. H. Eko Sumaryono, M.Pd (Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuamas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Workshop Penulisan Artikel menghadirkan H. Didi Wahyu, S.H., M.H. (Kepala Biro Banyumas Suara Merdeka, Wartawan Senior).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Klik Gbr tuk memperbesar...&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbkDa-kr5XI/AAAAAAAAAk4/1Xq04smgeYg/s1600-h/X-BANNER+BEDAH+BUKU+-resize-z.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 153px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbkDa-kr5XI/AAAAAAAAAk4/1Xq04smgeYg/s400/X-BANNER+BEDAH+BUKU+-resize-z.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312280997468562802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;IKUTI dan MARI BELAJAR BERSAMA DENGAN ISPI dan AGUPENA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1903272833967933903?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1903272833967933903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1903272833967933903' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1903272833967933903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1903272833967933903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/03/bedah-buku-dan-workshop-penulisan.html' title='BEDAH BUKU dan WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL ISPI-AGUPENA'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbkDa-kr5XI/AAAAAAAAAk4/1Xq04smgeYg/s72-c/X-BANNER+BEDAH+BUKU+-resize-z.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2115564655878523865</id><published>2009-03-09T01:15:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T05:28:07.049-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbTTMPqZlcI/AAAAAAAAAkg/eiuxgHS8NWM/s1600-h/WWWWWWWWWWW.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 129px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbTTMPqZlcI/AAAAAAAAAkg/eiuxgHS8NWM/s200/WWWWWWWWWWW.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311102067892917698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Deni Kurniawan As'ari, S.Pd&lt;br /&gt;(Ketua Umum AGUPENA Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru merupakan sebuah profesi yang ‘memungkinkan’ pelakunya untuk melakukan aktivitas menulis. Mengapa? Karena secara kapasitas intelektual memadai, pengalaman mendukung dan dari segi waktu atau kesempatan terbuka lebar. Berbagai topik dapat dipilih untuk menjadi bahan tulisan, mulai dari permasalahan pembelajaran, isu pendidikan, kebijakan pemerintah, sampai menulis buku atau artikel di media massa.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, fenomena memprihatinkan muncul di lapangan, bahwa sebagian besar guru khususnya di Jawa Tengah masih enggan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang dikemukakan Sukartono, S.Ip., MM (LPMP Jawa Tengah, 4/2) saat membuka pertemuan guru penulis menarik dicermati, bahwa persentase guru PNS di Jawa Tengah yang sudah berhasil naik pangkat ke golongan IV-B masih sangat rendah. Untuk guru SD (0,20%), SMP (2,04%), SMA (1,65%), dan SMK (1,46%). Menurut beliau, banyaknya jumlah guru yang mentog pada golongan IV-A disebabkan karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali Tuhusetya : http://sawali.info). Nasib serupa dialami sebagian besar guru swasta yang banyak mengalami kegagalan saat mengikuti sertifikasi karena pengembangan profesi berupa karya tulisnya masih kosong-molongpong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Penyebab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditengarai ada sejumlah faktor yang menyebabkan para guru itu masih enggan menulis diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Satu&lt;/span&gt;, kesibukan. Sebagian besar guru mengatakan bahwa tugas guru sangat banyak terutama terkait dengan administrasi pembelajaran, ditambah lagi kalau mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala, ketua jurusan, pembimbing ekstra atau wali kelas sehingga konon nyaris tidak ada waktu untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dua&lt;/span&gt;, terjebak rutinitas kerja. Aktifitas mengajar dari pagi sampai siang, bahkan sampai malam bagi sebagian guru yang suka ngelesi (memberi pelajaran tambahan) tanpa sadar telah menjadikan guru terpola, yang hari-harinya diisi hanya untuk mengajar dan mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiga, &lt;/span&gt;rendahnya motivasi menulis. Barangkali faktor ini yang paling ‘berbahaya’ ketika keinginan untuk menulis memang lemah atau sama sekali tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Empat, &lt;/span&gt;kemalasan. Inilah sesungguhnya yang banyak menjangkiti para guru. Ada perasaan berat dan seolah menjadi beban tersendiri ketika harus menulis. Kemalasan ini tidak hanya dalam aktivitas menulis tetapi juga membaca. Dan, ketika membaca sudah malas maka bagaimana mau menulis. Pelbagai faktor di atas, barangkali masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Yang jelas, alasan kesibukan dan pekerjaan sebenarnya dapat disiasati ketika keinginan menulis telah tumbuh dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya Organisasi Guru Penulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengatasi keengganan para guru untuk menulis adalah perlunya suatu wadah yang secara simultan dan terarah menciptakan iklim dan nuansa menulis yang pada akhirnnya mampu mendongkrak animo guru untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ada tiga alasan pentingnya wadah guru penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Satu&lt;/span&gt;, mewujudkan budaya menulis. Organisasi yang secara khusus dan fokus dalam kepenulisan diharapkan akan menciptakan tradisi menulis di kalangan guru. Pengurus dan anggota yang tergabung dalam wadah ini dapat saling berinteraksi satu sama lain untuk mewujudkan budaya menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dua&lt;/span&gt;, memahami dunia kepenulisan. Melalui wadah ini dimungkinkan terbantunya para guru yang sebelumnya masih kesulitan menulis atau bahkan malas untuk mulai menulis. Berbagai kegiatan dan event yang sekiranya mendukung seperti workshop, diskusi, seminar, temu penulis, sharing, atau bedah buku dapat menjadi alternatif yang bermanfaat. Apalagi fasilitas saat ini yang dapat dimanfaakan para guru untuk belajar menulis sungguh sangat banyak, termasuk aktivitas guru ngeblog penyemaian berbagai tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;, Peningkatan kesejahteraan dan karir. Melalui organisasi guru penulis akan semakin ‘membanjir’ guru yang mau dan mampu menulis. Dampaknya langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap kesejahteraan guru. Misal, ada guru yang menyusun buku dan bukunya best seller sehingga memperoleh royalti yang melebihi gajinya sendiri. Selain itu kenaikan pangkat terutama bagi guru PNS akan berjalan lancar, termasuk guru swasta yang ingin lolos sertifikasi. Tentu saja, kesejahteran dan karir bukan tujuan utama, yang paling penting justru ketika para guru uang konon sekarang telah mendapat gelar baru sebagai insan cendekia dapat memaksimalkan amal sosialnya melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan untuk kemajuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AGUPENA, Antara Tantangan dan Harapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu organisas yangi concern di dunia kepenulisan dan di Provinsi Jawa Tengah baru terbentuk adalah Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena). Organisasi ini muncul pertama kali digagas oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Doktor Fasli Jalal, pada tanggal 28 Nopember 2006 (http://agupena.org). Dalam perkembangannya, organisasi ini menghimpun para guru yang memiliki minat untuk mengembangkan diri dalam dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi Agupena yaitu “melalui kegiatan menulis dan membaca, membimbing dan mendidik anak didik, menjadi manusia yang cerdas, aktif, kreatif, beriman dan bertaqwa, dan memiliki pola pikir yang cerah dan teratur”. Adapun misinya meliputi dua aspek, yaitu:&lt;br /&gt;A. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga, dan Kesehatan yang diisi dengan butir-butir kegiatan, antara lain 1).Pelatihan Penulisan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2).Pelatihan Penulisan Rencana Program Pembelajaran (RPP), 3).Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah (buku pelajaran, makalah) yang terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga dan kesehatan, 4).Pelatihan Penulisan Modul Bahan Ajar, 5) Penerbitan jurnal ilmiah, 6).Pelatihan menulis bagi siswa, 7).Lomba menulis dan membaca bagi guru dan siswa, 8).Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika yang meliputi: 1) Pelatihan Penulisan karya ilmiah yang terkait dengan Agama dan Akhlak Mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika, 2) Pelatihan Penulisan karya sastra (fiksi/non fiksi) dalam bentuk novel, puisi, cerpen, dan essay, 3) Pelatihan menulis karya sastra bagi guru dan siswa, 4) Penggalakan dan pemberdayaan majalah dinding sekolah dalam rangka membangun logika siswa lewat membaca dan menulis, 5) Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencermati visi dan misi AGUPENA, maka tidak menutup kemungkinan bahwa organisasi ini akan mampu mendorong budaya menulis di kalangan guru. Harapan ini sesungguhnya wajar saja ketika para guru yang terlibat dalam pembentukannya memiliki semangat MEMBANGUN SEMANGAT BERBAGI. Di samping itu, dukungan dari berbagai tokoh dan lembaga terhadap kelahiran organisasi sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tantangan yang perlu dihadapi oleh pengurus AGUPENA adalah bagaimana menjaga soliditas dan komitmen untuk selalu bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan dan kreativitas pengurus untuk menggali dana, agar organisasi berjalan dengan baik, ketika AGUPENA telah mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang independen, mandiri dan lepas dari pelbagai kepentingan pribadi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga kelahiran AGUPENA dapat turut serta bersama organisasi lain dalam upaya pembudayaan menulis di kalangan guru dan memajukan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bhisshowab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2115564655878523865?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2115564655878523865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2115564655878523865' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2115564655878523865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2115564655878523865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/03/organisasi-guru-penulis-dan-budaya.html' title='Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SbTTMPqZlcI/AAAAAAAAAkg/eiuxgHS8NWM/s72-c/WWWWWWWWWWW.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6356074938531361938</id><published>2009-02-21T00:46:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:44:47.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>JALAN “MENDEKAT” KEPADA ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Achjar Chalil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Saudaraku seiman. Semoga saudaraku selalu dilimpahi petunjuk dan taufik hidayah dari-Nya. Kutulis naskah kecil ini ini sebagai sebuah upaya untuk “bersedekah” dalam rangka menghambakan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, seringkali kita mendengar di TV, membaca di surat kabar, atau mendengar dari teman, bahwa si fulan terkena stroke, si fulan terkena serangan darah tinggi, dan si fulan mengalami ‘gangguan jiwa’ karena jabatannya dicopot, dan seterusnya-dan seterusnya. Peristiwa demi peristiwa yang terkait dengan jiwa sering terjadi, dan umumnya orang pergi ke psikolog untuk mencoba mencari jalan keluar dari kemelut jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kosep pendidikan di negara kita mewarisi konsep pendidikan Barat, sehingga filsafat pendidikan kita juga mengacu kepada filsafat barat yang notabene tidak mempercayai adanya ‘Ruh’ kata lain dari jiwa sebagaimana firman allah dalam surah As Sjams ayat 7-10 yang tercantum disini. Kebanyakan kita tidak memaknai jiwa sebagai ‘Ruh’, bagi kita jiwa adalah sesuatu yang menyangkut perasaan, yang diamati melalui perilaku yang ditumpangi oleh unsur-unsur biologis (kanakkanak, pubertas, dewasa, tua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era renaisans, ilmuwan barat menjauhkan diri dari gereja, filsafat barat yang dimotori oleh Plato, Socrates, Aristoteles, dan diteruskan oleh Rene Descartes melihat sosok manusia hanya dari dua dimensi, pertama, dimensi akal (otak), dan kedua dimensi fisik, mereka tidak mengenal dimensi yang ketiga yaitu jiwa (ruh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh filsafat barat ini pada akhirnya menjadi “gurita” yang “melilit” alam pikiran para cendikiawan dan ilmuwan dimana saja termasuk para cendikiawan dan ilmuwan yang tinggal dan hidup di bumi Indonesia, hatta para cendikiawan dan ilmuwan yang mengaku sebagai muslim. “Gurita” barat ini begitu kuat melilit konsep pendidikan di Indonesia, jadilah bangsa ini menjadi bangsa yang “terbelah jiwanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah anggota DPR yang terhormat, mereka manusia cerdas, namun bergilir mereka duduk dibangku pesakitan karena terlibat korupsi! Mantan menteri agama tentulah orang yang ‘alim (menguasai banyak ilmu dan teori keagamaan), namun juga harus duduk dibangku terdakwa&lt;br /&gt;dan dihukum karena korupsi, demikian juga mantan Ketua KPU yang Profesor Doktor dari Universitas kebanggaan bangsa, harus masuk penjara karena urusan surat suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua terjadi karena mereka belum menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup, bahkan bagi sebagian para cendikiawan dan ilmuwan yang mengaku dirinya muslim, alergi jika harus mengutip ayatayat Al Qur’an. Bagi mereka bisa jadi Al Qur’an adalah ‘Benda Kuno’ yang tak lagi layak dijadikan referensi dalam menjalani hidup (jika seseorang diberi usia 70 tahun, maka hidupnya di dunia ini hanya 365 x 70 = 25.550 hari, tidak sampai 100.000 hari), bagi mereka ini&lt;br /&gt;penalaran/rasio/akal adalah hal yang paling diutamakan (dalam konteks penalaran, bagaimana saya harus menjelaskan ketika berjalan ke Padang dengan Sepeda Motor, saya bermohon kepada Allah, agar saya tidak ditimpa hujan, maka memasuki Sawahlunto, hujan pun turun, di belakang saya hujan, di depan saya hujan. Saya berjalan ke depan, hujan di depan menjauh ke depan, hujan di belakang mengikuti, saya berjalan di antara dua hujan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan modern telah “mendewakan” nalar. Segala sesuatu diukur dengan nalar (akal), buruk baiknya sesuatu diukur dari nalar yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Seorang teman yang sangat terpelajar pernah berkata kepada saya, “Jika anak perempuan saya sudah&lt;br /&gt;dewasa maka kepadanya akan saya anjurkan agar senantiasa membawa kondom di dalam tasnya”. Lain waktu ada acara semarak dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia, penggunaan kondom dikampanyekan secara terbuka, nalar manusia modern(?) berkata, silahkan berhubungan seks dengan aman, padahal para ahli kesehatan sudah mengingatkan&lt;br /&gt;bahwa virus aids masih dapat melewati pori-pori kondom! Dan agama manapun melarang perzinahan...alias seks bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendewaan terhadap nalar membuat dunia mengalami kehancuran dan kerusakan secara sistematis. Alam dan lingkungan rusak, para pemilik modal dengan nalarnya barangkali berkata, “biar saja hutan itu gundul, yang penting perusahaan saya untung”. Pak Farid Anfasa&lt;br /&gt;Moeloek pernah berkata kepada saya, “Hutan mangrove itu jangan dirusak, sungguh sangat banyak kegunaan mangrove itu bagi manusia, kalau harus diuraikan secara detail akan memakan mata kuliah 3 sks”.  Seorang Farid bisa saja berkata demikian, namun pemilik modal dengan sukacita menebangi hutan mangrove di pantai utara Jakarta dan menjadikannya perumahan mewah, nalar pengembang rumah mewah itu barangkali berkata, “yang penting perusahaan saya untung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan hedonis sebagai akibat pendewaan kepada nalar menyebabkan banyak orang berlomba-lomba menumpuk harta dengansegala cara, jika dia berhasil maka dia akan sukacita, jika gagal, maka jiwanya terguncuncang, stress, narkoba adalah jalan keluar yang paling&lt;br /&gt;ampuh bagi mereka untuk “lari’ dari persoalan hidup, mereka adalah insan yang jauh dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, Allah yang Maha Pengasih memberi pilihan kepada kita dalam menjalani hidup. Jika kita memilih dan mengembangkan unsur ketakwaan, insya Allah, jiwa kita akan bersih. Renungkanlah ayat berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang saya kutip dari Surah As Sjams ayat 7-10.&lt;br /&gt;7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),&lt;br /&gt;8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan&lt;br /&gt;ketakwaannya.&lt;br /&gt;9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,&lt;br /&gt;10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini adalah “jalan” bagi kita untuk mendekat kepada Allah. Maka lakukanlah pensucian jiwa terus menerus, caranya arahkan niat, melakukan segala sesuatu yang baik dihadapan Allah dalam rangka menghambakan diri kepada Allah, dan mensucikan jiwa sesuai dengan&lt;br /&gt;anjuran Allah. Menegakkan shalat tidak lagi diniatkan untuk masuk surga atau mendapat pahal, shalat ditegakkan dalam rangka menghambakan diri kepada Allah dan mensucikan jiwa. Urusan pahala, serahkan saja kepada Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah ingkar dengan janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku sesungguhnya jiwa siapapun apa pun agamanya adalah suci, manusialah yang membuat jiwa yang suci itu terbelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih...aku lebih....dan merasa lebih ini pada akhirnya akan menutupi jiwa yang suci dimana “kekuasaan Allah bersemayam”, jiwa ini pun tak lagi mampu “membangun komunikasi” dengan Allah Sang Pencipta, tak lagi mampu “menangkap frekuensi” dari Allah yang “dipancarkan”-Nya setiap saat. Jiwa pun “terserang virus” dengki, tamak, takabur, merasa hebat. Jiwa pun terserang “penyakit” cinta dunia, takut mati, dan merasa diri akan hidup selamanya, tak tahu kapan harus “berhenti” dan tak tahu dimana dia “harus berhenti” mengejar dan mencintai dunia dengan segala isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku. Aku adalah insan yang “merindukan” Allah. Bagiku kematian hanyalah “sebuah pintu” dimana aku harus kembali ke kampung halaman yang abadi.....Namun pada saat yang sama aku terus berkarya dan beribadah dalam rangka menghambakan diri kepada Allah...Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cimone Permai-Tangerang-Banten&lt;br /&gt;20 Februari 2009 pkl. 18:52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6356074938531361938?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6356074938531361938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6356074938531361938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6356074938531361938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6356074938531361938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/02/jalan-mendekat-kepada-allah.html' title='JALAN “MENDEKAT” KEPADA ALLAH'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2830245060664866394</id><published>2009-02-17T19:15:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:06:32.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Sekolah Gratis Acap Disalahtafsirkan</title><content type='html'>SEMARANG- Masyarakat  acap menafsirkan secara keliru program sekolah gratis. Masyarakat mengira pemerintah tak sekadar menggratiskan biaya sekolah, tetapi juga menanggung beban hidup anak usia wajib belajar, seperti uang transpor dan alat tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”La wong anak yang tak sekolah saja butuh biaya kok. Jadi biaya pribadi peserta didik, misalnya uang saku, transpor, sepatu, buku/alat tulis, adalah tanggung jawab peserta didik, dalam hal ini orang tua,” kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan hal itu di hadapan para rektor, kepala dinas pendidikan, dan pakar pendidikan se-Jawa Tengah, pada acara sosialisasi ”Kebijakan Pendidikan Gratis Pendidikan Dasar Tahun 2009 dan UU BHP” di LPMP Srondol, Semarang, kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dia meminta pemerintah daerah menerbitkan peraturan daerah (perda) tentang peraturan sekolah gratis. Sebab, kondisi setiap daerah berbeda. ”Perda itu harus jelas mengatur mana yang gratis dan mana yang dibebankan ke peserta didik. Kalau perda tidak abu-abu, tidak akan diprotes masyarakat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menyatakan biaya operasional sekolah (BOS) tahun ini meningkat. Namun itu tak menghalangi peserta didik/orang tua/wali murid yang ingin memberikan sumbangan sukarela yang tak mengikat ke sekolah. ”Harus dibedakan antara sumbangan dan pungutan. Saat ini tak sedikit kepala sekolah takut menerima sumbangan karena khawatir diperiksa kejaksaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ujar dia, itu diperbolehkan. Sebab, jumlah dan waktu penyerahan sumbangan tak ditentukan. Selain itu sumbangan ke sekolah merupakan bagian dari kedewasaan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiru Sulsel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengemukakan beberapa pemerintah provinsi menambah BOS dari APBD, antara lain DKI (dua kali lipat), Sumsel, Sulsel, Sulteng, Jabar, dan Kaltim. ”Jawa Tengah tak usah ikut-ikut DKI karena tidak akan mampu. Sebaiknya meniru Sulsel,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan kondisi Jawa Tengah dan Sulsel hampir sama. Pemerintah Provinsi Sulsel bersama kabupaten/kota sepakat menambah separo dari anggaran BOS lama. ”Tahun 2008, Sulsel mewujudkan pendidikan gratis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Sulsel, kata dia, juga menandatangani nota kesepahaman dengan polisi dan jaksa. Hal itu berkait dengan penindakan yang bisa ditangani (pidana) dan tidak (administratif). ”Ada sekolah dengan anggota komite sekolah guru besar sebuah perguruan tinggi di sana. Namun sekolah itu memungut biaya pendidikan. Namun aparat menindak tegas, tidak pandang bulu dan memerkarakannya ke jalur hukum,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal UU BHP, dia mengajak masyarakat membaca lebih dahulu secara utuh sebelum mengkritik. ”UU BHP diamanatkan UU Sisdiknas. Itu reformasi struktural satuan pendidikan. Jadi otonomisasi satuan pendidikan lebih optimal dan mengarah ke demokratisasi satuan pendidikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membantah anggapan bahwa pemerintah lepas tangan dengan menerbitkan undangundang itu. Sebab, pemerintah tetap menanggung biaya wajib belajar pendidikan dasar, biaya operasional, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menampik BHP identik dengan komersialisasi. Karena, siapa pun yang terbukti memperkaya diri sendiri akan dikenai sanksi tegas, yakni diancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 500 juta. (H11-53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2830245060664866394?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2830245060664866394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2830245060664866394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2830245060664866394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2830245060664866394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/02/sekolah-gratis-acap-disalahtafsirkan.html' title='Sekolah Gratis Acap Disalahtafsirkan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3565103419534780326</id><published>2009-02-10T23:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T23:14:09.938-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2009</title><content type='html'>TUJUAN:&lt;br /&gt;Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) bertujuan untuk membangkitkan minat dan memupuk kegemaran remaja untuk melakukan kegiatan penelitian yang bersifat ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT PESERTA:&lt;br /&gt;Warga Negara Indonesia; Siswa SMA/MA negeri/swasta; Perorangan atau kelompok; Usia maksimum 19 tahun; Bersedia  menyerahkan hak cipta hasil karyanya; Tunduk kepada keputusan Dewan Juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUANG LINGKUP KEILMUAN:&lt;br /&gt;Pertanian, Biologi, Matematika, Fisika, Mesin, Elektronika, Kimia, Geologoi, Kesehatan, Psikologi, Bahasa, Kesusastraan, Sejarah, Kebudayaan, Ekologi, Antar Bidang, Ekonomi, Manajemen, Pendidikan, Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis dapat berupa penemuan baru, rekaan asli, inovasi, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;PENYAJIAN:&lt;br /&gt;Judul menarik, singkat, dan mencerminkan isi karya penelitian; Menyertakan pendahuluan yang menerangkan intisari masalah yang diteliti, metode atau tatacara lain yang dipakai untuk mendapatkan data dan informasi; Menguraikan hasil penelitian berdasarkan pustaka yang dipakai; Memberikan secara lengkap daftar pustaka (nama penulis, tahun, judul buku/laporan, nama penerbit, kota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENGIKUTI:&lt;br /&gt;Karya dikirim kepada: Sekretariat Panitia&lt;br /&gt;Lomba Penelitian Ilmiah Remaja&lt;br /&gt;DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;br /&gt;Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas&lt;br /&gt;Gedung B Ditjen Mandikdasmen&lt;br /&gt;Jl. RS. Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan 12410&lt;br /&gt;Telp. +62 21 75912056, Fax. +62 21 75912057&lt;br /&gt;email:bagpro_pwk@yahoo.com, www.dikmenum.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap karya disertai Nama Lengkap, Tempat/Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Nomor Induk Siswa, Alamat Rumah dan Alamat Sekolah lengkap dengan nomor telepon, Nama Orang Tua dan Pendidikan Orang Tua. Dilengkapi dengan fotocopy kartu OSIS/Kartu Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan karya penelitian ilmiah oleh Sekretariat panitia dimulai tanggal 2 Mei 2009 dan berakhir tanggal 30 Juni 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENENTUAN FINALIS &amp;amp; PEMENANG:&lt;br /&gt;Semua karya yang masuk ke Sekretariat Panitia akan diperiksa kesesuaiannya dan persyaratannya. Semua karya yang memenuhi persyaratan akan dinilai oleh Dewan Juri untuk dipilih dan ditentukan sejumlah karya terbaik sebagai finalis. Para finalis hasil penilaian Dewan Juri akan diminta kehadirannya di Jakarta pada waktu yang telah ditentukan untuk diwawancarai guna menentukan pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH DAN PENGHARGAAN:&lt;br /&gt;Menteri Pendidikan Nasional akan memberikan penghargaan berupa TABANAS, Piagam Penghargaan, serta hadiah lain kepada semua finalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Pertama:&lt;br /&gt;TABANAS sebesar Rp. 10.000.000,-&lt;br /&gt;Pemenang Kedua:&lt;br /&gt;TABANAS sebesar Rp. 7.500.000,-&lt;br /&gt;Pemenang Ketiga:&lt;br /&gt;TABANAS sebesar Rp. 6.000.000,-&lt;br /&gt;Pemenang Harapan Pertama:&lt;br /&gt;TABANAS sebesar Rp. 3.500.000,-&lt;br /&gt;Pemenang Harapan Kedua:&lt;br /&gt;TABANAS sebesar Rp. 3.000.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN KHUSUS:&lt;br /&gt;Karya LPIR yang dikirim tidak boleh merupakan bahan yang diajukan untuk persyaratan ujian, penyelesaian tugas sekolah, dan lain – lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya yang diajukan tidak boleh diikutkan pada lomba lain dan juga bukan karya yang pernah diikutsertakan dalam lomba sebelumnya atau lomba lain yang sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hasil karya yang terpilih sebagai finalis merupakan hasil karya kelompok, maka yang diundang hanya ketua atau salah satu anggota kelompok yang mendapat kepercayaan untuk mewakili kelompoknya, dengan persyaratan tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;br /&gt;Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3565103419534780326?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3565103419534780326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3565103419534780326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3565103419534780326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3565103419534780326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/02/lomba-penelitian-ilmiah-remaja-lpir.html' title='Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2009'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-761989060495126813</id><published>2009-02-05T23:18:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:07:39.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>INFO KELAHIRAN ORGANISASI</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Telah berdiri sebuah  organisasi Guru Penulis di Jawa Tengah. Namanya &lt;a href="http://agupena.org"&gt;AGUPENA &lt;/a&gt;(Asosiasi Guru  Penulis Seluruh Indonesia) Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Info secara lengkap dapat dilihat &lt;a href="http://sawali.info/2009/02/06/agupena-jawa-tengah-dan-ranah-pemikiran-guru-kreatif/"&gt;di sini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://pena-deni.blogspot.com/2009/02/agupena-jawa-tengah.html"&gt;di sana&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://zulmasri.wordpress.com/2009/02/04/520/"&gt;boleh kesitu&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-761989060495126813?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/761989060495126813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=761989060495126813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/761989060495126813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/761989060495126813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/02/info-kelahiran-organisasi.html' title='INFO KELAHIRAN ORGANISASI'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-8367457742815015489</id><published>2009-02-02T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T03:49:25.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>PENDIDIKAN GURU MASA DEPAN YANG BERMAKNA BAGI PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Prof. Dr. H. Soedijarto, MA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I.PENDAHULUAN&lt;br /&gt;“The importance of the role of the teacher as an agent of change, promoting understanding and tolerance, has never been more obvious than today. It is likely become ever more critical in the twenty-first century. The need for change, from nasionalism to universalism, from ethnic and cultural prejudice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically divided world where high technology is the privilege of the few to a technologically united world places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the young  generation”. Tulisan ini sengaja dimulai dengan mengutip kesimpulan panitia UNESCO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;karena pernyataan itu menekankan tentang demikian pentingnya peranan guru dalam menghadapi perubahan masyarakat global hampir dalam semua dimensi kehidupan, untuk ikut “moulding the characters and minds” dari generasi muda memasuki abad ke-21. Kini kita sudah akan segera memasuki decade kedua abad ke-21. Tetapi lebih dari itu sesungguhnya para “Founding Fathers” pada saat proklamasi menyadarai bahwa pada saat proklamasi kemerdekaan masyarakat bangsa Indonesia juga menghadapi masalah yang sama dengan masyarakat dunia dalam memasuki abad ke-21, yaitu tantangan untuk mengubah masyarakat Indonesia yang serba tertinggal memasuki perubahan moderen abad ke-20. Karena itu dalam pernyataan kemerdekaan yang mereka susun, yang kemudian menjadi Pembukaan UUD1945 ditegaskan bahwa salah satu misi utama penyelenggaraan Pemerintahan Negara Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pernyataan kemerdekaan yang menekankan upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” ini, seperti diulas oleh penulis dalam berbagai tulisannya* , hakekatnya berangkat dari kesadaran para pendiri Republik tentang perkembangan masyarakat Indonesia pada tahun 1945 yang serba tertinggal dalam hamper semua dimensi kehidupan diukur dari kacamata peradaban modern pada pertengahan abad ke-20, baik pada politik, ekonomi, sosial budaya, dan IPTEK. Karena itu perlu proses transformasi budaya dari masyarakat yang tradisional dan feudal ke masyarakat modern dan demokratis. Karena itu pula Bung Karno menyatakan bahwa hakekat revolusi yang kita hadapi adalah “summing-up of many revolution in one generation”. Untuk itu para pendiri Republik melalui UUD 1945 pasal 31 ayat (2) dan pasal 32 menggariskan : “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional” (pasal 31 ayat (2)) dan “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia” (Pasal 32).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini berarti bahwa dalam proses transformasi budaya, kedudukan sekolah sangatlah strategis. Tetapi  sayang sejak proklamasi system persekolahan kita belum sepenuhnya diberi kemampuan untuk berperan sebagai pusat pembudayaan tetapi tidak lebih dari tempat untuk “mendengar, mencatat, dan menghafal”. Suatu tradisi sekolah yang dijaman penjajahan merupakan tradisinya sekolah untuk kaum pribumi, yaitu Sekolah Desa, dan bukan tradisi sekolah yang melahirkan Sukarno, Hatta, Syahrir, dan para “Founding Fathers” sebagai pemikir dan pembaharu.&lt;br /&gt;Memasuki abad ke-21 kita memiliki UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang dalam pandangan penulis memuat filosofi pendidikan yang memungkinkan sekolah dapat berperanan sebagai pusat pembudayaan dan mendudukkan guru untuk berperanan ikut “moulding the craracters and mind of the young generation”. Berangkat dari pandangan dasar “Pendidikan sebagai wahana proses pembudayaan dalam proses transformasi budaya (mencerdaskan kehidupan bangsa) penulis akan menyoroti Pendidikan Guru Masa Depan, yaitu pendidikan guru yang mampu melahirkan guru yang berperanan dalam proses pembudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyoroti Pendidikan Guru Masa Depan tulisan ini akan berturut-turut menganalisis : (1) Filsafat pendidikan yang dianut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Implikasinya; (2) Guru sebagai Jabatan Profesional dan Maknanya; (3) Pendidikan Guru yang Relevan; dan (4) Catatan Penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.FILSAFAT PENDIDIKAN YANG DIANUT UU NO. 20 TAHUN 2003 DAN IMPLIKASINYA&lt;br /&gt;Bila kita telaah UU Sisdiknas kita akan menemukan perbedaan yang esensial antara filosofi pendidikan yang dianut oleh UU No. 2 Tahun 1989 dengan yang dianut UU No. 20 Tahun 2003.&lt;br /&gt;Dalam UU No. 2 Tahun 1989 :&lt;br /&gt;“Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan / atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang” (pasal 1 ayat (1) UU No. 2 Tahun 1989), bandingkan dengan hakekat pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 :&lt;br /&gt;“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya  untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”. (pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping perbedaan tentang hakekat pendidikan, kedua UU Sisdiknas tersebut, walaupun dasarnya sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945 (pasal 2), dalam fungsi dan tujuan pendidikan keduanya juga berbeda. Perhatikan kutipan dibawah ini&lt;br /&gt;Pasal 3 UU No. 2 Tahun 1989&lt;br /&gt;“Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”&lt;br /&gt;Pasal 3 UU No. 20 tahun 2003, tertulis :&lt;br /&gt;“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tujuan pendidikan nasional, kita dapat bandingkan dalam kutipan berikut :&lt;br /&gt;Pasal 4 UU No. 2 Tahun 1989&lt;br /&gt;“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dab berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 yang tertulis dalam pasal yang sama dengan fungsi pendidikan nasional, tertulis :&lt;br /&gt;“....... bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”&lt;br /&gt;Berangkat dari kutipan-kutipan diatas jelaslah bahwa UU No. 20 Tahun 2003 menganut aliran filsafat pendidikan yang lebih modern dari UU No. 2 Tahun 1989, baik dalam hal pengertian atau hakekat pendidikan maupun fungsi pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau UU No. 2 Tahun 1989 menganut pandangan yang menekankan pendidikan dan/atau lembaga pendidikan yang aktif, seperti “menyiapkan” dan “mengembangkan”, sedangkan UU No. 20 Tahun 2003 menekankan aktifnya peserta didik seperti “agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya”. Demikian juga dalam rumusan fungsi pendidikan. UU No. 2 Tahun 1989 sasaran fungsi pendidikan nasional lebih luas, yaitu : “terwujudnya tujuan nasional”. Sedangkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 sasarannya lebih menjurus yaitu “dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”, melalui berkembangnya kemampuan dan terbentuknya karakter serta peradaban banga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam hal tujuan pendidikan “substansinya hampir sama” hanya cara pencapaiannya berbeda. UU No. 2 Tahun 1989 menekankan istilah “mengembangkan” sedangkan UU No. 20 Tahun 2003 menggunakana istilah “berkembangnya potensi peserta didik”.&lt;br /&gt;Penulis sengaja menyoroti hal ini sebelum memasuki tema pokok yaitu Pendidikan Guru, karena dalam pandangan penulis selama ini pelaksanaan pendidikan nampak tidak mempedulikan filosofi pendidikan atau konsepsi dasar tentang pendidikan yang dianut. Yang seharusnya secara sistemik dan sistematik diupayakan perwujudannya. Akibatnya berbagai perubahan UU sejak tahun 1950 pengaruhnya tidak sampai ke perubahan proses pembelajaran yang dihayati peserta didik. Padahal hanya perubahan proses pembelajaran yang dilakukan dan dihayati peserta didik suatu system pendidikan bermakna bagi pembangunan bangsa. Dan gurupun tetap berperan seperti belum ada perubahan dalam filosofi pendidikan yang dianut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU No. 20 tahun 2003 disamping menganut filosofi pendidikan yang menekankan kepada menciptakan “suasana dan proses pembelajaran” agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam kaitan ini UU ini lebih lanjut menganut paradigma baru dalam pelaksanaan pendidikan seperti dapat dibaca pada pasal 4 ayat (3) yang menyatakan : “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik”. Suatu model pendidikan yang dianut oleh Negara seperti Amerika Serikat, dan suatu model pendidikan yang tidak menempatkan lembaga pendidikan hanya sebagai tempat untuk “mendapatkan pengetahuan”. Prinsip ini dalam pandangan penulis juga diabaikan. Akibatnya setelah 63 tahun merdeka, cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam pengertian yang disinggung didepan belum juga terwujud. Masyarakat bangsa Indonesia belum juga cerdas kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ulasan terdahulu dapatlah ditarik beberapa catatan :&lt;br /&gt;1)Bahwa pendidikan yang dianut oleh UU No. 20 Tahun 2003 bukanlah pendidikan, hanya sebagai proses memperoleh pengetahuan yang umumnya tidak relevan;&lt;br /&gt;2)Bahwa pendidikan yang dianut oleh UU No. 20 Tahun 2003 bukanlah pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai pendengar, pencatat, dan penghafal agar dapat lulus dalam ujian akhir yang dirancang utamanya untuk mengukur ketiga hal tersebut.&lt;br /&gt;Tetapi sebaliknya UU No. 20 Tahun 2003 adalah pendidikan yang :&lt;br /&gt;1)Merupakan proses pembudayaan segala kemampuan, nilai, dan sikap* dalam rangka mengembangkan kemampuan (intelektual, social, kultur, civic, dan ekonomi) dan membentuk watak (kepribadian mandiri, bertanggung jawab, demokratis, dan bermoral).&lt;br /&gt;2)Merupakan pendidikan yang memandang peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya, melalui proses pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan, yang oleh UNESCO melalui Komisi Internasionalnya dianjurkan untuk menerapkan empat pilar belajar yaitu : Learning to Know, Learning to Do, Learning to Live Together, dan Learning to Be”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran dan peran satuan pendidikan sebagai pusat pembelajaran yang dituntut oleh UU No. 20 Tahun 2003, yang dalam pandangan penulis sangat relevan bagi Indonesia dalam memasuki abad ke-21 ini memerlukan sosok guru yang benar-benar professional. Untuk itu bagian berikut akan mencoba mengulasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.GURU SEBAGAI JABATAN PROFESIONAL DAN MAKNANYA&lt;br /&gt;Bagi penulis, lahirnya UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, khususnya bagian tentang Guru adalah suatu pembaharuan pendidikan guru yang revolusioner. Karena melalui UU ini jabatan guru secara resmi didudukkan sebagai jabatan professional. Mungkin ada yang bertanya “Apakah jabatan guru selama ini belum berstatus jabatan professional? Dalam pengertian “Profesi sebagai pekerjaan/jabatan yang memerlukan “Advanced Education and Special Training”, selama ini pekerjaan guru selama ini sesungguhnya belum berstatus sebagai jabatan professional. Untuk itu sebelum membahas makna jabatan guru sebagai jabatan professional, berikut akan diulas secara singkat perkembangan pendidikan guru.&lt;br /&gt;Kalau kita menjejaki sejarah pendidikan Indonesia, kita akan mendapatkan pengetahuan bahwa kualifikasi guru yang mengajar di SD, SLTP, dan SLTA pada jaman penjajahan, dan jaman Indonesia merdeka sampai dengan tahun terakhir dekade 1950-an dan permulaan dekade 1960-an jauh dibawah kualifikasi guru pada saat ini. Pada jaman penjajahan Belanda pendidikan guru SD 3 tahun (Sekolah Desa) adalah CVO (2 tahun setelah SD), pendidikan guru SD Nomor dua (SD 5 tahun) adalah Normal School (4 tahun setelah lulus SD), untuk HIS (Sekolah Dasar Belanda untuk orang Indonesia dengan bahasa pengantar bahasa Belanda yang lamanya 7 tahun) adalah HIK (6 tahun setelah HIS) dan untuk SMP (MULO) adalah HooftAkte (Kursus seperti PGSLP). Praktek ini berlanjut setelah Indonesia merdeka. Sampai dengan tahun 1957 pendidikan guru SD adalah Sekolah Guru B (SGB – 4 tahun setelah SD), guru SMP adalah SGA (6 tahun setelah SD atau 3 tahun setelah SMP/SGB kelas III), dan guru SLTA adalah B I (2 tahun setelah SMA). Setelah tahun 1957 guru SD haruslah lulusan SGA. Pada saat itu Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) belum menghasilkan lulusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini terutama sejak tahun 1989 kualifikasi minimum untuk mengisi jabatan guru ditingkatkan yaitu untuk guru SD adalah Diploma II Kependidikan (2 tahun pasca SLTA), untuk guru SLTP adalah D3 kependidikan (3 tahun pasca SLTA), dan untuk guru SLTA adalah S1 kependidikan dan S1 dengan Akta Mengajar (Akta IV). Pertanyaannya mengapa pada masa penjajahan dan permulaan kemerdekaan, guru dengan kualifikasi pendidikan yang jauh lebih rendah dari kualifikasi pendidikan guru pada saat ini dipandang telah berhasil menghasilkan lulusan yang “bermutu” sedangkan sekarang dengan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi banyak dipersoalkan mutu dari pendidikan yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak proporsional membandingkan mutu pendidikan pada tahun 1950-an dengan mutu pendidikan pada tahun 1989 keatas. Karena jumlah peserta didik pada dua periode tersebut perbedaannya berlipat. Murid SD pada tahun 1955 sebanyak 7.113.456 orang ,tahun 1989/1990  19.296.714. Siswa SLTP pada tahun 1955 berjumlah 197.189 orang, pada tahun 1989/1990 jumlah siswa SLTP 13.672.438; siswa SLTA pada tahun 1955 berjumlah 103.267 orang, sedangkan pada tahun 1989/1990 berjumlah 4.338.386 orang. Disamping itu sekolah pada waktu itu pendidikan mengutamakan fungsi memilih dan memilah daripada mengembangkan potensi peserta didik. Karena itu banyak SD yang hanya berhasil meluluskan murid kelas VI-nya sekitar 10 % demikian juga SLTP dan SMA. Sedangkan pada tahun 1980-an pada saat telah dicanangkan wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun dan dirancang wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun  fungsi sekolah seyogyanya tidak hanya menseleksi melainkan dan terutama adalah mengembangkan kemampuan peserta didik. Karena itu tidak dapat diterima kalau banyak murid SD dan SMP yang dinyatakan tidak lulus, karena sekolah harus menyediakan tempat bagi anak-anak baru yang jumlahnya berlipat dan harus ditampung. Disinilah letak masalahnya. Peranan guru pada saat melayani jumlah murid yang jumlahnya sedikit dan peranan sekolah yang terutama adalah memilah dan memilih, tidak dapat disamakan dengan peranan guru, pada saat tugasnya adalah mengembangkan potensi peserta didik yang heterogen latar belakangnya, baik kemampuan dasar, sosial, ekonomi, dan budaya. Dan kenyataan baru inilah yang menjadikan jabatan guru dituntut menjadi jabatan profesional.&lt;br /&gt;Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jerman, yang menjadikan sekolah sebagai lembaga untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan mengarahkannya sesuai dengan kemampuan dasar, bakat dan minatnya telah lama menjadikan jabatan guru sebagai jabatan profesional yang pendidikannya setara dengan pendidikan jabatan profesional lainnya, yaitu dokter dan pengacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pendidikan yang menjadi massal “Education for All” diabad ke-21 diperlukan guru yang “profesional”? Untuk menjawab pertanyaan ini berikut akan dianalisis karakteristik pendidikan yang bersifat massal di era globalisasi.&lt;br /&gt;Diabad ke-21 ini tidak ada negara didunia ini yang tidak menerapkan wajib belajar, hanya satu negara berbeda dari negara lainnya berbeda dalam penetapan lamanya wajib belajar. Ada negara yang menerapkan wajib belajar 12 tahun; seperti Amerika Serikat, ada negara yang menerapkan wajib belajar 10 tahun seperti Inggris dan Jerman, dan ada negara yang menarapkan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun seperti Indonesia, disamping masih ada negara negara di Afrika dan Asia Selatan yang menerapkan wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan wajib belajar ini yang berarti bahwa semua anak dengan perbedaan latar belakang baik kemampuan dasar kognitif, latar belakang sosial ekonomi dan minat serta bakat harus memperoleh pendidikan yang bermutu dan dilayani serta dapat berkembang sesuai dengan kemampuan, minat dan bakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu diera globalisasi ini ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan sumber bahan untuk dipelajari berkembang demikian cepat. Dalam kondisi yang demikian tuntutan terhadap kualitas manusia terdidik baik kemampuan intelektual, kemampuan vokasional dan rasa tanggung jawab kemasyarakatan, kemanusiaan dan kebangsaan juga meningkat sesuai dengan perkembangan masyarakat yang terus berubah dan meningkat tuntutannya kepada para warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heterogenitas peserta didik dalam berbagai dimensi (intelektual, kultural, dan ekonomi), terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber obyek belajar, terus berubahnya masyarakat dengan tuntutannya merupakan faktor yang menjadikan guru harus profesional. Karena itu peranan guru tidak lagi hanya memberikan pelajaran dengan ceramah atau mendikte tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan, bakat dan minat peserta didik. Guru juga tidak dapat lagi menggunakan bahan pelajaran yang sudah ketinggalan jaman. Guru juga tidak dapat lagi hanya  membantu peserta didik untuk dapat menjawab pertanyaan yang siftanya hafalan. Guru dalam era globalisasi perlu mampu merancang, memilih bahan pelajaran dan strategi pembelajaran (dalam bahasa KBK Sylabus) yang sesuai dengan anak dengan latar belakang yang berbeda, serta mengelola proses pembelajaran secara taktis dan menyenangkan, mampu memilih media belajar dan merancang program evaluasi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang berorientasi kepada penguasaan kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan pendidikan guru yang berderajat profesional. Dikatakan berderajat karena dalam setiap jabatan profesional dikenal hierarki profesional yaitu : profesional, semi profesional, teknisi, juru, dan tukang. Kalau dalam dunia kedokteran kita mengenal : tenaga dokter (profesional), para medik, yang lulusan Akademi sebagai semi profesional, yang lulusan SLTA sebagai teknisi (perawat) dan juru rawat. Di Amerika Serikat, guru, baik guru SD, guru SMP maupun SMA harus berpendidikan S1 ditambah satu sampai dua tahun kuliah dan latihan keguruan untuk mendapat sertifikat guru. Di Jerman, untuk guru SD, harus berpendidikan “PAEDAGOGISCHE HOCHSCHULE”-- 4 tahun setelah SMA, untuk guru (Gymnasium) dituntut pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan pada Universitas yang meliputi 6 semester untuk penguasaan ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan ajar dan 2 semester paedagogik. Kesemuanya baik guru SD, SMP maupun SMA setelah lulus pendidikan di Perguruan Tinggi/Universitas tidak otomatis berwenang sebagai guru (certified teacher) melainkan harus melalui tahap magang selama 18 bulan dan diakhiri dengan ujian kewenangan mengajar sebelum dapat memperoleh tanda sebagai guru yang berwenang.&lt;br /&gt;Terilhami oleh praktek pendidikan calon guru didua negara tersebut, dan pengalaman menerapkan berbagai inovasi pendidikan dalam periode 1974 – 1981, saya pada tahun 1982 sampai kepada kesimpulan perlunya peningkatan jabatan guru sebagai jabatan profesional, suatu jabatan yang memerlukan pendidikan lanjut dan latihan khusus, yaitu S1 plus sebagai yang saya tulis dalam artikel yang diterbitkan pada tahun 1989, yang bersama ini saya lampirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan KBK hakekatnya sama dengan penerapan kurikulum berorientasi tujuan yang diterapkan melalui kurikulum 1975, yang menuntut guru menyusun Satuan Pelajaran. Dalam pelaksanaan KBK guru dituntut menyusun Sylabus. Untuk dapat melakukan tugas tersebut dituntut kemampuan yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan sebagai sumber belajar dan sebagai “ways of learning”, mengenal peserta didik dengan karakteristiknya (kemampuan dasar, minat, bakat, dan pola belajarnya), memahami kompetensi yang harus dikuasai peserta didik pada akhir jenjang pendidikan, pada akhir semester, dan pada akhir setiap penggalan belajar, karena tanpa menguasai berbagai pengetahuan dasar tentang ilmu pengetahuan, tentang peserta didik, tentang masyarakat dan budaya tempat sekolah beroperasi, teori belajar, berbagai model belajar, dan berbagai model evaluasi, sukar diharapkan guru akan dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan baru penyelenggaraan pendidikan nasional yang terus berubah, seperti penerapan KBK. Di dunia kedokteran, sebagai salah satu bidang profesi yang telah lama mapan, para dokter tidak mengenal penataran hanya karena adanya cara baru dalam pengobatan. Tidak lain karena sebagai tenaga profesional mereka telah benar-benar siap dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk terus mengembangkan kemampuan profesionalnya sesuai  dengan tuntutan dunia profesi kedokteran yang terus berubah.&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan dunia kedokteran, dunia keguruan, terutama di Indonesia masih jauh tertinggal. Karena itu tepat sekali kalau berbagai pihak melakukan “upaya meningkatkan profesionalisme guru untuk memenuhi tuntutan kurikulum berbasis kompetensi”. Karena bagaimanapun juga pelaksanaan KBK menuntut guru yang profesional, sedang tingkat kemampuan profesional guru kita masih beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan inilah UU No. 14 Tahun 2003 yang menuntut pendidikan guru sebagai pendidikan bertaraf professional S1 + atau D 4 + merupakan suatu keputusan yang sesuai dengan tuntutan pendidikan memasuki abad ke-21.&lt;br /&gt;Mengapa pendidikan guru professional perlu berderajat S1 Plus ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.PENDIDIKAN GURU SEBAGAI PENDIDIKAN PROFESIONAL DAN IMPLIKASINYA&lt;br /&gt;Ulasan dari bagian I sampai dengan II hakekatnya berangkat dari suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya selama ini proses pendidikan yang berlangsung di berbagai satuan pendidikan tidak dirancang dan dilaksanakan sebagai proses pembudayaan yang, perlu terjadi untuk memungkinkan terjadinya proses transformasi budaya menuju suatu bangsa Indonesia yang cerdas kehidupannya, yaitu yang maju (modern, yang rasional dan berorientasi IPTEK), yang demokratis, yang sejahtera, dan berkeadilan, serta mampu menghadapi masalah sebagai tantangan, dan tantangan sebagai kesempatan untuk maju (problem as a challenge, and challenge as a chance to progress)*. Dan bukan bangsa yang memandang masalah sebagai ancaman yang harus dihindari, yang di Jawa dikenal “Ana Bapang Den Simpangi” atau dalam pepatah Melayu “Kalau Takut Dilembur Pasang Jangan Berumah Ditepi Pantai”. Untuk itulah penulis memandang bahwa filosofi atau konsepsi pendidikan yang dianut UU No. 20 Tahun 2003 menuntut diselenggarakannya suatu proses pendidikan sebagai proses pembudayaan. Untuk itu pula diperlukan guru yang bertaraf professional. Dalam kaitan inilah penulis memandang kehadiran UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mendudukkan guru sebagai jabatan professional merupakan titik berangkat untuk merancang pendidikan guru yang relevan. Walaupun demikian penulis tidak sepenuhnya sepaham dengan taksonomi kompetensi guru menjadi Kompetensi Paedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Profesional. Untuk itu selanjutnya pada bagian berikut akan disajikan pandangan penulis**  tentang kemampuan professional guru, kurikulum pendidikan guru, sampai dengan penjenjangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mencapai guru yang memiliki kemampuan professional penuh, perlu diadakan pendidikan S1 plus atau berpendidikan S2 seperti tertuntut dalam UU No. 14 Tahun 2005, tetapi bukan S2 akademik seperti yang sekarang kita kenal, melainkan S2 profesional yang mengutamakan kemampuan mengembangkan, melaksanakan, menilai, mengorganisisasi, dan memperbaharui program belajar mengajar. Guru dengan tingkat kemampuan profesional yang demikian akan selalu mampu mengembangkan dirinya untuk memenuhi tuntutan baru pembaharuan pendidikan seperti penerapan KBK dan KTSP. Namun kenyataan yang kita hadapi bukanlah demikian : kualifikasi guru SD kita semula secara resmi yang tertinggi berpendidikan D II, walaupun ada yang S1 dan S2, tetapi S1 dan S2-nya kebanyakan akademik bukan profesional disamping masih ada yang belum berpendidikan D II; guru SMP kita walaupun dimasa lalu secara resmi mensyaratkan D3, masih ada yang belum mencapai itu dan ada yang sudah berpendidikan S1, S2, bahkan mengikuti program S3. Tetapi umumnya tidak selalu relevan dengan tugas profesionalnya sebagai guru. Demikian pula dengan guru SMA, yang secara resmi berkualifikasi S1, tetapi masih ada yang belum S1, disamping ada yang telah memiliki gelar S2, bahkan mungkin ada yang sedang mengikuti program Doktor (terutama dikota-kota besar), namun pendidikan lanjutannya umumnya tidak selalu terkait dengan tugas profesionalnya sebagai guru. Misalnya guru kimia SMA, seharusnya memiliki S1 pendidikan kimia, dan S2 pendidikan Kimia, tetapi banyak yang S2-nya bukan pendidikan kimia atau S2 ilmu kimia.&lt;br /&gt;Berangkat dari heterogennya kualifikasi pendidikan dan kemampuan profesional guru dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional guru, yaitu : (1) merancang program pembelajaran termasuk menyusun silabus, (2) melaksanakan, memimpin, mengelola, dan menilai program pembelajaran; (3) mendiagnosis masalah dan hambatan yang dihadapi oleh peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran dan menguasai kompetensi yang ditetapkan ; dan (4) menyusun dan merancang berbagai pilihan yang harus dikembangkan untuk membantu mereka, tidaklah mudah. Kiranya perlu diketahui bahwa keempat gugus kemampuan profesional penguasaannya perlu ditunjang oleh penguasaan berbagai pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan : (1) karakteristik peserta didik; (2) ilmu pengetahun sebagai obyek belajar dan “ways of learning” atau “mode of inquiry”; (3) hakekat tujuan pendidikan dan kompetensi yang harus dicapai dan dikuasai peserta didik; (4) teori belajar umum dan khusus; (5) model-model pembelajaran sesuai dengan bidang studi; (6) teknologi pendidikan; dan (7) sistem dan teknik evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh gugus pengetahuan dan teknologi tersebut, ditambah dengan pengetahuan dan pemahaman tentang filsafat pendidikan, dasar negara Pancasila, UUD Negara RI 1945, sejarah  nasional bangsa dan sistem pendidikan nasional, merupakan pengetahuan yang seharusnya dimiliki guru Indonesia yang berderajat profesional. Dengan guru yang pengetahuan dan kemampuan profesionalnya demikian, pembaharuan pendidikan apapun yang dilakukan seperti KBK, tidak akan dipandang sebagai masalah. Dengan derajat professional, seorang guru dengan mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar pemahaman tentang pengetahuan dan kemampuan profesional guru yang demikianl, saya mengusulkan kurikulum bagi pendidikan prajabatan. Dalam pada itu, menurut saya, tenaga kependidikan, baik tenaga konselor, administrasi pendidikan, teknologi pendidikan, ahli kurikulum, dan tenaga kependidikan lainnya seyogyanya berbasis guru profesional. Pasalnya, yang akan dikelola dan dibimbing adalah peserta didik yang memerlukan pengetahuan dasar dan kemampuan profesional seorang guru. Inilah pendirian profesional saya yang telah saya ajukan sejak tahun 1982 yang lalu, yang perlu kita bahas secara profesional pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam merancang program pengadaan guru dan tenaga kependidikan lainnya yang profesional yang perlu menguasai delapan gugus pengetahuan dasar akademik profesional dan lima kemampuan profesional, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :&lt;br /&gt;1)bagaimana memilih calon mahasiswa untuk menjadi guru dan tenaga kependidikan lainnya yang profesional ?&lt;br /&gt;2)bagaimana kurikulum kita rancang dan laksanakan yang relevan ?&lt;br /&gt;3)siapa yang dapat menjadi dosen dan apa peranan dosen ?&lt;br /&gt;4)model pembelajaran manakah yang relavan ?&lt;br /&gt;5)sistem evaluasi yang bagaimana yang perlu diterapkan ?&lt;br /&gt;6)praktek profesional yang bagaimanakah yang perlu dialami oleh calon guru ?&lt;br /&gt;7)fasilitas kependidikan seperti apa yang perlu disediakan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah Kita Memilih Calon Mahasiswa yang Secara Potensial dapat Disiapkan untuk Menjadi Guru sebagai Jabatan Profesional&lt;br /&gt;Sebagai pelajar pendidikan saya tidak pernah terkejut membaca laporan studi tentang tingkat penguasaan guru, baik SD, SMP, maupun SMA yang sangat rendah terhadap materi pelajaran yang diasuhnya. Alasannya, pendidikan pra jabatan guru akhir-akhir ini sangat sukar untuk memperoleh calon mahasiswa dari lulusan SMA yang terbaik. Pada umumnya mereka yang masuk LPTK adalah mereka yang tidak dapat masuk Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, bahkan Fakultas yang lain. Padahal pada akhir tahun 1950-an dan permulaan tahun 1960-an di Amerika Serikat oleh James B Conant diusulkan bahwa yang dapat diterima menjadi calon guru adalah mereka yang tergolong kelompok 20 % teratas lulusan “High School”, yaitu mereka yang selama High School mengambil Kalkulus, Trigonometri, Fisika, dan Bahasa Asing. Di Jerman hanya mereka yang telah melalui Gymnasium (pendidikan 13 tahun) yang dapat memasuki PAEDAGOGISCHE HOCHSCHULE (calon guru SD dan HAUPTH SCHULE) dan Fakultas Paedagogik (untuk guru Gymnasium). Ini berarti bahwa calon guru adalah mereka yang termasuk kelompok 20 % teratas dari kelompok umurnya.&lt;br /&gt;Kualitas para calon mahasiswa untuk pendidikan prajabatan guru yang selama ini, disatu pihak hampir tidak dapat memilih lulusan SMA yang terbaik, dan dilain pihak proses pembelajarannya yaitu 4 (empat) semester untuk D II, 6 (enam) semester untuk D III, dan 8 (delapan) semester untuk S1, tidak ada bedanya dengan program untuk lulusan SMA yang terbaik, tanpa program matrikulasi bagi mereka yang penguasaan pelajaran SMA-nya pas-pasan. Hal ini menjadikan saya tidak heran bahwa penguasaan guru pada umumnya terhadap materi ajar rendah. Akibatnya sangat parah, mutu pendidikan makin menurun. Dan ini kurang disadari pengaruhnya pada pembangunan negara bangsa. Padahal negara semaju Amerika Serikat dalam menghadapi persaingan global tidak pernah melupakan pentingnya pendidikan.&lt;br /&gt;Atas dasar pertimbangan profesional tentang guru sebagai jabatan profesional yaitu jabatan yang memerlukan “advance education and special training”, agar upaya melahirkan guru yang berderajat profesional dan tenaga kependidikan yang profesional dapat terwujud kita perlu menentukan persyaratan akademik bagi calon mahasiswa LPTK, yaitu mereka yang di SMA-nya mengambil Matematika dengan nilai UAN 6, dalam skala 1 – 10.&lt;br /&gt;Untuk itu Pemerintah harus kembali memberikan insentif bagi calon guru dan guru, yaitu memberikan ikatan dinas dan asrama bagi calon guru dan jaminan kesejahteraan bagi guru sejajar dengan profesi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum untuk Pendidikan PraJabatan Guru yang Berderajat Profesional&lt;br /&gt;Merancang dan mengembangkan kurikulum hakekatnya adalah upaya untuk menjawab pertanyaan : “pengalaman belajar dan materi pembelajaran apakah yang harus diikuti dan ditempuh peserta didik, dalam hal ini mahasiswa calon guru, agar setelah mengikuti program pendidikan yang disediakan, dapat dikuasai serangkaian pengetahuan dasar dan kemampuan profesional ? Ini berarti bahwa untuk pendidikan  calon   guru  perlu  dirancang  dua  tahap program pendidikan yaitu : (1) tahap pendidikan akademik profesional; dan (2) tahap pendidikan dan latihan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap pertama, yaitu tahap pendidikan akademik profesional para mahasiswa calon guru mengikuti pendidikan untuk menguasai : (1) pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik peserta didik, baik kognitif, emosional, fisik, dan sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya yang terkait dengan jenjang pendidikan; (2) pengetahuan dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan sebagai sumber obyek belajar dan sebagai “ways of knowing”; (3) filsafat pendidikan dan teori pendidikan, yang meliputi tujuan pendidikan nasional dan peranan setiap kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan; (4) berbagai teori belajar baik umum, termasuk “social learning theory”, dan khusus yang terkait dengan suatu bidang studi dan/atau dengan karakteristik peserta didik; (5) berbagai model pembelajaran yang terkait dengan berbagai bidang studi; (6) teknologi pendidikan; (7) sistem dan teknik evaluasi; dan (8) sejarah dan sistem kenegaraan NKRI sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Tahap ini dapat ditempuh dalam periode 6 (enam) semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap kedua adalah tahap pendidikan dan praktek profesional. Pada tahap ini selama dua semester para mahasiswa belajar menerapkan berbagai pengetahuan dasar akademik profesional yang diperoleh selama enam semester pertama untuk : (1) merencanakan program pembelajaran; (2) melaksanakan program pembelajaran,  termasuk mengevaluasi; (3) mendiagnosa berbagai hambatan dan masalah yang dihadapi peserta didik; (4)  menyempurnakan program pembelajaran berdasarkan umpan balik yang telah dikumpulkan secara sistematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap kedua ini, dua pertiga waktu calon mahasiswa berada dalam lingkungan sekolah untuk mengamati, memimpin, dan membimbing proses pembelajaran dibawah supervisi tim dosen profesional. Setelah melalui program pendidikan yang demikian seorang mahasiswa yang lulus setelah melalui berbagai evaluasi yang komprehensif dan terus menerus dapat memperoleh “sertifikat” sebagai pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah lulus program pendidikan guru profesional inilah yang selanjutnya dapat mengikuti pendidikan pasca sarjana untuk menjadi tenaga kependidikan seperti : bimbingan dan konseling, ahli kurikulum, ahli administrasi pendidikan dan ahli teknologi pendidikan. Dengan demikian tenaga kependidikan yang profesional, dalam pandangan saya, hendaknya adalah mereka yang telah mengikuti pendidikan guru profesional dan/atau telah juga berpengalaman sebagai guru profesional, sehingga dapat berperanan memberikan bantuan profesional kepada guru untuk terus memperbaiki mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sebagai pelajar pendidikan saya berpendapat bahwa tenaga kependidikan yang profesional adalah mereka yang telah memiliki kualifikasi sebagai guru profesional dan melanjutkan studi pasca sarjana atau spesialisasi dibidang-bidang yang telah disebut diatas. Ini sejajar dengan dunia profesi lainnya seperti dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang Berhak Menjadi Pengajar dan Apa Peranan Pengajar ?&lt;br /&gt;Kalau untuk menjadi guru, baik SD, SMP, maupun SMA yang semula ditetapkan berkualifikasi minimum D2 untuk SD, D3 untuk SMP, dan S1 untuk SMA, dan sekarang semuanya harus berderajat profesional yaitu minimum S1+, sudah sepantasnyalah kalau untuk menjadi pengajar calon guru profesional adalah minimum S2 dengan judisium minimal BAIK atau IPK B+. Dibandingkan dengan persyaratan tenaga pengajar, terutama pada jalur professorship (Assistant Professor, Associate Professor, dan Professor) di Amerika Serikat yaitu Ph. D. dengan judisium minimum sangat memuaskan dan mengalami masa percobaan selama dua tahun, kiranya tuntutan minimum S2 bagi dosen, dikemudian hari, tidak terlalu idealistis.&lt;br /&gt;Pasalnya, gugus mata kuliah pengetahuan dasar akademik professional memerlukan para pengajar yang sekaligus berkualifikasi peneliti di bidang ilmu pengetahuan : (1) ilmu-ilmu dasar science, mathematics, engineering science, social science/ sociology, economy, politics, anthropology, dan bahasan, baik sebagai ilmu murni maupun ilmu kependidikan di bidang-bidang ilmu tersebut; (2) ilmu pendidikan yang meliputi : filsafat pendidikan, teori kurikulum, teknologi pendidikan, system dan teknik evaluasi; dan (3) psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan, termasuk didalamnya teori belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan para dosen dari setiap bidang ilmu pengetahuan tersebut adalah membimbing dan mendorong para mahasiswa untuk menguasai dan memahami setiap mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya melalui proses pembelajaran yang menerapkan empat pilar belajar yang didukung dengan sistem evaluasi sebagai bagian dari proses pendidikan yang dilakukan secara terus menerus, komprehensif, dan obyektif sesuai dengan hakekat ilmu pengetahuan yang dipelajari dan pendekatan empat pilar belajar yang ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan para pengajar pada tahapan kedua, yaitu pendidikan dan praktek professional, diperlukan dosen yang tidak hanya menguasai bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya melainkan juga piawai dalam mengelola proses pembelajaran. Untuk itu tenaga yang berpengalaman dalam proses pembelajaran diperlukan. Dalam kaitan ini diangkatnya para guru senior yang berpengalaman mengajar menjadi staf pengajar pada tahapan ini sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Model Pembelajaran yang Perlu Diterapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahap pendidikan untuk menguasai pengetahuan dasar akademik profesional pendekatan belajarnya seperti telah disinggung adalah pendekatan empat pilar belajar yaitu “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together”, dan “learning to be”. Melalui pendekatan ini diharapkan para mahasiswa calon guru akan dapat menguasai ilmu pengetahuan sebagai ways of knowing dan penerapannya sehingga dapat diharapkan tumbuhnya minat yang makin mendalam tentang ilmu pengetahuan tersebut dan selanjutnya dapat menimbulkan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk tahap kedua, pendidikan dan praktek profesional, pendekatan proyek perlu ditempuh, yaitu suatu pendekatan yang menuntut seorang calon guru melakukan kegiatan dari merencanakan dan mengembangkan, melaksanakan, menilai, sampai dengan memperbaiki suatu program pembelajaran dalam suatu bidang mata pelajaran, untuk sesuatu kelompok peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu dalam jangka waktu belajar yang jelas.&lt;br /&gt;Sistem Evaluasi yang Perlu Diterapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diterapkannya model pembelajaran yang menggunakan pendekatan empat pilar belajar, evaluasi yang diterapkan perlu relevan dengan digunakannya empat pilar belajar tersebut. Dengan demikian para calon guru tidak hanya dinilai pemahamannya tentang konsep melainkan dinilai juga : (1) kemampuannya menerapkan “mode of inquiry” suatu disiplin ilmu pengetahuan, seperti melakukan observasi, eksperimen, dan lainnya untuk “learning to know”; (2) kemampuan menerapkan prinsip atau hukum dari suatu bidang ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah untuk “learning to do”; dan (3) kemampuannya untuk bekerjasama dalam bidang ilmu yang sedang dipelajari, untuk “learning to live together”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penilaian dalam tahap kedua benar-benar menilai kinerja seorang calon guru profesional yang meliputi : (1) kemampuan merencanakan dan mengembangkan program pembelajaran; (2) kemampuan mengelola proses pembelajaran; (3) mengembangkan program evaluasi dan melaksanakannya; (4) menganalisis kekuatan, kelemahan, dan masalah dari program yang telah dirancang dan dilaksanakan; dan (5) meyempurnakan program pembelajaran berdasarkan masukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang praktek profesional&lt;br /&gt;Hakekatnya telah diulas pada saat membahas model pembelajaran. Yang penting bahwa pada tahap ini calon guru profesional harus sudah benar-benar berada dalam situasi nyata dari proses pembelajaran di kelas dan sekolah dimana setelah lulus mereka akan ditugaskan. Agar segala model pembelajaran dapat dilaksanakan, berbagai sarana dan prasarana harus tersedia; baik perpustakaan, laboratorium, kebun botani, lapangan olahraga, dan sekolah tempat praktek profesional. Akan lebih ideal lagi kalau mahasiswa calon guru profesional memperoleh fasilitas asrama sebagai bagian integral dari fasilitas pendidikan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.Beberapa Catatan Penutup&lt;br /&gt;Dari serangkaian uraian dan analisis dari Pendahuluan sampai bagian keempat dapatlah ditarik beberapa catatan berikut :&lt;br /&gt;1.Bahwa dalam pandangan penulis belum berhasilnya penyelenggaraan pendidikan nasional dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa yang menuntut terjadinya transformasi budaya nampaknya karena selama ini proses pendidikan yang terjadi di satuan-satuan pendidikan tidak lebih dari proses memperoleh pengetahuan melalui mendengar, mencatat, dan menghafal dan bukan suatu proses pembudayaan.&lt;br /&gt;2.Bahwa UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas secara revolusioner telah menganut suatu pemikiran pendidikan yang menempatkan pendidikan sebagai proses pembudayaan dengan mendudukkan peserta didik dalam suasana proses pembelajaran yang memungkinkannya secara aktif mengembangkan potensi dirinya menjadi manusia yang berkembang kemampuannya dan terbentuk wataknya.&lt;br /&gt;3.Bahwa untuk memungkinkan terjadinya pendidikan sebagai proses pembudayaan diperlukan tenaga guru yang berderajat professional sehingga mampu merancang, mengembangkan, mengelola, dan menilai program pembelajaran yang relevan dengan hakekat, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;4.Bahwa UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah secara tegas mendudukkan guru sebagai jabatan professional. Karena itu perlu dirancang pendidikan guru sebagai pendidikan professional yang mengenal jenjang pendidikan professional (S1) dan praktek dan latihan professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa pemikiran yang dapat penulis sampaikan untuk dapat didiskusikan dalam seminar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Disajikan dalam “SEMINAR NASIONAL : PENINGKATAN PROFESIONALISME TENAGA PENDIDIK DALAM UPAYA UNTUK MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN YANG UNGGUL DAN MANDIRI”, yang diselenggarakan oleh ISPI Jawa Tengah di Surakarta 20 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-8367457742815015489?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/8367457742815015489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=8367457742815015489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/8367457742815015489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/8367457742815015489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/02/pendidikan-guru-masa-depan-yang.html' title='PENDIDIKAN GURU MASA DEPAN YANG BERMAKNA BAGI PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2500296240761699214</id><published>2009-01-31T17:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T18:03:19.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>”Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidik dalam Upaya Mewujudkan Sumber Daya Manusia Pendidikan yang Unggul dan Mandiri”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;0leh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Dr. Baedhowi, M.Si&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7201996281975514393#sdfootnote1sym"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.13in; text-indent: -0.13in; margin-bottom: 0in;"&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7201996281975514393#sdfootnote1anc"&gt;&lt;/a&gt;Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga  Kependidikan (PMPTK)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 0.13in; text-indent: -0.13in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt; Departemen Pendidikan Nasional.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Pada era sekarang, yang sering disebut era globalisasi, institusi pendidikan formal mengemban tugas penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas di masa depan. Di lingkungan pendidikan persekolahan (education as schooling) ini, guru profesional memegang kunci utama bagi peningkatan mutu SDM masa depan itu.  Guru merupakan tenaga profesional yang melakukan tugas pokok dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik sebagai aset manusia Indonesia masa depan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan kesejahteraan guru. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis dalam kerangka peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta perlindungan hukum dan perlindungan profesi bagi mereka. Langkah-langkah strategis ini perlu diambil, karena apresiasi tinggi suatu bangsa terhadap guru sebagai penyandang profesi yang bermartabat merupakan pencerminan sekaligus sebagai salah satu ukuran martabat suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini secara kuantitatif populasi guru di Indonesia sangat besar. Secara nasional masih banyak guru yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi akademik. Data tahun 2008 jumlah guru yang belum memenuhi kualifikasi S-1/DIV sebanyak 1.656.548. Untuk mempercepat seluruh guru memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan yang diharapkan tuntas pada tahun 2015 sesuai dengan amanat UU Nomor 14 Tahun 2005, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 2006 memberikan subsidi peningkatan kualifikasi guru pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang sedang dan akan menempuh pendidikan jenjang S1/D-IV,baik guru PNS maupun guru bukan PNS. Sejalan dengan itu, pelaksanaan sertifikasi guru yang telah dimulai sejak tahun 2007 akan terus dilakukan, sehinggan diharapkan guru-guru yang ada dan telah memenuhi persyaratan dapat memperoleh sertifikat sesuai dengan kriteria dan rentang waktu yang ditetapkan dalam undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Profesi Guru&lt;br /&gt;Saat ini telah muncul komitmen kuat dari Pemerintah Indonesia, terutama Depdiknas, untuk merevitalisasi kinerja guru antara lain dengan memperketat persyaratan bagi siapa saja yang ingin meniti karir profesi di bidang keguruan.  Dengan persyaratan minimum kualifikasi akademik sebagaimana diatur dalam UU No. 14 Tahun 2005, diharapkan guru benar-benar memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial, dimana hal itu diharapkan dapat diperoleh secara penuh melalui pendidikan profesi.  Ke depan, agaknya peluang orang-orang yang berminat untuk menjadi guru cukup terbuka lebar. Dalam PP No. 19 Tahun 2005 disebutkan bahwa seseorang yang tidak memiliki ijazah S1, D-IV, atau sertifikat profesi akan tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi guru pada TK/RA/BA sampai dengan SMA atau bentuk lain yang sederajat, setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan dengan rambu-rambu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja masalah pengelolaan guru akan selalu muncul dengan kadar yang beragam pada masing-masing daerah. Hingga kini, beberapa masalah di bidang ini menyangkut jumlah, mutu, penyebaran, kesejahteraan, perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan ketenagakerjaan, dan manajemen. Setidaknya sebagian di antara permasalahan manajemen guru tersebut agaknya akan dapat dipecahkan, jika semua pihah memiliki komitmen, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 14 Tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan manajemen guru, perlu perhatian khusus untuk beberapa hal yang sangat esensial, seperti termuat dalam UU Nomor 14 Tahun 2005. Pertama, pemerintah wajib memenuhi kebutuhan guru PNS, baik jumlah, kualifikasi, kompetensi maupun pemerataannya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan. Kedua, pemerintah provinsi wajib memenuhi kebutuhan guru PNS, baik jumlah, kualifikasi, kompetensi maupun pemerataannya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan menengah negeri dan pendidikan khusus negeri sesuai dengan SNP di wilayah kewenangannya masing-masing. Ketiga, pemerintah Kabupaten/Kota wajib memenuhi kebutuhan guru PNS, baik jumlah, kualifikasi, kompetensi maupun pemerataannya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar negeri dan pendidikan anak usia dini jalur formal sesuai dengan SNP di wilayah kewenangannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, penyelenggara satuan pendidikan atau satuan pendidikan dasar, menengah, atau anak usia dini jalur formal yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib memenuhi kebutuhan guru tetap, baik jumlah, kualifikasi, maupun kompetensinya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan formal sesuai dengan SNP. Jika hal ini diikuti secara konsisten oleh pihak-pihak yang tergamit, masalah manajemen guru akan dapat dipecahkan. Tentu saja hal itu harus ditunjang oleh sistem pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara obyektif dan transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi dan Profesionalisasi Guru&lt;br /&gt;Guru profesional  memiliki kemampuan mengorganisasikan lingkungan belajar yang produktif. Kata “profesi” secara terminologi diartikan suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya dengan titik tekan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual. Kamampuan mental yang dimaksudkan di sini adalah ada persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut penghampiran sosiologi, Vollmer &amp;amp; Mills dalam bukunya Professionalization (1972) mengemukakan bahwa profesi menunjuk kepada suatu kelompok pekerjaan dari jenis yang ideal, yang sesungguhnya tidak ada di dalam kenyataan atau tidak pernah akan tercapai, akan tetapi menyediakan suatu model status pekerjaan yang bisa diperoleh, bila pekerjaan itu telah mencapai profesionalisasi secara penuh.   Kata profesional berarti sering diartikan sifat yang ditampilkan oleh seorang penyandang profesi, berikut implikasinya dikaitkan dengan kebutuhan hidupnya. Dalam UU No. 14 tahun 2005, kata profesional diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesionalisme berasal dari kata bahasa Inggris professionalism yang secara leksikal berarti sifat profesional. Profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu. Profesionalisasi mengandung makna dua dimensi utama, yaitu peningkatan status dan peningkatan kemampuan praktis. Peningkatan status dan peningkatan kemampuan praktis ini harus sejalan dengan tuntutan tugas yang diemban sebagai guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagi tenaga profesional, guru dituntut memvalidasi ilmunya, baik melalui belajar sendiri maupun melalui program pembinaan dan pengembangan yang dilembagakan oleh pemerintah atau masyarakat. Pembinaan merupakan upaya peningkatan profesionalisme guru yang dapat dilakukan melalui kegiatan seminar, pelatihan, dan pendidikan. Pembinaan guru dilakukan dana kerangka pembinaan profesi dan karier. Pembinaan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Pembinaan karier sebagaimana dimaksud pada meliputi meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Peningkatan Mutu Guru&lt;br /&gt;Lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu guru, sekaligus diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Di dalam UU ini diamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kebijakan prioritas dalam rangka pemberdayaan guru saat ini adalah meningkatan kualifikasi, peningkatan kompetensi, sertifikasi guru, pengembangan karir, penghargaan dan perlindungan, perencanaan kebutuhan guru, tunjangan guru, dan maslahat tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu, ke depan beberapa kebijakan yang digariskan untuk meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya dan meningkatkan mutu guru khususnya, antara lain mencakup hal-hal berikut ini. Pertama, melakukan pendataan, validasi data, pengembangan program dan sistem pelaporan pembinaan profesi pendidik melalui jaringan kerja dengan P4TK, LPMP, dan Dinas Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengembangkan model penyiapan dan penempatan pendidik untuk daerah khusus melalui pembentukan tim pengembang dan survey wilayah. Ketiga, menyusun kebijakan dan mengembangkan sistem pengelolaan pendidik secara transparan dan akuntabel melalui pembentukan tim pengembang dan program rintisan pengelolaan pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, meningkatkan kapasitas staf dalam perencanaan dan evaluasi program melalui pelatihan, pendidikan lanjutan dan rotasi. Kelima, mengembangkan sistem layanan pendidik untuk pendidikan layanan khusus melalui kerja sama dengan LPTK dan lembaga terkait lain. Keenam, melakukan kerja sama antar lembaga di dalam dan di luar negeri melalui berbagai program yang bermanfaat bagi pengembangan profesi pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, mengembangkan sistem dan pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan melalui pembentukan tim pengembang dan tim penjamin mutu pendidikan. Kedelapan, menyusun kebijakan dan mengembangkan sistem pengelolaan pendidik secara transparan dan akuntabel melalui pembentukan tim pengembang dan program rintisan pengelolaan guru dan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif Model Peningkatan Kualifikasi Guru&lt;br /&gt;Depdiknas telah menetapkan banyak model peningkatan kualifikasi akademik bagi guru. Seorang guru dalam menentukan model yang dipilih, dengan mempertimbangkan beberapa hal yang berkenaan dengan kemampuan akademik, kesiapan mental dan tanggung jawab sebagai PNS dengan tugas sebagai guru di sekolah. Berikut adalah model-model peningkatan kualifikasi akademik yang dapat dipilih untuk meningkatkan kualifikasi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Tugas Belajar, dimana guru yang mengikuti model ini dibebaskan dari tugas mengajar dan ditugaskan mengikuti perkuliahan di salah satu Perguruan Tinggi. Tugas belajar ini dapat bersifat mandiri maupun kelompok. Tugas belajar mandiri merupakan peningkatan kualifikasi ke S1 atau D4 yang perkuliahannya terintegrasi dengan program S1 atau D4 reguler yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi, sedangkan tugas belajar kelompok minimal 20 orang dengan menyelenggarakan kuliahnya dilaksanakan dalam kelas tersendiri. Tugas belajar yang bersifat kelompok dilaksanakan dalam bentuk kerjasama dengan lembaga terkait, baik Pemerintah maupun pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Ijin Belajar,  dimana guru tetap melaksanakan tugas mengajar di sekolah, tetapi dalam waktu yang sama mereka juga mengikuti kuliah di perguruan tinggi. Perkuliahan dilaksanakan di sela-sela mengajar atau pada hari tidak mengajar. Peningkatan kualifikasi model ini dapat besifat mandiri maupun kelompok. Ijin belajar yang bersifat mandiri sama dengan tugas belajar mandiri hanya berbeda pada beban mengajar, sedangkan ijin belajar kelompok minimal juga 20 guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Akreditasi, dimana guru tidak meninggalkan tugas sehari-hari dan tidak merugikan anak didik.  Pelaksanaan model akreditasi ini dapat dilaksanakan dengan melakukan kerjasama antara unit pembina guru dengan LPTK atau perguruan tinggi yang mempunyai program kependidikan.  Unit pembina guru misalnya Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, dan Dinas Pendidikan Kabupaten dan Propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Belajar  Jarak Jauh (BJJ),  diperuntukkan bagi guru yang tinggal jauh dari LPTK penyelenggara.  Dengan mengikuti program BJJ, guru tidak perlu meninggalkan tugas mengajar sehari-hari.  Tutorial diadakan satu minggu sekali, di tempat yang mudah dijangkau oleh para guru.  Tutorial berfungsi sebagai pemantapan substansi kajian yang telah dibaca oleh para guru, berbagi masalah pembelajaran dan mengkaji cara pemecahannya, kemudian diterapkan di sekolah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Berkala, dimana proses pelaksanaan kualifikasi guru model berkala dilakukan pada saat liburan sekolah. Model ini terdiri dari dua jenis. Pertama, Model Berkala Terpadu, yakni proses perkuliahan dilakukan pada saat  liburan antar semester genap dan semester ganjil di sekolah. Kedua, Model Berkala Model Blok Waktu (Block Time), dimana perkuliahan dilakukan pada saat liburan sekolah saja dalam satu satuan blok waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Berdasarkan Peta Kewilayahan, dimana model ini dilaksanakan sebagai alternatif pengembangan kebutuhan layanan kualifikasi berdasarkan kekuatan yang dimiliki oleh kelembagaan LPTK dan P4TK di wilayah. Dalam hal ini dilihat sejauhmana kekuatan LPTK sebagai pusat pengembangan keilmuan tertentu dan kekuatan P4TK sebagai pusat pengembangan mata pelajaran. Kedua lembaga tersebut dapat bekerja sama untuk melaksanakan program kualifikasi berdasarkan spesifikasi mata pelajaran yang dikembangkan oleh P4TK dan disepakati oleh LPTK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Berbasis ICT. Program ini merupakan program peningkatan kualifikasi khusus bagi guru SD (lulusan D-2) yang belum berkualifikasi S-1 untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Kualifikasi Akademik (PKA) Guru Berbasis KKG , dimana program ini merupakan peningkatan kualifikasi akademiki S-1 PGSD bagi guru SD dengan menggunakan sistem pendidikan jarak jauh yang diselenggarakan di  kelompok kerja guru oleh perguruan tinggi yang ditunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi Guru&lt;br /&gt;Sertifikasi merupakan proses mendapatkan sertifikat profesi. Sertifikasi guru dilaksanakan melalui pendekatan prajabatan dan dalam jabatan. Sertifikasi prajabatan merupakan kegiatan sertifikasi bagi calon guru, sedangkan sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan bagi guru-guru yang sudah berdinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan sertikasi guru dalam jabatan diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 18 tahun 2007. Menurut Permen ini, sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Program ini diikuti oleh guru dalam jabatan yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV). Program ini diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi guru dalam jabatan, sertifikasi dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Uji kompetensi dimaksud dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi guru bertujuan untuk (1) menentukan  kelayakan guru dalam  melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan, dan (3) peningkatan profesionalisme guru. Manfaat sertifikasi guru dapat dirinci seperti berikut ini. Pertama, melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru. Kedua, melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional. Ketiga, menjaga lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan dengan prinsip objektif, transparan, dan akuntabel. Objektif yaitu mengacu kepada proses perolehan sertifikat pendidik yang impartial, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar pendidikan nasional. Transparan yaitu mengacu kepada proses sertifikasi yang memberikan peluang kepada para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperoleh akses informasi tentang pengelolaan pendidikan, yang sebagai suatu sistem meliputi masukan, proses, dan hasil sertifikasi. Akuntabel merupakan proses sertifikasi yang dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan pendidikan secara administratif, finansial, dan akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan peningkatan kemampuan profesional guru, baik melalui peningkatan kualifikasi maupun program sertifikasi akan dilakukan secara terus menerus. Pada tahun 2007 lebih dari 170.000 guru akan diberi beasiswa untuk peningkatan kualifikasi setara S1/D4, dan akan ditingkatkan terus dari tahun ke tahun. Sehingga delapan tahun kemudian, sesuai dengan amanat UU No. 14 Tahun 2005, diharapkan guru-guru kita sudah berkualifikasi S1/D4. Pemerintah juga memberi apresiasi tinggi kepada Pemerintah Daerah yang telah melakukan langkah-langkah nyata untuk membantu guru dalam rangka peningkatan kualifikasinya. Disamping itu pada tahun 2007 sekitar 200.000 guru akan menempuh uji sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat pendidik, dan akan ditingkatkan terus dari tahun ke tahun. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama guru-guru kita dapat memiliki sertifikat pendidik  sesuai dengan amanat UU No. 14 Tahun 2005. Pada tahun 2008 ini juga diprogramkan program sejenis, yang jumlahnya diharapkan paling sedikit sama dengan tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Profesional Guru secara Berkelanjutan&lt;br /&gt;Sebagi tenaga profesional, guru dituntut memvalidasi ilmunya, baik melalui belajar sendiri maupun melalui program pembinaan dan pengembangan yang dilembagakan oleh pemerintah. Pembinaan merupakan upaya peningkatan profesionalisme guru yang dapat dilakukan melalui kegiatan seminar, pelatihan, dan pendidikan. Pembinaan guru dilakukan dalam kerangka pembinaan profesi dan karier. Pembinaan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Pembinaan karier sebagaimana dimaksud pada meliputi penugasan dan promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebutkan di atas, aktivitas pengembangan profesi guru bersifat terus-menerus, tiada henti, dan tidak ada titik puncak kemampuan profesional yang benar-benar final. Di sinilah esensi bahwa guru harus menjalani proses pengembangan profesional berkelanjutan (PPB) atau continuing professional development (CPD). PPB atau CPD bermakna sebagai semua inisiatif individu dan kegiatan pengembangan profesional yang tersedia untuk mendukung pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Dalam konteks interaksi kepengawasan sekolah atau kepengawasan pembelajaran, sentral utama pembinaan adalah guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah PPB atau CPD itu? PPB atau CPD adalah semua program dan kebijakan pengembangan profesional yang tersedia untuk mendukung pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. PPB atau CPD adalah aktivitas reflektif yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan seseorang. CPD menunjang kebutuhan seseorang dan memperbaiki praktek-praktek profesionalnya. PPB atau CPD juga bermakna cara setiap anggota asosiasi profesi memelihara, memperbaiki, dan memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka dan mengembangkan kualitas diri yang diperlukan dalam kehidupan profesional mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian PPB atau CPD memuat tiga istilah utama. Yaitu  continuing, professional, dan development. Disebut continuing  (berkelanjutan) karena belajar tidak pernah berhenti tanpa memperhatikan usia maupan senioritas. Disebut  professional (profesional) karena CPD difokuskan pada kompetensi-kompetensi profesional dalam sebuah peran profesional. Disebut  development (pengembangan) karena tujuannya adalah untuk memperbaiki kinerja seseorang dan untuk memperkuat kemajuan karir seseorang yang jauh lebih luas dari sekedar pendidikan dan pelatihan formal biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan profesional tenaga kependidikan harus dipandang sebagai suatu pola pengembangan berkelanjutan dari pendidik yang tidak atau kurang memiliki kompetensi yang andal (unqualified) sampai pendidik senior di sekolah, kepala sekolah, atau pengawas. Kemampuan profesional guru, kepala sekolah, dan pengawas itu bersifat dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka kerja pengembangan profesional pada akhirnya harus mencakup tiga jenis CPD yang berbeda. Dalam jangka pendek akan ada peluang keempat yang juga harus dipertimbangkan:&lt;br /&gt;Program inti nasional pengembangan profesional yang membantu para pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk memperbaiki diri mereka secara profesional sejak saat mereka mulai bertugas sampai mereka pensiun.&lt;br /&gt;Program tersebut harus memungkinkan tersedianya sumber daya   untuk memperkenalkan prioritas program nasional.&lt;br /&gt;Program tersebut harus mencakup sumber daya yang tersedia untuk merespon kebutuhan yang teridentifikasi oleh pendidik, kepala sekolah, pengawas, sekolah dan kelompok sekolah.&lt;br /&gt;Dalam jangka pendek ada elemen ke empat yang mendukung pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang unqualified untuk memperoleh persyaratan kompetensi profesional saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program utama ini akan membantu para pendidik mengevaluasi diri berdasarkan standar kompetensi saat mereka menyelesaikan program induksi, kemudian dapat dibuat penilaian bagi pendidik yang akan promosi dari guru pertama menjadi guru muda, guru muda menjadi guru madya, guru madya menjadi guru utama, kepala sekolah atau pengawas. CDP yang efektif adalah CPD yang memiliki ciri-ciri berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap aktivitas CPD adalah bagian dari sebuah rencana jangka panjang yang koheren yang memberi kesempatan pada peserta CPD untuk menerapkan apa yang mereka pelajari, mengevaluasi dampak pada praktek pembelajaran mereka, mengembangkan praktek-praktek mereka.&lt;br /&gt;CPD direncanakan dengan visi yang jelas tentang praktik-praktik yang efektif atau yang dikembangkan. Visi dipahami bersama oleh semua pemangku kepentingan CPD dan oleh Pimpinan dan Staf Pendukung CPD.&lt;br /&gt;CPD memungkinkan peserta untuk mengbangkan keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang praktis, relevan, dan dapat diterapkan pada peran atau karir saat ini dan masa depan.&lt;br /&gt;CPD harus disiapkan oleh orang berpengalaman, berkeakhlian, dan berketerampilan.&lt;br /&gt;CPD didasarkan pada bukti-bukti terbaik yang tersedia tentang praktik pembelajaran.&lt;br /&gt;CPD mempertimbangkan pengetahuan dan pengalaman peserta.&lt;br /&gt;CPD ditunjang oleh pembinaan atau mentoring oleh teman sejawat yang berpengalaman baik dari dalam sekolah itu sendiri maupun dari luar.&lt;br /&gt;CPD dapat menggunakan hasil observasi kelas sebagai dasar pengembangan fokus CPD dan dampak CPD.&lt;br /&gt;CPD merupakan pemodelan pembelajaran efektif dan pemodelan strategi pembelajaran.&lt;br /&gt;CPD memunculkan secara terus menerus rasa ingin tahu dan kemampuan problem solving dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.&lt;br /&gt;Dampak CDP pada proses pembelajaran terus menerus dievaluasi, dan hasil evaluasi ini mengarahkan pengembangan aktivitas profesional secara terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu Pendidikan&lt;br /&gt;Dalam pengertian umum, mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang maupun jasa. Barang dan jasa pendidikan itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, namun dapat dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, siswa, dan lain-lain.  Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material  berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana dan sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, deskripsi kerja, struktur organisasi, dan lain-lain. Keempat,  mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan, cita-cita, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu proses pembelajaran mengandung makna kemampuan sumberdaya sekolah mentransformasikan multijenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Termasuk dalam kerangka mutu proses pendidikan ini adalah derajat kesehatan, keamanan, disiplin, keakraban, saling menghormati, kepuasan dan lain-lain dari subjek selama memberikan dan menerima jasa layanan. Menurut Umaedi (1999), manajemen sekolah dan manajemen kelas berfungsi mensinkronkan berbagai masukan tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi  belajar mengajar. Kesemua komponen itu bersinergi mendukung proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pendidikan dipandang bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Keunggulan akademik dinyatakan dengan nilai yang dicapai oleh peserta didik. Keunggulan ekstrakurikuler dinyatakan dengan aneka jenis keterampilan yang diperoleh oleh siswa selama mengikuti program-program ekstrakurikuler itu. Di luar kerangka itu, mutu luaran juga dapat dilihat dari nilai-nilai hidup yang dianut, moralitas, dorongan untuk maju, dan lain-lain yang diperoleh anak didik selama menjalani pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu sebuah sekolah juga dapat dilihat dari tertib administrasinya. Salah satu bentuk dari tertib administrasi adalah adanya mekanisme kerja yang efektif dan efisien, baik secara vertikal maupun horizontal. Dilihat dari persepektif operasional, manajemen sekolah berbasis MBS dikatakan bermutu, jika sumber daya manusianya bekerja secara efektif dan efisien. Mereka bekerja bukan karena ada beban atau karena diawasi secara ketat. Proses pekerjaannya pun dilakukan benar dari awal, bukan mengatasi aneka masalah yang timbul secara rutin, karena kekeliruan yang tidak disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedewasan dalam bekerja menjadi ciri lain dari manajemen  sekolah yang bermutu.Tenaga akademik dan staf administratif bekerja bukan karena diancam, diawasi, atau diperintah oleh pimpinan atau atasannya. Mereka bekerja karena memiliki  rasa tanggungjawab akan tugas pokok dan fungsinya. Sikap mental (mind set)  tenaga kependidikan di sekolah menjadi prasyarat bagi upaya meningkatkan mutu. Merujuk pada pendapat Edward Sallis (1993), sekolah yang bermutu bercirikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal. Pada sekolah yang bermutu totalitas perilaku staf, tenaga  akademik, dan pimpinan  melakukan tugas pokok dan fungsi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Inisiatif ini perlu didukung oleh mekanisme kerja secara vertikal dan horizontal dengan menempatkan kepentingan akademik sebagai inti kegiatan. Siapakah pelanggan pendidikan itu? Menurut Edward Sallis (1993)  pelanggan jasa pendidikan  umumumnya dan sekolah khususnya adalah semua pihak yang memerlukan, terlibat di dalam, dan berkepentingan terhadap jasa pendidikan itu.&lt;br /&gt;Berfokus pada upaya untuk mencegah masalah-masalah yang muncul, dalam makna ada komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.&lt;br /&gt;Investasi pada sumber daya manusianya, yang komitmennya perlu terus dijaga jangan sampai mengalami “kerusakan”, karena “kerusakan psikologis” amat sulit memperbaikinya.&lt;br /&gt;Memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.&lt;br /&gt;Mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada even kerja berikutnya.&lt;br /&gt;Memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik perencanaan jangka pendek, jangka menengah,  maupun jangka panjang.&lt;br /&gt;Mengupayakan proses perbaikan  dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi, dan tanggungjawabnya.&lt;br /&gt;Mendorong orang yang dipandang memliki kreatifitas dan mampu menciptakan kualitas, serta merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.&lt;br /&gt;Memperjelas peran dan tanggungjawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja  secara vertikal dan horizontal.&lt;br /&gt;Memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.&lt;br /&gt;Memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk  memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.&lt;br /&gt;Menempatkan peningkatan kualitas secara terus-menerus sebagai suatu keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Pemerintah akan terus berusaha meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 14 Tahun 2005, bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kalifikasi akademik dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Disamping berkualifikasi sebagaimana dimaksud, guru-guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.  Implementasi program peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru, termasuk sertifikasi guru, akan dilakukan secara bertahap. Tentu saja hal ini mengharuskan partisipasi aktif masyarakat dan terutama penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah pada Forum Seminar Nasional “Peningkatan Profesionalisme Pendidik dalam Upaya Mewujudkan Sumberdaya Manusia Pendidikan yang Unggul dan Mandiri yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah, tanggal 20 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2500296240761699214?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2500296240761699214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2500296240761699214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2500296240761699214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2500296240761699214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/peningkatan-profesionalisme-tenaga.html' title='”Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidik dalam Upaya Mewujudkan Sumber Daya Manusia Pendidikan yang Unggul dan Mandiri”'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-1486471910914955057</id><published>2009-01-29T23:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T23:10:52.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Meningkatkan Profesionalisme  Guru  dengan Menulis Buku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;JOHAN WAHYUDI, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Guru SMPN 2 Kalijambe Sragen Jawa Tengah, Penulis Buku dan Anggota ISPI)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra menjadi bisu, ilmu pengetahuan pun lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”&lt;br /&gt;(Barbara Tuchman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan Barbara Tuchman di atas benar-benar mengetuk hati jikalau mau merenung-kannya. Betapa besar manfaat sebuah buku. Manfaat yang takkan berbanding dengan apapun. Buku adalah samudera ilmu yang takkan habis ditimba dan diminum. Buku adalah guru paling bijaksana. Buku takkan pernah marah dan takkan pernah berdendam. Justru buku akan tertawa karena ia terbuka. Buku akan memberikan semua yang dimilikinya, tanpa harap berbalas. Dengan buku pula, seseorang dapat berdialog dengan pikiran penulis. Pakar pendidikan, Rene Descartes, pernah berkata, “…membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau-yakni para penulis itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata…” (http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-menulis/#comment-2662 diakses pada 30 Nopember 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah diketahui kebaikan sebuah buku, tentu akan lebih baik pula penulisnya. Penulis buku telah berjibaku untuk mengimplementasikan pikiran menjadi sebuah buku. Penulis pastilah akan menuangkan semua gagasan terbaik. Ia akan mencari referensi ketika ia sedang ‘mati ide’. Ia takkan pernah memaksakan diri untuk berani berteori tanpa dasar ilmiah yang kuat. Penulis menyadari bahwa sebuah buku akan menciptakan perubahan krusial dan fundamental. Karena itulah, penulis buku pastilah seseorang yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru (dan) Menulis&lt;br /&gt;Menurut Moh. Uzer Usman (2005: 7), tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses belajar berhubungan dengan bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan jasmani dan rohani dalam rangka memperoleh pengetahuan baru. Soedomo Hadi (2005: 23) mengemukakan bahwa tugas-tugas pendidik dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) Tugas Educational ; (2) Tugas Instruksioanal;  (3) Tugas Managerial.&lt;br /&gt;a. Tugas Educational&lt;br /&gt;Dalam hal ini pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang lebih banyak diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik, sehingga anak didik akan menjadi manusia yang mempunyai sopan santun tinggi, mengenal kesusilaan, dapat menghargai pendapat orang lain, mempunyai tenggang rasa terhadap sesama, rasa sosialnya berkembang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Tugas Instruksional&lt;br /&gt;Dalam tugas ini kewajiban pendidik dititikberatkan pada perkembangan dan kecerdasan daya intelektual anak didik, dengan tekanan perkembangan kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotorik, sehingga anak dapat menjadi manusia yang cerdas, bermoral baik, dan sekaligus juga terampil.&lt;br /&gt;c. Tugas  Managerial (Pengelolaan)&lt;br /&gt;Dalam hal ini pendidik berkewajiban mengelola kehidupan lembaga (kelas atau sekolah yang diasuh oleh guru). Pengelolaan itu meliputi :&lt;br /&gt;Personal atau anak didik, yang lebih erat berkaitan dengan pembentukan kepribadian anak.&lt;br /&gt;Material dan sarana, yang meliputi alat-alat, perlengkapan media pendidikan, dan lain-lain yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Operasional atau tindakan yang dilakukan, yang menyangkut metode mengajar, sehingga dapat tercipta kondisi yang seoptimal mungkin bagi terlaksananya proses belajar mengajar dan dapat memberikan hasil sebaik-baiknya bagi anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pendapat di atas, Adam dan Decey (dalam Moh. Uzer  Usman, 2005: 9), berpendapat bahwa peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi beberapa hal, yaitu (1) Guru sebagai demonstrator; (2) Guru sebagai Pengelola Kelas; (3) Guru sebagai Mediator dan Fasilitator; (4) Guru sebagai Evaluator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui peranannya sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini sangat menen-tukan hasil belajar yang dicapai siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peranannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Sebagai fasilisator, guru hendaknya mampu meng-usahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru hendaknya menjadi evaluator yang baik. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.Pada akhirnya harus ada hubungan saling bekerja sama antara guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, agar tercapai tujuan akhir dari pembelajaran yang dilakukan. Guru tidak akan berarti bila tidak ada siswa. Sedangkan siswa hendaknya melaksanakan pembelajaran dengan baik sesuai dengan bimbingan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan profesionalisme, guru hendaknya dapat menulis. Menulis dalam pengertian luas, seperti menulis buku ajar, buku pengayaan, artikel, makalah, atau penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ini disebabkan menulis dan guru ibarat sekeping mata uang yang saling berkait dan saling mendukung. Dengan menulis, seorang guru akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti :&lt;br /&gt;1. menguasai materi pelajaran dengan lebih baik. Ketika menulis buku, sebenarnya guru telah belajar untuk materi pelajaran yang akan diajarkan. Secara otomatis, materi pelajaran itu dikuasai dengan lebih, bahkan sangat baik;&lt;br /&gt;2. bertambah kewibawaan dan kesahajaannya di depan siswa. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, ia akan disegani, dihormati, penuh percaya diri dan tampak lebih berwibawa di depan siswa;&lt;br /&gt;3. menjadi teladan di lingkungan kerja dan masyarakat karena tidak berteori saja. Istilah lain : tidak jarkoni (iso ujar tidak bisa nglakoni= bisa bicara tak bisa menjalaninya). Ketika telah menunjukkan kemampuannya mengimplementasikan ide menjadi sebuah buku, seorang guru akan dikenal dan terkenal di masyarakat. Kemampuannya itu akan menem-patkan dirinya sebagai figur atau teladan;&lt;br /&gt;4. memperoleh keuntungan finansial yang lebih dari cukup. Awal Januari 2008 lalu, pemerintah melalui BSNP, Badan Standar Nasional Pendidikan,  melakukan sosialisasi penulisan buku ajar. Untuk buku yang dinyatakan lolos, pemerintah akan membelinya dengan banderol Rp 100 juta – Rp 175 juta per judul. Bayangkan jika ada seorang penulis mampu meloloskan lima buah buku. Ia telah menganthongi uang tak kurang dari Rp 500 juta. Itu yang menggunakan sistem beli hak cipta. Sekarang, bandingkanlah yang meng-gunakan jalur royalti. Saat ini, perusahaan penerbitan memberikan royalti berkisar 5% - 10%. Bayangkanlah jika sebuah buku dicetak 100 ribu per judul. Berapakah royalti yang akan diterimanya? Maka, adakah seorang penulis yang miskin?;&lt;br /&gt;5. dapat menaikkan pangkat dan golongan secara cepat. Untuk kenaikan pangkat dan golongan dari IVa ke IVb, seorang guru dituntut dengan kemampuan menulis karya ilmiah sejumlah 12 poin. Berdasarkan pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), sebuah buku ajar yang lolos bernilai 8 poin. Artinya, dengan dua buku saja, seorang guru sudah lebih dari cukup untuk nongkrong di golongan IVb. Bandingkanlah dengan penelitian tindakan kelas (PTK) yang hanya bernilai 2 poin;&lt;br /&gt;6. mengkomunikasikan idenya dengan leluasa. Penulis adalah raja. Ia dapat berbuat apa saja dengan tulisannya. Kebebasan berekspresi dan mengekspresikan ide akan membuahkan ide-ide cemerlang. Semakin sering penulis menuangkan ide, ia akan semakin pandai dan matang dalam menulis;&lt;br /&gt;7. dapat menguatkan, menolak, dan memunculkan ide atau gagasan baru karena terus belajar. Ketika menulis, seorang penulis akan mengendapkan atau sedimentasi ide. Penulis akan menyelaraskan setiap ide yang ditemukan. Jika ditemukan keganjilan, penulis akan melakukan pembandingan ilmiah. Akhirnya, apakah ide itu ditolak, dikuatkan, atau justru menemukan ide baru;&lt;br /&gt;8. mendakwahkan ilmu dengan cara baik dan bijaksana. Metode dakwah atau menyiarkan ilmu yang paling baik adalah dengan menuliskannya. Artinya, seorang penulis sebenarnya juga seorang misionaris, dai, mubaligh, atau pun guru. Jika ia menulis dengan niat ikhlas berdakwah, maka ia tidak hanya mendapatkan keuntungan materi, tetapi akan mendapat-kan lebih dari itu, yaitu keuntungan rohani/pahala;&lt;br /&gt;9. dapat menemukan metode pembelajaran yang paling tepat. Ini disebabkan karena guru telah menguasai materi pelajaran. Ketika materi pelajaran telah dikuasai, penulis buku  yang juga seorang guru akan menemukan metode pembelajaran dengan tepat. Penulislah yang paling tahu materi dan metode pembelajaran yang paling tepat digunakan;&lt;br /&gt;10. berkesempatan berjumpa dengan petinggi negara. Ketika surat keterangan lolos BSNP akan diberikan, seorang penulis akan diundang pejabat berwenang untuk menerima SK tersebut secara langsung. Itulah saat paling membahagiakan karena dapat berjumpa dengan orang yang selama ini hanya dapat dilihat melalui media. Sudah diundang, diberi uang saku, diberi akomodasi, tiket pesawat gratis, dan lain-lain;&lt;br /&gt;11. berkesempatan untuk menjadi pembicara, narasumber, atau tamu pada forum ilmiah. Lagi-lagi, keuntungan berlipat akan didapat. Keuntungan untuk mempromosikan buku hasil tulisannya, mendapatkan sertifikat sebagai pembicara, dikenal dan terkenal, men-dapatkan keuntungan uang saku, mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Semua aspek dapat dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan. Semua celah akan menjadi sebuah kesempatan. Dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu, begitu kesempatan itu datang, hendaknya guru tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. Memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan lebih dari sekadar bayangan. Karena memang sedemikian banyak keuntungan yang akan diperolehnya. Maka, seorang guru harus memotivasi diri agar secepatnya berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Penulis Buku&lt;br /&gt;Jika motivasi kuat untuk menjadi penulis sudah dimiliki, seorang guru dapat memulai untuk berkarya. Untuk menjadi seorang penulis buku, tidak diperlukan modal banyak. Seorang penulis buku hanya membutuhkan ketekunan. Jika sifat itu sudah dimiliki, seorang penulis buku tinggal memilih jenis buku yang akan ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis buku ada bermacam-macam. Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukannya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan. Inilah yang akan dibahas.&lt;br /&gt;1. Buku ajar&lt;br /&gt;Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar. Untuk menjadi penulis buku ajar, dapat diawali dengan tahapan-tahapan berikut.&lt;br /&gt;a. Membaca dan menelaah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). SKKD adalah standar isi buku yang mengacu kepada kurikulum yang sedang digunakan (lihat lampiran 1).&lt;br /&gt;b. Menyusun peta konsep. Peta konsep adalah sistematika pendistribusian materi yang mengacu kepada SKKD (Lihat lampiran 2).&lt;br /&gt;c. Mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD untuk dijabarkan sesuai dengan peta konsep. Materi ini harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, aktualitas, kemenarikan, kegunaan, dan eksklusivisme.&lt;br /&gt;d. Membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP agar memperoleh inspirasi dan dapat membuat modifikasi.&lt;br /&gt;e. Memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP (Lihat lampiran 3). Ini disebabkan setiap buku ajar harus dinilaikan ke BSNP agar diperoleh standar isi yang sama.&lt;br /&gt;f. Mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep. Akan lebih baik jika diawali dari tingkat kebahasaan yang dikuasai.&lt;br /&gt;g. Merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit untuk ditemukan kekurangan.&lt;br /&gt;h. Minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau in put.&lt;br /&gt;i. Buku siap dicetak&lt;br /&gt;2. Buku pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pengayaan yaitu buku yang diperuntukkan untuk memperkaya dan memperkuat materi yang telah disajikan dalam buku ajar. Buku pengayaan mempunyai banyak kelebihan dibandingkan buku ajar, seperti :&lt;br /&gt;a. Tidak dibatasi usia kurikulum.&lt;br /&gt;b. Buku pengayaan mempunyai cakupan yang lebih luas. Materi apapun dapat diguna-kan sebagai bahan penulisan.&lt;br /&gt;c. Mempunyai masa edar lebih lama sehingga menguntungkan secara finansial.&lt;br /&gt;d. Kajian hanya menfokus ke topik/judul sehingga tidak melelahkan.&lt;br /&gt;e. Biasanya lebih tipis dan harga terjangkau.&lt;br /&gt;f. Dapat ditulis tanpa batas waktu (deadline).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menulis buku pengayaan, seorang penulis sebaiknya memahami langkah-langkah di bawah ini.&lt;br /&gt;a. Memahami dengan baik SKKD sesuai dengan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi komponen SKKD yang masih memerlukan buku pengayaan.&lt;br /&gt;c. Menyusun mind set (lihat lampiran 4)&lt;br /&gt;d. Mengumpulkan bahan.&lt;br /&gt;e. Mengembangkan bahan sesuai dengan yang telah dibuat.&lt;br /&gt;f. Meminta pihak ketiga untuk memberi masukan atau in put.&lt;br /&gt;g. Buku siap dicetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menembus Dunia Penerbitan (Publishing)&lt;br /&gt;Sudah siapkah naskah buku Anda untuk diterbitkan? Percuma seorang penulis jikalau naskah itu tidak dipublikasikan. Keinginan untuk berbagi ilmu dengan pembaca dan menjadi terkenal kandas di tengah jalan. Untuk menghindari keadaan yang demikian, Anda perlu melakukan beberapa hal berikut ini.&lt;br /&gt;1. Cobalah Anda banyak bersosialisasi dengan kalangan penulis, kritikus, resensator, dan penerbit. Sampaikan bahwa Anda mempunyai naskah buku yang menarik dan belum ada pesaing-nya. Jika penerbit belum tertarik, mintalah nomor telepon dan alamat penerbit agar suatu saat dapat berkomunikasi lagi. Anda pun dapat mencari alamat penerbit di buku telepon atau lewat internet.&lt;br /&gt;2. Jika penerbit mulai tertarik, cobalah Anda selalu berkomunikasi dengan pihak penerbit, khususnya editor. Ini agar terjalin komunikasi dan mempermudah langkah Anda menuju dunia penerbitan. Editor adalah orang yang akan mengemas buku Anda sesuai karakteris-tik penerbit atau perusahaan. Di tangannyalah nasib naskah buku Anda ditentukan.&lt;br /&gt;3. Jika naskah Anda perlu perbaikan atau revisi, ikutilah saran itu agar kesempatan itu tidak terbuang. Lakukan dan berikanlah naskah terbaik agar Anda menjadi anak emas penerbit. Setiap penerbit mempunyai karakteristik atau spesifikasi sendiri. Ini berkaitan dengan tujuan sebuah penerbitan, yaitu meraih untung atau profit.&lt;br /&gt;4. Setelah naskah dianggap baik, Anda akan diberi dua opsi atau pilihan : beli putus atau royalti. Beli putus artinya naskah Anda dibeli tunai dan hak cipta telah berpindah tangan. Sistem royalti yaitu sistem bagi hasil sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Royalti untuk penulis berbeda-beda. Namun, royalti penulis Indonesia berkisar 5% - 10% dari harga buku. Kedua sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.&lt;br /&gt;5. Jika naskah buku Anda belum beruntung diterbitkan, Anda dapat menjualnya melalui iklan, internet, dan hand out. Oleh karena itu, Anda perlu menambah wawasan tentang dunia publishing.&lt;br /&gt;6. Agar produktivitas menulis Anda makin baik, cobalah selalu mengikuti even atau kegiatan, semacam lomba/sayembara menulis, bedah buku, diskusi, dan lain-lain. Ini bertujuan lebih dari sekadar silaturahmi. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, trend buku yang menjadi best seller beserta dengan kelebihan buku telah Anda dapatkan.&lt;br /&gt;7. Sering-seringlah Anda membaca buku best seller. Buku dikatakan best seller pasti mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam buku lain. Maka, inspirasi Anda pun berkembang dan bertambah.&lt;br /&gt;8. Jika suatu saat Anda diundang untuk mengikuti suatu even, manfaatkanlah even itu untuk mempromosikan kemampuan Anda. Tonjolkanlah melalui kemampuan Anda berko-munikasi dan menguasai isi buku yang Anda tulis dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;9. Jika ada pihak lain mengajak untuk berkolaborasi atau bekerja sama menulis buku, janganlah kesempatan itu Anda buang. Gunakanlah kepercayaan itu sebagai batu loncatan untuk menjadi penulis terkenal. Ingatlah, bahwa pohon tumbuh tinggi dan besar berawal dari sebutir biji.&lt;br /&gt;10. Jika Anda telah terkenal dan dikenal, peliharalah nama baik Anda dengan selalu konsisten terhadap ilmu yang telah Anda tulis. Ingat, lebih mudah meraih daripada menjaganya. Bersikaplah ringan kaki untuk pergi menyampaikan kebenaran. Jangan kikir berbagi. Banyak memberi akan banyak menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kini Anda telah menjadi guru yang profesional. Seorang guru yang juga seorang penulis buku. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan sangat baik. Seorang guru yang mempunyai kreativitas mengembangkan materi dan metode pembelajaran. Seorang guru yang mampu mengimplementasikan pikiran dan kecemerlangan ide menjadi sebuah buku. Anda akan dikenal banyak orang dan dikenang sejarah. Bahkan, Anda telah menjadi seorang guru yang serba kaya : kaya ilmu dan kaya harta. Namun, jangan lupa : Anda tetap seorang guru yang selalu dinanti generasi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhadiah, Sabarti dkk. 2002. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.&lt;br /&gt;http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-menulis/#comment-2662 diakses pada 1 Desember 2008.&lt;br /&gt;Moh. Uzer Usman. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Muhibin Syah. 2008. Pembelajaran Bermakna. http://mgmpips.wordpress.com/2008/04/06. diakses pada 1 Desember 2008..&lt;br /&gt;Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Partoyo. 2007. Upaya Meningkatkan Minat dan Kompetensi Menulis Karangan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan CTL (PTK, Tesis). Surakarta : UNS.&lt;br /&gt;Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi.&lt;br /&gt;Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.&lt;br /&gt;Permendiknas No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan&lt;br /&gt;Pusbuk Depdiknas. 2008. Sosialisasi Penilaian Standar Buku Teks Pelajaran 2008 (Periode 1). Solo : Pusbuk-Ikapi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Soedomo Hadi. 2005. Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta: LPP dan UNS Press.&lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional ISPI  Daerah Jawa Tengah hari Sabtu, 20 Desember 2008 bertempat di Ballroom Kedaton Lantai 6 Hotel Asia Solo Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-1486471910914955057?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/1486471910914955057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=1486471910914955057' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1486471910914955057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/1486471910914955057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/meningkatkan-profesionalisme-guru.html' title='Meningkatkan Profesionalisme  Guru  dengan Menulis Buku'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-2348877125660123230</id><published>2009-01-24T18:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T19:05:38.819-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>SUATU OPINI MENGENAI REFORMASI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr.H.Muhammad Yacub, M.Ed &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Staf pengajar Universitas Negeri Medan (UNIMED),&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengurus ISPI Daerah Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Abstrak: Ada berbagai masalah dalam dunia pendidikan kita yang belum teratasi. Beberapa masalah tersebut antara lain kinerja yang tidak pas dengan tujuan umum pendidikan nasional, produk pendidikan yang belum siap pakai atau tidak sesuai dengan ketersediaan lapangan kerja, rangking pendidikan kita di mata dunia yang setara dengan negara-negara miskin atau baru merdeka, dll. Dalam situasi seperti itu telah bergulir pula gelombang reformasi yang menghendaki adanya perubahan. Dalam rangka memasuki tahapan reformasi dan realisasi undang-undang otonomi daerah maka dalam patron pendidikan kita mesti dapat menumbuhsuburkan secara serempak potensi-potensi IQ, EQ, CQ, dan SQ. Dalam patron itu juga mesti terbuhul adanya kemandirian/&lt;span id="fullpost"&gt; kewirausahaan yang didukung oleh kemampuan bersinergi dengan lingkungan fisik dan non-fisik yang ada. Dengan kata lain, dalam menyongsong berbagai kecenderungan yang aktual tidak ada alternatif lain selain perlu penataan kembali terhadap dunia pendidikan mulai dari filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan dan manajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan substansi pengajaran secara nasional, regional dan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci: permasalahan pendidikan, reformasi pendidikan, desentralisasi, potensi manusia, metode pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Atas bantuan Pemda Sumatera Utara, penulis (atas nama pengurus ISPI-SU) mengikuti seminarpendidikan nasional yang membahas bagaimana upaya merumuskan paradigma baru dalam sistem pendidikan nasional di tanah air tercinta ini dalam kaitannya dengan UU No. 22 tahun 1999 di Yogyakarta. Seminar itu sebagai upaya serius agar kecenderungan-kecenderungan yang negatif dan mencemaskan pada akhir-akhir ini terutama perilaku sebagian dari anak-anak bangsa ini tidak terus-menerus kebablasan. Telah banyak dibahas tentang segala sesuatu yang perlu diwujudkan dalam masyarakat, agar generasi muda kita kelak menjadi insan yang berbudi luhur, demokratis, kreatif dan cakap melalui wahana pendidikan yang dikembangkan. Dalam dunia pendidikan yang bersifat otoriter akan sulit sekali atau tidak akan terdapat adanya sifat kemandirian (otonom), demokratis, pro-aktif/kreatif. Apakah paradigma pendidikan kita yang lalu dan sekarang ini tidak relevan lagi sehingga terwujud insan-insan yang dalam perilakunya tidak seperti yang kita harapkan? Masalah di atas telah dibahas dalam seminar pendidikan nasional di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah tokoh pendidikan yang hadir dalam seminar pendidikan nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Primagama, PGRI dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) wilayah Yogyakarta telah dibahas bagaimana kita harus melakukan rekonstruksi dalam sistem pendidikan nasional di negeri ini, terutama dalam kaitannya dengan otonomi/ desentralisasi pendidikan yang mesti terwujud dalam abad ke-21 yang segera kita masuki. Dengan kata lain, telah terjadi reformasi pemerintahan dari sistem yang lebih banyak menggunakan pendekatan kekuasaan ke dalam pemerintahan yang lebih demokratis, lepas dari keterbelengguan dan telah diperkenankan tumbuhnya kebersamaan (egalitarian) dalam masyarakat. Dengan demikian adanya reformasi dalam sistem pendidikan nasional tidak boleh tidak mesti dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori-teori Tampilnya Tokoh-tokoh Terkenal&lt;br /&gt;Ada sejumlah teori tentang munculnya orang-orang cemerlang dan sukses di dunia ini. Mereka yang tergolong sukses karena berbagai faktor pembinaan sebelum mereka dewasa, antara lain melalui proses pendidikan yang pernah digelutinya dan pengalaman yang bermakna/kondusif dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tantangan. Ada juga orang-orang tertentu yang menjadi hebat karena suatu keahlian/ketrampilan yang dimilikinya dan semua itu terhimpun dalam kepribadiannya yang agung tanpa melalui proses pendidikan tapi melalui bimbingan gaib dari Allah SWT. Mereka yang seperti itu adalah para nabi dan rasul yang diutus Allah. Ada juga orang-orang yang menjadi ahli hanya dengan melalui proses pemagangan/pengalaman yang panjang, mereka ditempa dalam dunia kerja yang menjalankan teori dan praktik langsung dengan berbagai karir yang ada dalam masyarakatnya. Namun demikian, fakta membuktikan bahwa mereka yang menjadi sukses dalam kehidupannya adalah orang-orang yang menempa dirinya melalui pendidikan dan pengalaman yang panjang. Dengan kata lain proses pendidikan yang baik dan benar dan dilengkapi pengalaman yang kondusif adalah sangat penting dan strategis dalam mencapai sukses dalam kehidupan siapa saja di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian banyak para pemimpin yang sukses, mungkin saja dapat ditinjau dari teori-teori leadership/manajemen yang diterapkan dalam kiprahnya. Ada tiga teori yang kesohor dalam kemunculan para pemimpin di dunia ini, yaitu teori genetik (keturunan), sosial dan lingkungan. Orang-orang seperti Pangeran Charles, Hamengku Buwono X, Gus Dur, Megawati tampil sebagai tokoh terkenal karena leluhurnya memang dari kalangan aristokrat dan tokoh yang terkenal. Tampilnya Pangeran Charles dan Hamengku Buwono X secara genetik, karena leluhurnya dari kalangan kaum aristrokat ditambah lagi dengan adanya proses pendidikan/pengalaman yang dialaminya (teori genetik). Gorbachev, George Bush, Yasser Arafat mencuat kepermukaan dan tampil mengagumkan bukan karena leluhur mereka, tetapi karena keadaan sosial dan lingkungan telah menempa diri dengan baik, ada peluang yang membuat diri orang itu muncul kepermukaan (teori sosial). Dalam masa yang sedang labil dan keadaan tidak menentu tidak jarang terjadi muncul pemimpin yang dominan pada mereka bukan dari kalangan aristokrat tapi dari rakyat biasa seperti Napoleon, Hitler, Suharto yang pada gilirannya mereka mencapai puncak kekuasaan yang tidak pernah diduganya (teori lingkungan) Ada juga orang-orang yang sukses sebagai ilmuan, pioner dalam bidang iptek dan sosial, ekonomi, dan politik seperti Iqbal, Tagore, dan Habibie. Mereka berasal dari kalangan elit dalam masyarakatnya, kemudian menempa diri secara optimal melalui pendidikan dan pengalaman yang panjang ( teori genetik dan lingkungan ). Kebanyakan dari mereka menjadi berhasil atau tampil menjadi pemimpin atau tokoh dalam bidangnya masing-masing setelah melalui proses pembinaan/pendidikan/latihan yang panjang dan berliku-liku .&lt;br /&gt;Dari deretan nama-nama di atas dapat kita lihat dalam biografinya bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang menempa diri secara serius pada masa mudanya. Telah banyak turunan raja yang gagal menjadi tokoh penerus tahta orang tua/leluhurnya, karena tidak menempa diri atau lalai, sehingga mereka tumbang dari singgasananya. Sudah pasti bahwa orang-orang terkenal seperti di atas, bukanlah terdiri orang-orang yang selalu santai, malas dan semacamnya ketika mereka masa muda dulu, tetapi mereka yang pernah menempa diri dengan belajar yang baik, disiplin, ulet, tahan uji, etos kerjanya tinggi, lalu berjuang dengan gigih dalam mencapai cita-cita yang agung dan mulia di dunia nyata baik secara lokal, regional, nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pentingnya pendidikan dan pengalaman&lt;br /&gt;Semua kita atau siapa saja memahami bahwa orang tua dan generasi penerusnya selalu merindukan bagaimana mendapatkan hidup bahagia dan cemerlang untuk dirinya dan sesamanya. Tak heran jika lembaga-lembaga pendidikan kebanjiran para penuntut ilmu (siswa dan mahasiswa). Telah tumbuh dan berkembang perguruan-perguruan, mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi negeri/swasta (PTN/PTS) di seluruh tanah air. Setiap tahun terdapat jutaan orang muda membanjiri PTN/PTS. Telah menjadi berita rutin tentang wisuda lulusan perguruan, mulai dari TK sampai lulusan PTN/PTS. Belakangan ini di antara lulusan PTN dan PTS itu ada yang mencapai tingkat Magister (S2), Doktor (S3) dan studi lanjut setelah Doktor (post doctorat). Kalau ada S4, S5 dan S,S, selanjutnya mungkin akan dikejar terus oleh para pecinta ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir-akhir ini telah terjadi gejala baru di tengah-tengah masyarakat ilmuwan, yaitu sangat besar jumlah pencari kerja atau penganggur baik dari kalangan yang tidak/kurang terdidik sampai lulusan perguruan tinggi. Kebanyakan dari para penganggur terdidik itu lulusan fakultas dari ilmu-ilmu sosial bahkan dari lulusan ilmu-ilmu eksakta, diantaranya lulusan dari fakultas pertanian, teknik, dan kedokteran. Banyaknya pengangguran dari kalangan putus sekolah, lulusan SD-SLA, fakultas-fakultas sosial/keguruan, sudah menjadi berita biasa. Realita di atas merupakan salah satu faktor yang membuat orang muda kehilangan semangat dan motivasi dalam menempa diri, dengan cetusan hati sebagai berikut : "buat apa capek-capek belajar dengan serius, pada akhirnya hanya untuk menambah kuantitas pengangguran intelektual saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetusan hati di atas, sepintas lalu memang ada benarnya pada masa tertentu, tetapi tidak selamanya akan selalu benar dalam masa yang lain. Mengapa begitu? Sebagai penganut ajaran agama yang baik, kita mesti yakin bahwa: "Akulah (kata Tuhan) yang mengatur perbekalan hidup (rezeki) setiap insan di muka bumi ini". Dengan jaminan Tuhan tersebut kita jangan hanya menunggu saja, namun kita harus berusaha keras bagaimana mendapatkan peluang kerja atau menciptakan kerja baru untuk dirinya dan jika mungkin menciptakan kerja untuk orang lain. Dalam bagian lain Allah berfirman dalam Al Qur’an : "Allah tidak berubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri". Hal itu berarti, bahwa walaupun gelar sarjana, atau keahlian tertentu telah kita miliki, namun kita mesti berusaha mendapatkan pekerjaan yang cocok, jika belum diperoleh maka jangan jemu apa lagi putus asa, terus berusaha dengan cara: (1) supaya sebanyak mungkin orang lain mengetahui kebolehan/keahlian yang kita miliki, (2) membina diri agar menjadi insan yang berkualitas sehingga mereka dapat menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri dan jika mungkin untuk orang lain. Penulis pernah mendorong orang-orang muda seperti apa yang dituliskan di atas ini dan fakta menunjukkan bahwa dengan penuh kegigihan orang-orang muda mengikuti terapi tersebut, pada gilirannya mereka menemukan pekerjaan yang dapat menolong kehidupannya. Dengan kata lain, kita mesti optimis, kreatif dan rajin berkomunikasi dengan siapa saja yang pada gilirannya akan dapat membantu atau membuka jalan yang pada gilirannya seseorang mendapatkan pekerjaan atau karier yang menjadi lahan memperoleh rezeki di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (tempat penulis pernah menimba ilmu khususnya dalam bidang pendidikan non formal atau Pendidikan Luar Sekolah atau PLS) pada tahun 1978-1080 yang lalu sangat banyak ditumbuhkembangkan Community College atau semacam Pendidikan Politeknik yang ada di sejumlah propinsi di Indonesia seperti yang kita kenal sekarang ini. Para lulusan Community College di Amerika Serikat pada umumnya dapat langsung bekerja ke perusahaan yang telah menjalin kerja sama dengan college tersebut. Boleh jadi ada sejumlah lembaga mengirimkan orang-orangnya ke lembaga pendidikan/pelatihan itu. Walaupun demikian kendati telah lulus dari lembaga yang seperti di atas, tidak merupakan jaminan bahwa lulusan tersebut 100 persen siap kerja. Mereka itu masih perlu dilatih atau menyesuaikan diri lagi dalam perusahaan yang merekrutnya, mengikuti latihan khusus dalam waktu yang relatif singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan utama dalam menempa diri, terutama dalam belajar di perguruan tinggi, tidak hanya tergantung pada faktor dana dan intelegensia saja, masih banyak faktor-faktor lain yang turut berperan. Tidak sedikit mereka yang mempunyai dana yang melimpah ruah dan tidak didukung oleh kadar intelegensia dan lain-lain yang baik mereka gagal dalam mencapai sukses, pada akhir studinya. Kegagalan itu terjadi karena orang-orang itu lebih banyak menggunakan waktunya untuk kegiatan di luar objek studinya atau ia terperosok pada kelompok orang-orang yang salah arah antara lain: kelompok penggemar minuman/makanan yang berbahaya/narkoba dan semacamnya. Ada pula yang gagal karena terlibat dalam berbagai kejahatan yang makin merebak di mana saja. Dan memang tanpa adanya dan intelegensia dll yang memadai dapat dikatakan lebih baik tak usah belajar ke perguruan tinggi karena biaya untuk studi lanjut yang bermutu, memang cukup mahal, di samping faktor-faktor lain yang akan diulas pada giliran selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi yang serba sulit akhir-akhir ini terutama sangat lemahnya kehidupan ekonomi bangsa kita, usaha-usaha dari semua pihak sangat diharapkan. Dari pihak pemerintah terutama dalam Kabinet yang sekarang ini tampak jelas bagaimana upaya mengatasi kesulitan ekonomi terutama pengadaan bahan-bahan keperluan pokok menjadi tumpuan utama. Berbagai proyek pembangunan fisik yang baru akan dimulai dapat ditunda dan dananya dialihkan kepada pembinaan sektor-sektor yang dipandang sangat urgen antara lain peningkatan sektor pangan, industri, perdagangan di dalam dan luar negeri serta sektor yang berkaitan dengan pembinaan sumber daya manusia pada umumnya, dalam pembinaan kewirausahaan pada khususnya.&lt;br /&gt;4. Berbagai Potensi Non-fisik yang Mesti Dikembangkan dalam Proses Pendidikan&lt;br /&gt;Dalam bagian akan diuraikan secara singkat dan populer tentang potensi non-fisik antara lain mengenai: kecerdasan emosional dan lain-lain yang mesti ada dalam kegiatan-kegiatan wirausaha yang pada masa akhir-akhir ini sedang ditumbuh-kembangkan oleh berbagai pihak.&lt;br /&gt;4.1 Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient) Kecerdasar emosional terjemahan dari emotional quotion (EQ). Menurut Laurence E Syapiro (1997) EQ adalah himpunan dari berbagai fungsi jiwa yang melibatkan kemampuan memantau itensitas perasaan/emosi, baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain, memiliki keyakinan tentang dirinya (percaya diri) dan penuh dengan antusias, pandai memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi sehingga dapat membimbing pikiran dan tidakannya. Seseorang yang tinggi kualitas EQ-nya dalam kinerjanya tampak adanya keuletan dan kekenyalan, selalu dapat menahan diri dalam mengalami frustasi/stres atau himpitan keadaan dalam rangka mencapai atau memperjuangkan sesuatu yang menjadi cita-cita yang ingin dicapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun masih ada sebagian ahli belum sepakat apakah EQ ini dapat diukur atau tidak, orang-orang yang di dalam dirinya terdapat potensi ini, dalam kepribadiannya terdapat ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.Empati.&lt;br /&gt;2.Mampu mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah menyesuaikan diri berjuang dan survive dalam situasi yang bagaimana termasuk dalam keadaan rawan.&lt;br /&gt;3.Disukai oleh apa dan siapa saja yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;4.Memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;5.Tekun dalam menangani tugas-tugas yang diembannya.&lt;br /&gt;6.setia kawan dengan mitranya&lt;br /&gt;Siapa yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) pada umumnya dalam menggeluti usahanya selalu gigih, ulet, konsisten (ajeg) dan tahan uji/andal dalam menghadapi situasi yang paling pahit dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2 Kreativitas (creativity quotient)&lt;br /&gt;Istilah ini berasal dari kata creativity, creatie berarti ciptaan, creativity berarti penciptaan. Adanya kreativitas yang tinggi dalam kepribadian berarti terdapat kecenderungan untuk menciptakan sesuatu yang dipandang baru dan bermanfaat dalam kehidupan. Orang yang kreatif sering juga dianggap sebagai orang yang inovatif, selalu berminat untuk menemukan yang baru dan original (keaslian), tidak hanya meniru/mengekor terhadap sesuatu yang telah dikerjakan orang lain. Dalam diri orang yang kreatif dalam kinerjanya selalu tampak:&lt;br /&gt;1.Mampu mengendalikan emosi.&lt;br /&gt;2.Memiliki empati.&lt;br /&gt;3.Luwes dalam berpikir/bertindak, berminat dalam kegiatan kreatif.&lt;br /&gt;4.Berwawasan ke depan dan percaya kepada gagasan sendiri.&lt;br /&gt;(Dedi Suriadi, 1994)&lt;br /&gt;Dalam belajar, bekerja, dan dunia bisnis adanya kreativitas sangat diperlukan dalam rangka menghadapi kejenuhan/kebosanan dan persaingan yang ketat.&lt;br /&gt;1.Kecerdasan Ruhaniah (Spiritual Quotient atau SQ)&lt;br /&gt;SQ adalah suatu kemampuan untuk memahamai dan menggali motif terdalam dari kehidupan ini. Dengan kemampuan ini seseorang dapat mengenal Tuhan, meyakininya dan mencintainya. Seseorang tidak dapat mencintai Tuhan secara benar sebelum ia mencintai sesama manusia secara tulus. SQ yang tinggi kadarnya sangat berkaitan dengan EQ dan CQ (Gatra, No,43 th IV. 9 Sept. 2000: 46)&lt;br /&gt;2.Etos Kerja (EK)&lt;br /&gt;Istilah etos salah satu artinya adalah semangat, etos kerja artinya semangat bekerja. Siapa yang etos kerjanya tinggi selalu bergairah/bersemangat dalam menjalani kegiatan kerja yang telah diputuskan menjadi bagian dari kehidupannya. Mereka seolah-olah tidak mengenal lelah dan putus asa dalam menggeluti tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam jiwanya telah terpatri motto "Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin" yang berasal dari salah satu ajaran agama Islam yang cukup hebat tapi kurang terlihat dalam kepribadian sebagian dari orang-orang Islam masa kini; padahal motto ini telah diluncurkan pada abad ke-7 yang lalu. Motto itu adalah bagian dari motivasi kerja berdasarkan ajaran Islam: "Siapa saja pada hari ini amalnya lebih baik dari kemarin maka tergolong orang beruntung, siapa yang amalnya sama saja dengan kemarin, tergolong orang yang merugi dan apabila amalnya lebih rendah dari kemarin maka ia tergolong orang celaka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun berat dan sulitnya kegiatan kerja yang menjadi tanggung jawabnya, ia selalu menggeluti tugasnya itu dengan rasa ikhlas dan lapang dada; ia senantiasa merasa senang dan tenang dalam menjalankan tugasnya. Dengan penuh kesadaran, tugas yang diembannya itu adalah salah satu ibadah bahkan setara dengan ibadah wajib menurut ajaran agama Islam. Apabila bekerja telah diyakini sebagai ibadah dan hal itu dila-kukannya secara rutin, dengan penuh kesadaran dan kecintaan maka apabila orang itu tidak melakukannya karena berbagai sebab maka ia merasakan ada sesuatu yang hilang atau tidak lengkap dalam dirinya. Siapa saja yang telah melakukan ibadah kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan ibadah itu telah meresap dalam jiwanya dan menjadi bagian yang menetap dalam dirinya (kebiasaan) maka apabila kegiatan itu tidak dilakukannya, ia merasa gelisah. Siapa saja yang etos kerjanya tinggi pada umumnya akan merasa seperti itu apabila ia dalam keadaan menganggur atau suatu tugas yang tidak didikerjakan dengan tuntas. Dalam menumbuhkembangkan kegiatan belajar, bekerja, wirausaha dll sifat-sifat mental yang dipaparkan di atas harus ada. Dari sejumlah tokoh yang dipandang sukses dalam berbagai bidang, khususnya dalam dunia wirausaha memang terbukti memiliki sifat-sifat mental seperti telah dipaparkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Meningkatkan penumbuhan usaha-usaha Wiraswasta&lt;br /&gt;Program-program untuk membantu kelompok masyarakat yang tergolong dalam usaha kecil ke bawah dan menengah (usaha wiraswasta) terutama dalam rangka program-program yang ada dalam Jaringan Pengaman Sosial (JPS) yang telah diluncurkan dengan alasan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Pertumbuhan jumlah pegawai negeri dengan zero growth, dengan demikian kesempatan untuk menjadi pegawai negeri makin kecil peluangnya.&lt;br /&gt;2.Banyaknya usaha-usaha swasta yang besar dan menengah yang terlikuidasi akibat krisis moneter yang mengakibatkan krisis lainnya.&lt;br /&gt;3.Belum tumbuh dengan subur usaha-usaha wirausaha yang dilandasi oleh semangat dan etos kerja yang didalamnya terdapat kecerdasan emosional, kreativitas dan spiritual yang tinggi.&lt;br /&gt;Dari orang-orang yang sukses dalam dunia bisnis yang pernah penulis lontarkan dalam sejumlah tulisan yang pernah dimuat di media massa, antara lain Marsimin Purba, Sujak Widodo, Ray Crock dapat kita cermati bahwa dalam kepribadian mereka terdapat potensi-potensi yang telah diuraikan di atas. Menurut pengamatan penulis bahwa dalam kepribadian orang-orang seperti M. Purba, Sujak, Lim Sui Long, dan R Crock terdapat adanya IQ, EQ, CQ, dan RQ. S Widodo dan M. Purba (wiraswastawan dari wilayah Sumatera Utara dan Batam-Riau ) ternyata memang memiliki sifat-sifat tekun dan ulet/gigih dalam menumbuhkembangkan usaha yang dikelolanya dalam bidang yang digelutinya. Mereka memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak terutama dengan Departemen Koperasi dan Bank; dengan bantuan pembiayaan dari Bank maka usaha mereka makin bertambah maju dan sukses. Dengan adanya potensi-potensi seperti telah diuraikan di atas salah seorang dari 10 orang terkaya kaliber dunia yaitu Ray Crock pada gilirannya menjadi lebih kaya-raya jika dibandingkan dari pada pembina dan pengembang awal (pioner) dari Restoran Mc Donald yaitu Mc Donald bersaudara. (C.A.Poisant, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan uraian di atas kita dapat merasakan bahwa produk pendidikan yang terjadi pada masa lalu di negeri ini baru terfokus pada kuantitas lulusan belum menyentuh dari sisi kualitas pendidikan, berorientasi pada aspek kognitif (NEM/IP yang tinggi) dan kemampuan psikomotor yang kurang optimal dan belum banyak menyentuh aspek non fisikal terutama dari sisi pengembangan EQ, CQ dan, SQ secara optimal.&lt;br /&gt;7. Otonomi Pemerintahan Daerah dan reformasi pendidikan&lt;br /&gt;7.1 Pengertian Otonomi, UU No. 22 tahun 1999 dan Otonomi Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;Otonomi artinya memutuskan suatu keputusan/kebijakan secara mandiri; otonomi erat kaitanya dengan desentralisasi. Otonomi yang ideal dapat tumbuh dalam suasana bebas, demokratis, rasional dan sudah tentu dalam kalangan insan-insan yang berkualitas. Dalam pemerintahan Presiden Habibie yang berusia 500 hari itu telah lahir Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah walaupun belum begitu sempurna namun dapat merupakan acuan untuk melangkah lebih maju dapat mengadakan terobosan ke arah terwujudnya cita-cita nasional yang belum juga menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;Dalam UU No. 22 1999 itu yang merupakan titik balik terhadap UU No. 5 tahun 1974, telah ditegaskan adanya pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam pasal 7 UU No 22 tahun 1999 kewenangan daerah akan cukup luas, namun dalam bidang keamanan, hubungan politik luar negeri, agama, peradilan dan moneter/fiskal masih merupakan kewenangan pemerintah pusat. Dengan realisasi desentralisasi kewenangan dalam bidang keuangan hanya terfokus dalam pembangunan secara makro dalam globalisasi, ada kesepakatan tentang pembagian budget untuk pusat dan daerah sehingga kewenangan daerah dalam menggunakan keuangan yang menjadi porsinya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi yang memang relevan untuk daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2 Rekonstruksi/Reformasi dalam Sistem Pendidikan Nasional dan Regional&lt;br /&gt;Dalam seminar yang telah dikemukakan di atas telah dibahas hal-hal sebagai berikut.&lt;br /&gt;Pertama, dari berbagai kelemahan yang kita jumpai dalam dunia pendidikan dalam zaman orde lama dan orde baru sudah pasti mesti dirumuskan paradigma baru dalam menuju milenium ke tiga mendatang. Telah terungkap berbagai bentuk dan jenis lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang di tanah air tercinta ini, baik yang tumbuh dari sosio budaya masyarakat yang ada di bumi Nusantara ini maupun yang berdasarkan pengaruh dari luar nusantara misalnya dari Asia Selatan, Timur Tengah dan Barat. Keberadaan berbagai bentuk lembaga pendidikan Islam terutama paradigma pendidikan yang dikembangkan dalam pondok pesantren dipandang sebagai salah satu bentuk pendidikan yang membina sikap mandiri dan waspada terhadap berbagai pengaruh dari luar. Pada awalnya pondok pesantren didirikan dengan semangat kemandirian dan berbagai sistem (termasuk dalam substansi pendidikan) yang ditumbuhkembangkan di dalamnya begitu otonom, walaupun adanya semacam hak veto dan hegemoni memang ada di tangan kiayi atau para pendiri pesantren.&lt;br /&gt;Kedua, dalam GBHN 1999 telah dirumuskan misi pendidikan nasional kita sebagai berikut. Mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu, guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin, bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai iptek dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia.( Soedjiarto, 1999 ). Untuk mewujudkan misi tersebut mesti diterapkan arah kebijakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.Perluasan dan pemerataan pendidikan.&lt;br /&gt;2.Meningkatkan kemampuan akademik dan profesionalitas serta kesejahteraan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;3.Melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional termasuk dalam bidang kurikulum.&lt;br /&gt;4.Memberdayakan lembaga pendidikan formal dan PLS secara luas.&lt;br /&gt;5.Dalam realisasi pembaharuan pendidikan nasional mesti berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan, dan manajemen.&lt;br /&gt;6.Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh berbagai pihak secara efektif dan efisien terutama dalam pengembangan iptek, seni dan budaya sehingga membangkitkan semangat yang pro-aktif, kreatif, dan selalu reaktif dalam seluruh komponen bangsa (Soedjiarto, 1999).&lt;br /&gt;Ketiga, dalam hal upaya menuju otonomi pendidikan kita mesti memperhatikan adanya empat pilar yang direkomendasi oleh UNESCO yaitu: 1) learning to know, 2) learning to do, 3) learning to live together, dan 4) learning to be (mengembangkan kepribadian dan kemampuan untuk bertindak dengan otonomi yang lebih besar disertai oleh penilaian dan tanggung jawab pribadi). Dalam hal otonomisasi pendidikan di Indonesia sesuai dengan semangat reformasi telah ditetapkan/diberlakukan UU No. 22 tahun 1999 pasal 11 ayat 2 bahwa bidang pendidikan dan kebudayaan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah tingkat II. Kemudian dalam pasal 8 ayat 1 diacu bahwa penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan masyarakat di dalamnya sebagai realisasi desentralisasi yang tidak boleh tidak memiliki konsekwensi logis berupa penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. Dengan demikian, otonomi pendidikan akan berupa sistem desentralistik dalam manajemen pendidikan harus dapat mengarahkan pada berbagai kebijakan dalam proses pendidikan antara lain dalam proses belajar-mengajar sebagai alat mencapai tujuan yaitu mendorong terwujudnya partisipasi, peningkatan kualitas layanan melalui pemberdayaan lembaga pendididkan (sekolah) dan pendidik/guru dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dalam konteks sosial budayanya sendiri. Dengan demikian, penerapan sistem desentralistik manajemen Pendidikan Dasar dan seterusnya dapat mengacu PP No. 65 tahun 1951 dan UU No. 22 tahun 1999. Dengan demikian maka DPR daerah (Dati I dan II) perlu memikirkan kembali agar berbagai kebijakan di masing-masing daerah sesuai dengan jiwa reformasi yang kondusif dan kebutuhan daerahnya di masing-masing. Dengan demikian, peserta didik harus dikembangkan secara proporsional dari berbagai segi (IQ, EQ, CQ dan RQnya) dan jasmaninya sesuai dengan bakat dan minatnya dan dalam konteks: sosio-budaya daerah yang mengacu pada kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang mesti dipegang teguh dalam upaya menjaga kesatuan/keutuhan nasional. Dalam upaya itu jangan dilupakan bahwa bangsa apa saja mesti berintegrasi dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.&lt;br /&gt;Dari sedemikian banyak masukan dalam hal otonomisasi dalam pendidikan menuju milenium ketiga dari seminar terungkap sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Perlu adanya filosofi pendidikan Indonesia yang menggambarkan paradigma yang relevan dengan jiwa reformasi yang di dalamnya telah tumbuh sistem demokratisasi dan kebebasan yang beradab/beraklak dan sedang kita kembangkan sekarang ini dalam berbagai bentuk dan sudah tentu dalam aspek Politik Pendidikan dan Kebudayaan sehingga dapat mewujudkan Manusia Indonesia Baru yang berkepribadian kuat.&lt;br /&gt;2.Pendidikan Nasional hendaknya memiliki misi agar tercipta partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat menjadi terdidik. Pada sisi lain tidak hanya terfokus pada penyiapan tenaga kerja, tapi lebih jauh dari itu harus memperkuat kemampuan dasar peserta didik sehingga memungkinkan baginya untuk berkembang lebih jauh sebagai individu, anggota masyarakat maupun sebagai warga negara dalam konteks kehidupan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pengembangan sekolah perlu menggunakan pendekatan community based education, terutama menerapkan prinsip otonomi, acountability dan quality assurance sehingga dapat mengakomodasi sosio-ekonomi/budaya lokal namun tetap mengacu pada sosio budaya nasional. (Suyanto, 1999). Dengan demikian, lembaga pendidikan yang ada mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada masyarakat/orang tua di sekitarnya dan pemerintah setempat, namun tetap dalam koridor sistem pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Substansi pendidikan dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan kreativitas (IQ, EQ, CQ, dan RQ) dalam totalitas yang seimbang dan serasi. Pendidikan menengah dan tinggi hendaknya diarahkan pada membuka kemungkinan pengembangan individu/kepribadian secara vertikal dan horisontal. Pengembangan secara vertikal mengacu pada struktur keilmuan dan pengembangan horisontal, mengacu pada keterkaitan antarbidang keilmuan.&lt;br /&gt;5.Dalam realisasi pendidikan dalam konteks lokal adanya badan-badan pembantu dalam dunia pendidikan antara lain Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) ditingkatkan perannya menjadi Dewan Sekolah yang di dalamnya harus ada unsur-unsur Pemerintah Daerah, perwakilan guru-guru dan sudah tentu ada pula di dalamnya tokoh-tokoh masyarakat dan para orang tua peserta didik. BP3 berperan memberi masukan tidak hanya dari sisi bantuan material dan kesejahteraan guru, tetapi juga masukan dalam berbagai aspek termasuk dalam pembinaan misi, visi dan substansi (kurikulum lokal dll) pendidikan yang sesuai dengan keperluan daerah masing-masing.&lt;br /&gt;6.Dalam pembelajaran pada tingkat apa saja mesti dapat mengaktualisasi enam unsur kapasitas belajar yaitu: (i) kepercayaan (confidence), (ii) keingintahuan (curioucity), (iii) sadar tujuan (intensionality), (iv) kendali diri (self control), (v) kemampuan bergaul secara harmonis /saling pengertian (relatedness), dan (vi) mampu bekerja sama (work together) dengan pihak mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penutup&lt;br /&gt;Dengan kata lain, rahasia bagaimana kita dapat mencapai keberhasilan dalam proses pendidikan yang pada gilirannya dapat mencapai sukses kehidupan ini dalam garis besarnya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Kita harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang optimal sehingga menjadi profesional dalam satu atau dua atau lebih dari dalam kehidupan yang nyata baik yang bersifat fisikal atau non fisikal.&lt;br /&gt;2.Berusaha agar orang lain atau jika mungkin satu/beberapa perusahaan mengenal dan mengetahui tentang keahlian yang kita miliki sehingga mereka mungkin menggunakan (memesan) keahlian yang kita miliki untuk mereka manfaatkan.&lt;br /&gt;3.Dalam menggeluti pekerjaan apa saja tunjukkan hasil kerja (prestasi) yang prima/optimal dan dengan penuh tanggung jawab (accountability) serta jauhkan diri dari segala sesuatu yang arogan.&lt;br /&gt;4.Adanya kemampuan untuk berinteraksi dengan baik dan harmonis (human relation) dengan sesamanya dan dengan atasan/bawahannya serta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;5.Sangat perlu adanya kejujuran, disiplin, keuletan, kesabaran dalam berbagai aspek dalam kehidupan dalam ruang/tempat kerja dan di luarnya termasuk dalam keluarganya.&lt;br /&gt;6.Sadarilah bahwa bekerja adalah termasuk salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT di samping berbagai jenis ibadah lainnya terutama ibadah ubudiyah kepadaNya.&lt;br /&gt;Dengan berbagai usaha di atas timbul tanda tanya: dapatkah berbagai upaya itu mencapai tujuan yang diharapkan? Faktor-faktor apa saja yang mesti ditingkatkan sehingga tumbuh dan berkembang sehingga berbagai usaha baru dapat terwujud? Dalam menjawab pertanyaan di atas, penulis yakin bahwa para pembaca dapat menemukan sendiri jawabannya setelah melalui penyelidikan dan pengalaman yang cukup panjang.&lt;br /&gt;Sekedar demikian saja pemaparan kami tentang reformasi pendidikan yang dapat kami simak dalam tulisan ini. Mudah-mudahan saja isi tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;Madya, Sumarsih, 1999, "Menuju Otonomi Pendidikan", MAKALAH, Primagama-ISPI-PGRI, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Muhammad, Henry &amp;amp; Bakri, Kholis Bachtiar, 2000. " Sikap damai itu cerdas ", GATRA, No. 43/thn VI/9 September.&lt;br /&gt;Meester, De L, 1999, "Menuju Otonomi Pendidikan", MAKALAH, Primagama-ISPI-PGRI, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Poisant, Charles Albert, 1993, RAHASIA KEBERHASILAN JUTAWAN TERKEMUKA DI DUNIA, Pustaka Tangga, Jakarta.&lt;br /&gt;Supriadi, Dedi, 1994, KREATIPTAS, KEBUDAYAAN &amp;amp; PERKEMBANGAN IPTEK, Alfabeta, Bandung.&lt;br /&gt;.Syapiro, Laurence E, 1997, MENGAJARKAN EMOTIONAL INTELIGENCE PADA ANAK, Gramedia, Jakarta.&lt;br /&gt;Soedjiarto, 1999. "Memahami Arahan Kebijakan GBHN 1999-2004 tentang Pendidikan Sebagai Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara bangsa Indonesia", MAKALAH, Primagama-IPSI-PGRI, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Suyanto, 1999, "Paradigma Baru Sistem Pendidikan Nasional Abad ke-21", MAKALAH, Primagama-IPSI-PGRI, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Yacub, Muhammad, 1999, ORANG TUA BIJAKSANA DAN INSAN-INSAN YANG SUKSES, Yay- Madera, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-2348877125660123230?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/2348877125660123230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=2348877125660123230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2348877125660123230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/2348877125660123230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/suatu-opini-mengenai-reformasi-sistem.html' title='SUATU OPINI MENGENAI REFORMASI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6335109189225211408</id><published>2009-01-23T04:48:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:08:53.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organisasi'/><title type='text'>Mengoptimalkan Organisasi Profesi Guru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hery Nugroho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(direktur Centre for Education Studies (CES) Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;PADA era Orde Baru, organisasi guru diidentikkan dengan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pada masa itu, PGRI dapat dikatakan satu-satunya organisasi guru yang diakui pemerintah. Posisi guru saat itu sangat lemah, digaji rendah pun tidak ada yang menentang. Guru dininabobokan dengan slogan ”pahlawan tanpa jasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, guru tidak berani secara terbuka mengkritisi kebijakan pemerintah. Hal ini bisa dipahami. Dalam beberapa kasus, guru yang kritis dimutasi ke daerah terpencil atau turun pangkat. Akibatnya, banyak guru memilih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam berpolitik pun, guru (khususnya PNS yang seharusnya netral) pada masa itu digiring untuk memilih salah satu partai politik tertentu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah reformasi, bermunculah beberapa organisasi guru. Misalnya Federasi Guru Independen Indonesia, Persatuan Guru Karyawan Swasta Indonesia, Figurmas, Persatuan Guru Tidak Tetap Indonesia, Forum Guru Tidak Tetap Indonesia, Serikat Guru Jakarta, Forum Tenaga Honorer Negeri Indonesia, Forum Ilmiah Guru dan masih banyak lagi. Bahkan di setiap daerah bermunculan organisasi guru, baik yang menamakan dirinya persatuan, ikatan atau forum guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan penulis, latar belakang kemunculan berbagai organisasi guru tersebut dikarenakan beberapa hal. Pertama, belum tertampungnya aspirasi guru dalam wadah organisasi yang sudah ada. Sebelum dekade 2000-an, banyak guru menganggap PGRI terlalu menganakemaskan guru negeri. Akibatnya, guru swasta merasa dianaktirikan, sehingga lahirlah organisasi guru swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, PGRI dianggap sebagai kepanjangan tangan birokrasi untuk menekan guru (Darmaningtyas: 2007). Bahkan seorang teman anggota PGRI mengeluh, setiap bulan gajinya dipotong untuk iuran bulanan, tetapi dia tidak tahu bagaimana masalah pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jumlah uang yang dipotong tidak seberapa. Tetapi jika dikalikan dengan seluruh anggota, tentu akan menjadi jumlah yang sangat besar. Meskipun dalam beberapa hal, PGRI sekarang sudah melakukan pembenahan dalam memperjuangkan peningkatan profesionalisme guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya perubahan kondisi politik bangsa Indonesia dari Orde Baru ke era reformasi. Sebelumnya, orang takut berbeda sikap dengan pemerintah. Sekarang, setiap orang bebas untuk berserikat dan menyampaikan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah saat itu mengarahkan organisasi guru hanya satu, untuk memudahkan dalam mengontrolnya. Seiring dengan perubahan waktu, saat ini telah banyak berdiri organisasi guru. Dalam hal penyampaian pendapat, guru yang melakukan demonstasi di masa itu dianggap tabu. Sekarang, demonstrasi dianggap hal biasa dalam memperjuangkan nasib guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, semangat untuk meningkatkan profesionalisme guru. Kalau sebelumnya pekerjaan guru dianggap sebelah mata, kini dianggap setara dengan profesi lain seperti dokter, pengacara, dan akuntansi. Namun dalam beberapa hal masih ditemukan kendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya organisasi profesi. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD). Dalam Pasal 14 1 (h) disebutkan, dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam praktiknya masih saja birokrat pendidikan sekarang yang secara terselubung mewajibkan kepada guru untuk bergabung ke salah satu organisasi guru tertentu, khususnya yang berstatus pegawai negeri sipil. Padahal ini jelas melanggar UUGD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan organisasi guru yang ada, tidak semua dapat dikategorikan sebagai organisasi profesi guru. Biasanya kalau organisasi profesi itu sifatnya permanen, bukan insidental. Dengan kata lain, apa yang dilakukan organisasi guru itu harus dilakukan secara terus menerus. Bukan setelah perjuangannya selesai, kemudian organisasi tersebut berhenti beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memajukan Profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan guru sekarang makin berat, terutama jika dibandingkan sebelum adanya UUGD. Saat ini guru diposisikan sebagai tenaga profesional yang berfungsi meningkatkan martabat, dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional (UUGD Pasal 2 ayat 1). Karenanya, guru dituntut untuk selalu terus meningkatkan kualitas kompetensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara meningkatkannya adalah melalui organisasi profesi guru. Dalam UUGD Pasal 41 (2) disebutkan, organisasi profesi berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pasal itu dapat dikatakan, keberadaan organisasi profesi akan meningkatkan profesionalisme guru. Karena di sana ada interaksi antarguru untuk memikirkan bagaimana meningkatkan profesionalismenya secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisasi profesi guru, tidak ada perbedaan antara guru yang sudah lulus sertifikasi dan yang belum mengikuti / belum lulus sertifikasi. Secara teori, guru yang sudah lulus uji sertifikasi dapat dikatakan sebagai guru profesional. Tetapi bukan berarti tak perlu organisasi profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan guru yang sudah lulus harus membuktikan dirinya sebagai guru yang benar-benar profesional dengan terus berinovasi dalam pembelajaran atau meng-update pengetahuan dalam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk selalu meningkatkan profesi guru adalah menjadi anggota profesi guru, termasuk di dalamnya guru yang belum mengikuti uji sertifikasi. Tidak salah kalau dalam UUGD Pasal 41 (3) mewajibkan setiap guru untuk mengikuti organisasi profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Paradigma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, payung hukum untuk mewajibkan setiap guru mengikuti organisasi profesi perlu ada. Tetapi juga perlu penyadaran kepada guru tentang manfaat mengikuti organisasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, berdasarkan pengamatan penulis, guru mengikuti organisasi profesi lebih mengedepankan memenuhi kewajiban. Akibatnya, mereka hanya sekedar ikut-ikutan, bahkan ada yang terpaksa. Idealnya, bergabung dengan organisasi guru benar-benar menjadi sebuah kebutuhan untuk mengembangkan profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan di atas, perlu ada perubahan paradigma dalam pengembangan organisasi profesi guru. Pertama, perubahan manajemen profesi guru. Selama ini guru hanya dianggap sebagai objek para petinggi organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada anggapan masuk organisasi profesi guru ujung-ujungnya gajinya yang tidak seberapa dipotong setiap bulan. Sebenarnya guru tak mempermasalahkan besarnya iuran, tetapi bagaimana pertanggunggjawaban penggunaan dana itu, agar betul-betul bermanfaat untuk anggota profesi guru ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pertanyaan di atas itu harus dijawab pengurus organisasi profesi guru, dengan mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel. Dengan demikian, setiap anggota bisa mengakses laporan pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah penting, organisasi profesi tersebut harus betul-betul memberdayakan semua anggotanya sebagai subjek, dan bukan lagi sebagai objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, birokrat pendidikan. Dalam organisasi profesi guru, seharusnya birokrat pendidikan berlaku adil kepada seluruh organisasi profesi guru yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai dengan masuknya birokrat pendidikan ke dalam kepengurusan organisasi profesi guru akan memandang sebelah mata organisasi profesi guru lain. UUGD menjamin kebebasan guru untuk berserikat dalam organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, birokrat pendidikan dan pemerintah harus memberi otonomi penuh kepada semua organisasi profesi dalam mengelolanya. Jangan sampai mengintervensi ketika ada guru yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, lalu dimutasi atau diturunkan pangkatnya. Kalau ada kasus seperti itu, maka guru dan organisasi profesi harus berdialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dari pihak guru. Menurut Paul Suparno (2004), reformasi pendidikan di Indonesia berjalan sangat lambat. Salah satu faktor penyebabnya adalah guru. Banyak guru tidak suka perubahan. Guru sudah puas dengan tugas sehari-hari di kelas, sehingga ketika ada perubahan dalam pendidikan justru menjadi kaget dan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tidak sertamerta disalahkan kepada guru, karena selama 32 tahun mereka ditempatkan sebagai robot yang harus melaksanakan perintah atasannya. Meminjam istilah Giroux (1988), guru itu seharusnya seorang intelektual transformatif. Seorang intelektual yang dapat ikut merubah suasana dan keadaan, serta menjadi agen perubahan masyarakat lewat anak didik yang dibantu secara kritis (Paul Suparno: 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi guru yang intelektual tranformatif, salah satunya bisa dilakukan dengan mengikuti organisasi profesi guru. Dari ketiga hal di atas, kalau semua pihak terkait mau dan mampu merubah paradigmanya, bukan tidak mungkin fungsi organisasi guru seperti diamanatkan dalam UUGD akan tercapai. (32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6335109189225211408?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6335109189225211408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6335109189225211408' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6335109189225211408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6335109189225211408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/mengoptimalkan-organisasi-profesi-guru.html' title='Mengoptimalkan Organisasi Profesi Guru'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-3985479485239433835</id><published>2009-01-22T04:28:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:09:29.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>PELANTIKAN PENGURUS ISPI CABANG KOTA SALATIGA</title><content type='html'>Salatiga (Espos) :    Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (PC-ISPI) Kota Salatiga masa bakti 2009-2012 dilantik oleh Pengurus Daerah (PD-ISPI)  Jateng, Sabtu (10/1),  di Balairung UKSW Salatiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua PD-ISPI Jateng, Prof Dr H Trisno Martono. Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Umum ISPI pusat, Prof Dr H Soedijarto.  Biro Humas ISPI, Djoko Santosa TH MPd dalam siaran pers yang diterima Espos, Kamis (15/1), menyampaikan bahwa dalam kegiatan itu digelar pula Seminar dan Lokakarya Nasional dengan tema Tanggungjawab Sarjana Pendidikan dalam meningkatkan Profesionalisme Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Solo Pos&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-3985479485239433835?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/3985479485239433835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=3985479485239433835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3985479485239433835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/3985479485239433835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/pelantikan-pengurus-ispi-cabang-kota.html' title='PELANTIKAN PENGURUS ISPI CABANG KOTA SALATIGA'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4191947844308575068</id><published>2009-01-21T04:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T04:05:13.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Gratis Dipertanyakan Timbulkan Salah Persepsi di Masyarakat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SXcPMgrQh1I/AAAAAAAAAjI/s-K6N2Pb1L0/s1600-h/dddddddddddd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 93px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SXcPMgrQh1I/AAAAAAAAAjI/s-K6N2Pb1L0/s400/dddddddddddd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293716594601527122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jakarta, Kompas - Para kepala dinas pendidikan provinsi meminta ketegasan terkait dengan kebijakan pendidikan gratis. Perlu diperjelas oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional mengenai komponen yang digratiskan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terungkap dalam sosialisasi mengenai kebijakan pendidikan gratis pendidikan dasar tahun 2009 oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, Selasa (20/1). Dalam kesempatan yang sama disosialisasikan pula Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP).&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Rasiyo mengatakan, pemerintah pusat perlu memperjelas pengertian mengenai pendidikan gratis. ”Agar masyarakat dan pemerintah di daerah memahami dan sama persepsinya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Kunto Nugroho. ”Statement gratis itu, gratis yang mana? Untuk para pelaku birokrasi pendidikan tidak menjadi soal, tetapi bagi masyarakat awam yang tidak paham secara teknis akan muncul persoalan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan muncul lantaran masih ada komponen biaya pendidikan yang kemudian harus ditanggung masyarakat. Tidak semua sekolah membebaskan biaya. Apalagi sekolah berstandar internasional yang memang diperkenankan menarik pungutan karena memberikan layanan di atas standar nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunto berpandangan, masih perlu sosialisasi mengenai konsep gratis dan penyamaan persepsi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dalam sebuah pertemuan, Kunto mencontohkan, dari 35 kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota yang dikumpulkan, hanya empat kabupaten/kota yang siap untuk menyediakan pendidikan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pelaksanaan pendidikan gratis masih membutuhkan pengawasan. Di Jatim, misalnya, pemerintah provinsi membiayai sendiri dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rasiyo, pihaknya mengangkat 6.000 pengawas dengan jumlah sekolah SD/MI sebanyak 33.000 dan SMP/MTs sebanyak 3.000 sekolah. Tugas pengawas antara lain membina sekolah dalam merancang, memakai, dan mempertanggungjawabkan penggunaan dana, serta melaporkan dana secara intensif. ”Untuk pengawasan itu sendiri dibutuhkan anggaran,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Rahmad Derita menambahkan, pengawasan menjadi sangat penting. Hal ini mengingat pengetahuan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang menjadi sumber utama menggratiskan pendidikan menjadi dominasi kepala sekolah. Adapun guru dan pengawas belum terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas mengatakan, batasan pendidikan gratis mengikuti peraturan pemerintah tentang pendanaan pendidikan yang terdiri atas biaya investasi, operasional, dan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menyediakan dana untuk biaya investasi lahan, sarana, dan prasarana pendidikan dasar yang diselenggarakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum semua biaya ditanggung pemerintah. Bahkan, buku pelajaran juga belum sepenuhnya tercakup dalam biaya operasional sekolah,” ujar Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah wajib memenuhi kekurangan biaya dari APBD apabila BOS tidak cukup.(INE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-4191947844308575068?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/4191947844308575068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=4191947844308575068' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4191947844308575068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/4191947844308575068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/pendidikan-gratis-dipertanyakan.html' title='Pendidikan Gratis Dipertanyakan Timbulkan Salah Persepsi di Masyarakat'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SXcPMgrQh1I/AAAAAAAAAjI/s-K6N2Pb1L0/s72-c/dddddddddddd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-6391524059765118867</id><published>2009-01-18T20:06:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:10:13.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Guru dan Penghasilan Tambahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rudi Mulyatiningsih, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru SMP Negeri 2 Purbalingga,&lt;br /&gt;juara I Lomba Inovasi Layanan Bimbingan dan Konseling Tingkat Nasional Tahun 2008. Anggota Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka&lt;br /&gt;PENGHASILAN tambahan guru berupa kesejahteraan di luar gaji yang didanai dari Komite Sekolah kembali dipersoalkan. Harian ini bahkan pernah membuat judul berita yang kurang mengenakkan, ”Dana Komite Diduga untuk Bancakan Guru” (Suara Merdeka, edisi Suara Banyumas, 6/12 08).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ini didasarkan dari hasil pengawasan Inspektorat Pemerintah Kabupaten Banyumas yang dilaporkan ke Dinas Pendidikan. Dalam laporan itu, konon dana Komite digunakan untuk kepentingan yang tidak berkaitan dengan kepentingan pendidikan, seperti seragam guru dan karyawan, bingkisan lebaran, dan dana transportasi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berita ini telah membuat para guru terpukul. Tidak saja di Banyumas, kaum guru di Jawa Tengah pun tentu turut merasakannya, karena (maaf) mungkin mereka juga menerima kesejahteraan dari dana Komite. Persoalan ini tidak dapat dibiarkan, agar guru tidak makin terjerumus ke dalam kemelut persoalan kesejahteraan tambahan di luar gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah penghasilan tambahan berupa kesejahteraan lain-lain bagi guru tidak terlepas dari deskripsi tugas guru. Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/Tahun 1999 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, salah tugas pokok guru adalah merencanakan program, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi, dan dinilai sebagai unsur utama dalam usul penilaian angka kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian tunjangan profesi bagi guru yang telah bersertifikat pendidik juga dengan syarat mengajar minimal 24 jam. Dapat dikatakan bahwa guru digaji memang untuk kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok hampir-hampir tak pernah ada, termasuk penggajiannya. Pemerintah telah mengaturnya dengan jelas, baik untuk guru PNS maupun honorer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun tentang strategi pelaksanaannya. Mulai dari kurikulum yang digunakan, durasi setiap satu jam pelajaran, jumlah jam per minggu untuk setiap mata pelajaran, sampai jadwal pelaksanaannya, semuanya sudah diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah tugas guru selain tugas pokok? Kenyataan di lapangan menunjukkan, banyak guru yang mendapat tugas tambahan. Misalnya menjadi ketua program studi, wali kelas, guru piket, urusan, kepala laboratorium, petugas perpustakaan, panitia pengembangan potensi siswa, panitia ulangan atau ujian, hingga pengawas ulangan dan koreksi, sampai menjadi bendahara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Komite Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas itu bisa diperhitungkan dalam angka kredit kenaikan pangkat maupun penilaian fortofolio sertifikasi. Sebagai konsekuensinya, hampir sebagian besar (baca: semua) sekolah memberikan honorarium atau kesejahteraan dari dana Komite, meskipun pelaksanaannya berdampingan (jika tidak boleh dikatakan bersama-sama) dengan tugas pokok. Bolehkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula dengan tugas tambahan yang dilaksanakan di luar jam sekolah? Bukankah banyak guru yang melakukan pembimbingan siswa pada sore hari. Misalnya melatih pengembangan bakat melalui ekstrakurikuler. Umumnya, aktivitas ini pun mendapat dukungan dari pihak sekolah termasuk memperoleh transport. Apakah ini juga dilarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deskripsi tugas pokok guru, rasanya boleh-boleh saja jika sekolah memberi kesejahteraan di luar gaji untuk tugas tambahan. Apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan di luar jam sekolah. Persoalannya, sampai sekarang belum ada petunjuk yang mengatur tentang tugas tambahan dan pemberian honornya.&lt;br /&gt;Jangan biarkan tugas mulia guru sebagai pembangun insan cendekia ternoda, hanya karena menerima penghasilan tambahan. Pemerintah sebagai pihak pemberi gaji dan tunjangan profesi bagi guru seharusnya bisa membuat deskripsi lebih rinci tentang semua tugas guru, pokok maupun tambahan, yang dibayar dari gaji atau tunjangan profesi. Bila perlu, batasi juga tentang jam kerjanya, sehingga jelas antara jam dinas dan lembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan tersebut dapat menjadi acuan Komite Sekolah dalam memutuskan kegiatan guru yang perlu didanai komite itu. Tetapi agar tak digugat, Komite Sekolah sebagai wakil orang tua atau wali siswa perlu menyusun aturan tertulis tentang penggunaan dana komite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatakan dengan jelas kegiatan-kegiatan guru yang boleh diberi honor dari komite dan yang tidak, termasuk besar kecilnya rupiah. Sebab besarnya dana Komite Sekolah tidak sama, mungkin saja terjadi perbedaan pemberian honor antara sekolah satu dengan lainnya. Bahkan sangat mungkin ada Komite Sekolah yang tidak memberinya, karena memang tidak ada dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Komite Sekolah jangan hanya berperan mencari dana saja, tanpa memiliki peran kontrol sehingga ”menjerumuskan guru”. Laporan kepala sekolah setiap bulan perlu dicermati. Jika ternyata menyimpang dari aturan komite, segeralah meminta kepala sekolah untuk memperbaikinya, sehingga tidak terjadi kesalahan bertahun-tahun, sampai mencemarkan nama guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua murid sebagai anggota Komite Sekolah juga harus berani mengoreksi kegiatan pengurus komite. Tidak perlu khawatir akan menimbulkan persoalan bagi anaknya, karena guru tidak pernah mengaitkan persoalan nilai siswa dengan peristiwa apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, pemerintah perlu membuat pedoman tentang penggunaan dana sumbangan orang tua murid kepada Komite Sekolah. Adanya aturan tersebut akan mengendalikan Komite Sekolah sehingga tidak berjalan sendiri tanpa kendali. Dan kalau sekarang disinyalir ada Komite Sekolah yang kongkalikong dengan sekolah, tentu tidak akan terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan penghasilan tambahan. Sambil menunggu lahirnya aturan tentang pemberian honorarium tugas lain-lain, hati nurani dapat digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, apakah pantas seorang kepala sekolah mengusulkan honor guru kepada Komite Sekolah untuk membuat soal, mengoreksi, melakukan remidial teaching sore hari, menjadi panitia try out, ulangan semester, maupun ujian nasional? Bukankah itu termasuk tugas pokok guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pantaskah kepala sekolah meminta upah dari Komite Sekolah sebagai penanggung jawab program atau koordinator kegiatan di sekolah? Bukankah itu penjabaran dari tugas kepala sekolah yang sudah dibayar negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian tugas tambahan dengan prinsip pemerataan, tanpa memperhitungkan kemanfaatannya sehingga terkesan mengada-ada, juga harus dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih bijak jika dana tersebut difokuskan untuk peningkatan mutu proses belajar mengajar. Sangat mungkin, tugas tambahan yang notabene tidak berkaitan dengan proses pembelajaran menyebabkan guru meninggalkan tugas mengajarnya di kelas. Misalnya, jika ada monitoring keuangan, maka bendahara harus mendampingi tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honor tugas tambahan juga belum tentu menyejahterakan guru. Kini muncul jabatan-jabatan ”bergengsi” di sekolah karena honornya besar, sehingga menimbulkan konflik antarguru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya aturan yang jelas tentang tugas tambahan guru dan pemberian honorariumnya bukan hanya bisa menyejahterakan guru secara lahir, tetapi juga batin. Kalau toh akhirnya guru harus melakukan tugas tambahan tanpa honor, saya yakin mereka tetap rela melakukannya, demi kemajuan sekolah dan murid-muridnya. (320&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7201996281975514393-6391524059765118867?l=ispi-banyumas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/feeds/6391524059765118867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7201996281975514393&amp;postID=6391524059765118867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6391524059765118867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7201996281975514393/posts/default/6391524059765118867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ispi-banyumas.blogspot.com/2009/01/guru-dan-penghasilan-tambahan.html' title='Guru dan Penghasilan Tambahan'/><author><name>ISPI Banyumas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04294943900768331912</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SufJtOiSQWI/AAAAAAAAAqg/0Q69l1zCyf8/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7201996281975514393.post-4674058983925917065</id><published>2009-01-15T04:47:00.000-08:00</published><updated>2009-04-25T21:53:20.949-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasil Penelitian (Skripsi)'/><title type='text'>ANALISIS ARAH PEMBANGUNAN " KOTA " PURWOKERTO.-Dengan Menekankan Arah Pembangunan Kota Purwokerto sebagai Kota Pendidikan-</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SW8tZEZlgAI/AAAAAAAAAi4/HDiCVsW9hBM/s1600-h/skrispi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zt6hWGM9nYA/SW8tZEZlgAI/AAAAAAAAAi4/HDiCVsW9hBM/s320/skrispi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291497995884658690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sekira 3 (tiga) bulan yang lalu, seorang mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman mendatangi sekretariat ISPI Cabang Banyumas (SMAN 2 Purwokerto). Beliau ditemui Bapak Kumaidi (Wakil Sekretaris III) dan menyampaikan ingin mewawancarai Ketua ISPI Cabang Banyumas untuk bahan penelitian tugas akhirnya (skripsi). Mengingat Bapak Drs Dayono selaku Ketua ISPI Cabang Banyumas sedang sibuk maka akhirnya Sekretaris I yang ditemui untuk diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya mahasiswi yang bernama ROSMANAWATI tersebut sedang membuat karya tulis akhir berupa skripsi dengan judul yang cukup  menarik yaitu” ANALISIS ARAH PEMBANGUNAN “KOTA” PURWOKERTO dengan menekankan arah pembangunan kota Purwokerto sebagai kota pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Konon tujuan dari penelitian tersebut untuk mengetahui dan menganalisis aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan. Salah satu metode dalam menggali data penelitian itu dengan melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh pendidikan di Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemarin mahasiswi yang sekarang telah diwisuda dan menjadi sarjana itu mengirimkan hasil penelitiannya. Sungguh menarik untuk dikaji lebih jauh bahwa kesimpulan dari hasil penelitiannya berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kota Purwokerto mengenai analisis arah pembangunan kota Purwokerto sebagai kota pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah kabupaten hingga saat ini belum mendukung terwujudnya Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan. Namun, melihat aspek sosial-ekonomi dan kapasitas lembaga lokal, Kota Purwokerto memiliki potensi sebagai kota pendidikan. Untuk menjadi kota pendidikan, Purwokerto harus bisa memperhatikan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pendidikan di Kota Purwokerto untuk pendidikan dasar hingga menengah sudah cukup baik dari tahun-tahun. Namun, pemerintah kabupaten masih dirasa belum optimal memberikan perhatian kepada perguruan tinggi. Semua urusan perguruan tinggi masih menjadi urusannya masing-masing. Oleh karena itu, potensi yang mendukung terwujudnya Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan harus disertai dengan dukungan pemerintah kabupaten terhadap keberadaan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil analisis SWOT, aspek-aspek yang perlu menjadi pertimbangan pemerintah kabupaten adalah dari segi geografis dan demografis. Dari segi geografis, Purwokerto berada pada lokasi yang strategis, yaitu pertemuan jalur selatan-utara. Purwokerto juga memiliki atmosfer dan cuaca yang mendukung proses pembelajaran. Dari segi demografis, Purwokerto memiliki sumber daya manusia terdidik yang cukup banyak. Banyak tokoh-tokoh pendidikan lahir dari Kota Purwokerto. Selain itu, Kota Purwokerto juga memiliki fasilitas pendidikan yang cukup memadai. Potensi-potensi ini sangat mendukung terwujudnya Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan. Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan memiliki prospek yang baik, jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang memperhatikan dunia pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Implikasi yang beliau tawarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, arah pembangunan kota sebagai kota pendidikan memerlukan kebijakan pemerintah kabupaten yang mengarah pada perwujudan Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan, diantaranya :1. Menumbuhkan forum-forum diskusi dengan tokoh pendidikan yang ada.&lt;br /&gt;2. Meningkatkan anggaran pendidikan sesuai dengan Undang-undang, yaitu 20%.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. Menciptakan tata ruang kota yang kondusif bagi perwujudan kota pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4.Menarik investasi industri yang mendukung dunia pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan salah satu teknik pengunpulan datanya dengan  Interview (wawancara) yaitu percakapan dengan maksud tertentu, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan metode Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyumas adalah unsur dalam sekretariat daerah yang membawahi bidang perekonomian, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan kepala asisten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ekonomi dan pembangunan sekretaris daerah Kabupaten Banyumas sebagai informan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah bagian dalam DPRD yang menangani masalah pendidikan di Kabupaten Banyumas. Pemilihan informan ini juga menggunakan teknik purposive sampling.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Badan Perencanaan pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Banyumas adalah badan yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan kepala sub bidang kesejahteraan sosial Bappeda Kabupaten Banyumas sebagai informan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sub bidang ini yang menangani masalah pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas adalah dinas yang mempunyai tugas melaksanakan teknis operasional urusan pemerintahan daerah bidang pendidikan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas sebagai informan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tokoh pendidikan Purwokerto adalah tokoh masyarakat yang menguasai kondisi pendidikan di Purwokerto. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik snowball sampling untuk menentukan informan, dengan cara meminta rekomendasi dari informan sebelumnya untuk menentukan informan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 14. Daftar Informan Penelitian ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama  Keterangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. PW Kepala Asisten ekonomi dan pembangunan sekretaris daerah Kabupaten Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2. AI Ketua Komisi D DPRD Kab. Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. AW Kepala sub bidang kesejahteraan sosial Bappeda Kab. Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. SY Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5. AG Aktivis Figurmas (Forum Interaksi Guru Banyumas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;6. AT Budayawan Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;7. TD Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;8. DK Sekretaris I ISPI (Ikatan Sarjana pendidikan Indonesia) Kabupaten Banyumas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;9. SN Kepala Biro Kependidikan LPP Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10. RM Mantan Rektor Universitas Jenderal Soedirman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;11. KH Ketua Stain Purwokerto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;12. SK Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;13. MR Pembantu Ketua I Stain Purwokerto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut cuplikan hasil wawancara dengan para tokoh pendidikan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Deskripsi Hasil Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4.1 Socioeconomic Base&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aspek sosial-ekonomi daerah sangat menentukan arah pembangunan kota. Perencanaan dan pengelolaan kota tidak terlepas dari aspek ekonomi dan sosial yang berkembang. Maraknya aktifitas ekonomi sangat mempengaruhi wujud dan kehidupan kota. Perkembangan kota tidak dapat dipisahkan dari pengaruh proses globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Apalagi kota memiliki kecenderungan terjadinya urbanisasi yang menyebabkan dinamika penduduk yang kompleks dan heterogen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saat ini, Purwokerto akan dikembangkan sebagai kota perdagangan, industri dan jasa, sedangkan sektor pendidikan tidak menjadi prioritas pembangunan. Melihat keunggulan di sektor pendidikan, Purwokerto memiliki potensi sebagai kota pendidikan. Apalagi, saat ini telah berkembang ekonomi berbasis pengetahuan, yang menggantikan ekonomi industri sebelumnya. Untuk mewujudkan Purwokerto sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kota pendidikan, Purwokerto harus memperhatikan kriteria-kriteria dari kota pendidikan itu sendiri. Secara umum, kota pendidikan adalah kota yang mengedepankan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Salah satu indikator utama kota pendidikan adalah tersedianya perguruan tinggi ataupun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;setingkatnya, baik negeri maupun swasta yang memadai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut MR, kriteria kota pendidikan adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Satu, kaitannya dengan SDM cukup memadai, dari berbagai disiplin ilmu itu ada di situ. Kemudian yang kedua, dari sisi fasilitas, sarana, gedung, laboratorium itu juga mudah untuk ditemukan. Fasilitas-fasilitas yang memenuhi syarat. Kemudian ada kebijakan pendamping tentang pengembangan baik melalui perda, peraturan-peraturan lain kaitannya dengan berkembangnya institusi pendidikan. Yang keempat, jika jaringan informasi keilmuan cukup memadai. Orang mudah memperoleh informasi ilmu pengetahuan. Jaringan dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;tradisi sudah akademik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;SK juga berpendapat mengenai kriteria kota sebagai kota pendidikan adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Kota pendidikan itu adalah kota yang menjadi pusat tujuan orang-orang untuk menempuh pendidikan dan umumnya orang-orang yang ingin menempuh pendidikan tinggi bukan pendidikan dasar sampai menengah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Begitu pula dengan KH, beliau menyatakan : “Pertama memang di situ banyak perguruan tinggi dan juga lembaga pendidikan termasuk setingkat sekolah tingkat atas, pertama dan dasar, tetapi untuk kota pendidikan memang tolak ukurnya biasanya adalah perguruan tinggi, sebab kalau SMA, SMP, SD setiap kota kan ada.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam penelitian ini, aspek sosial-ekonomi dijelaskan melalui beberapa sub aspek, sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;4.1.1 Kondisi Kependudukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pembangunan bersifat multidimensional. Semua aspek dalam kehidupan merupakan bagian dari pembangunan. Tujuan dari pembangunan itu sendiri adalah untuk menyejahterakan masyarakat. Oleh karena itu, tentunya keadaan atau kondisi kependudukan mempengaruhi dinamika pembangunan yang diharapkan. Transformasi ekonomi menjadi ekonomi berbasis pengetahuan perlu diperhatikan oleh daerah. Apakah kondisi daerah mampu untuk mengikuti perubahan yang berkembang?, termasuk kondisi masyarakatnya. Dari hasil dokumentasi, kondisi kependudukan Purwokerto menurut jumlah penduduknya menunjukkan bahwa Purwokerto disebut sebagai kota sedang dengan jumlah 222.492 jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Komposisi penduduk menurut mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 10. Dari tabel tersebut  dapat menjelaskan bahwa penduduk Purwokerto paling banyak bermatapencaharian sebagai pedagang dengan jumlah 29.359 jiwa, sedangkan sektor jasa merupakan mata pencaharian yang paling sedikit yaitu sejumlah 1.618 jiwa. Namun, dilihat dari sektor ekonomi, sektor jasa memberikan kontribusi yang paling besar terhadap PDRB Kabupaten Banyumas tahun 2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut RM, kota pendidikan juga dapat dilihat dari kependudukannya dengan melihat pada jumlah penduduk usia sekolah. Dari segi kependudukan, Purwokerto dapat dikembangkan sebagai kota pendidikan, karena memiliki kepadatan penduduk untuk usia sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya kalau saya lihat untuk kota pendidikan harus dilihat dulu dari demografisnya : kepadatan penduduk usia remaja sekolah. Di Purwokerto, ya ini memang benar disisi padat penduduknya di usia sekolah cukup banyak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan melakukan perubahan diperlukan untuk mendukung pembangunan pendidikan di daerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;PW berpendapat mengenai kesadaran masyarakat Purwokerto dalam mendukung pembangunan pendidikan di Purwokerto. Beliau menyatakan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Otomatis ya mereka mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga semula mereka berpikiran pendidikan cukup setelah SLTA, sekarang tidak hanya berpikir seperti itu, lebih maju lagi. Ingin anaknya memiliki pendidikan yang tinggi. Atau kalau tidak mampu juga ingin membekali anaknya dengan keterampilan-keterampilan, sehingga kedepannya untuk mencari penghidupan bisa lebih baik. Mereka orientasinya sudah seperti itu. ”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh AG, yang menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Relatif bagus. Masyarakat ya kan juga sudah sebagian besar edukatif ya dikota ini. Tingkat kesadaran untuk menyekolahkan anaknya juga relatif tinggi. Saya rasa juga masyarakat mendukung, kalau memang pendidikan menjadi korp bisnisnya Kabupaten Banyumas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Begitu pula yang diungkapkan DK yang menyatakan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Dilihat dari sejauh mana masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya. Saya lihat sudah memiliki kesadaran untuk berusaha menyekolahkan sesuai kemampuan mereka. Sebagian besar masyarakat sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;memiliki kesadaran untuk membantu anak-anaknya sekolah paling tidak sampai SMA. Untuk tingkat SD dan SMP, kalau tidak salah, enam bulan yang lalu, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas memberikan data anak yang tidak sekolah itu presentasinya sangat kecil.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tingginya kesadaran masyarakat akan pendidikan dapat dilihat dari tingkat besarnya APK (angka perkiraan kasar) dan APM (angka partisipasi murni).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Seperti yang diungkapkan oleh SY yang menyatakan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Budaya masyarakat kita bagus terhadap pendidikan. Katakanlah sekarang kita punya adanya APK (Angka Perkiraan Kasar). Angka Perkiraan Kasar itu, kita sudah 95%, sudah hampir mendekati keinginan nasional. Idealnya APK adalah 96%.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;AI  mempunyai sedikit pendapat yang lebih terinci bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Masyarakat kalau kita melihat dari tingkat partisipasi murni SLTA, SMP di Purwokerto ini lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat di luar Kota Purwokerto, artinya ekonomi berbasis pengetahuan mendapat sambutan yang positif.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;AW menyatakan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“ya menerima, tapi yang namanya masyarakat ya, mba, ada dia bersifat menerima dengan positif ada yang negatif.” Selain kesadaran, masyarakat juga diharapkan dapat memberikan dukungan nyata terhadap pendidikan. Dengan adanya dukungan nyata dari masyarakat, tentunya dapat memberikan kontribusi yang baik untuk pelaksanaan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut beberapa pendapat, dukungan masyarakat Purwokerto sudah cukup baik. Walaupun masih terkendala pada hal-hal tertentu. Mengenai dukungan masyarakat Purwokerto,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;AT berpendapat bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya, masyarakat masih sangat percaya bahwa pendidikan adalah investasi untuk masa depan.Jadi orang dari semua lapisan percaya bahwa dengan sekolah, menempuh pendidikan itu sangat memungkinkan untuk merubah kehidupan. Jadi kesiapan di sini jelas pada keyakinan bahwa menempuh pendidikan itu jalan yang paling baik untuk memperbaiki kehidupan. Dukungan masyarakat sangat tinggi. Malah pemerintah mestinya malu. Coba SMP dan SMA antara yang negeri dengan swasta hampir sama. Itu kan dukungan dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;masyarakat, ketika orang-orang swasta menjadi target kita. Kemudian di desa juga, warga desa mau ditarik iuran untuk dana yang diberikan dana-dana SD negeri. Bantuan pemerintah hanya sebagai perangsang saja untuk mengumpulkan partisipasi masyarakat. Kalau pun ada masyarakat yang tidak sekolah, itu karena faktor ekonomi, bukan karena tidak percaya pada sekolah. Masyarakat menuntut anggaran pendidikan 20% dari APBD.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh TD, menurutnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Kalau masyarakat dukungannya bagus,mba. Karena kesadaran masyarakat untuk pendidikan tuh telah termaknai. Jadi, saya yakin masyarakat sendiri mempunyai dukungan yang baik, dalam arti masyarakat umum. Cuma disini saya belum menemukan dukungn masyarakat dari pengusaha, dunia industri,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;secara memadai. Kami mencoba membangun ini melalui kegiatan yang lain dengan harapan mereka bisa ikut memberi dukungan yang dalam. Karena bagaimanapun akhirnya mereka toh nantinya menjadi pengguna dunia pendidikan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dukungan-dukungan masyarakat tersebut akan memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan, jika memperoleh respon dari pemerintah daerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut Sk, respon pemerintah daerah terhadap dukungan masyarakat masih minim. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Sebetulnya masyarakat menginginkan Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan, karena sudah didukung dengan banyaknya perguruan tinggi. Tapi ya itu tadi, yang saya katakan kepedulian pemerintah. Contoh : Unsoed sampai ada di Purbalingga, itu kan Pemda ga peduli. Kenapa ga bisa menyediakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;lahanu ntuk Unsoed sekian, UMP sekian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;SN memiliki sedikit perbedaan pendapat dengan yang lain. Menurutnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;dukungan masyarakat sangat banyak. Pengertian masyarakat disini pun luas, dalam artian masyarakat sebagai wali murid dan masyarakat pada umumnya. Sejauh ini dukungan masyarakat Purwokerto sudah cukup bagus. Hanya ada beberapa dukungan yang kurang diperhatikan oleh masyarakat sebagai pengguna pendidikan ataupun sekolah yang merupakan penyelenggara pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Dukungan masyarakat dalam pendidikan sangat banyak ya, mba, terutama wali murid. Wali murid harus mendukung, satu, dalam hal pembiayaan. Barang kali anggaran pemerintah yang masih terbatas untuk membiayai seluruh pendidikan yang berkualitas, karena bagaimana pun pendidikan membutuhkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;biaya. Kalau dukungan biaya, masyarakat Purwokerto, kalau dilihat dari segi ekonomi banyak yang keberatan. Yang kedua, dukungan masyarakat atau wali murid yang mendidik yang masih kurang. Banyak orang tua yang sekarang menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Ini terbukti karena satu, orang tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;jarang berkomunikasi dengan sekolah. Dukungan lain lagi yang kurang dari masyarakat adalah kepedulian. Peran serta wali murid dalam penyelenggaraan sekolah juga diperlukan, artinya peran serta adalah pemikiran. Sementara dengan kurangnya dukungan ini, sekolah juga kurang menciptakan kondisi yang menyebabkan kerja sama yang produktif dengan orang tua atau masyarakat. Tidak terjadi komunikasi antara sekolah dengan wali murid tentang perkembangan anak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari pemaparan di atas dapat menjelaskan bahwa kondisi kependudukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kota Purwokerto tergolong kedalam kota sedang. Dilihat dari mata pencaharian, penduduk Kota Purwokerto mayoritas bermatapencaharian sebagai pedagang, sedangkan paling sedikit bermatapencaharian dibidang jasa sosial. Namun, jika dilihat dari sektor ekonomi, sektor jasa memberikan kontribusi yang paling besar pada PDRB Kota Purwokerto. Dinamika masyarakat Purwokerto bersifat kritis, sehingga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;mampu menjadi filter dari kebijakan Pemerintah Daerah. Kesadaran masyarakat Purwokerto akan pendidikan sudah cukup bagus. Hanya saja kepedulian pemerintah daearah Kabupaten Banyumas yang belum terlihat, terutama kepeduliannya terhadap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pengembangan perguruan tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;4.1.2 Kondisi Tenaga Kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan mempunyai peranan yang cukup besar dalam peningkatan pendidikan di bagian wilayah barat propinsi Jawa Tengah. Apalagi dalam era ekonomi berbasis pengetahuan saat ini. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar dari setiap masyarakat. Dengan pendidikan, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan potensi dirinya untuk berperan aktif dalam pengembangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ekonomi daerah. Pembangunan ekonomi daerah yang tinggi mampu mengurangi masalah sosial yang terjadi, termasuk dalam masalah tenaga kerja. Kondisi tenaga kerja dapat menunjukkan kondisi sumber daya manusia yang dimiliki daerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;jumlah seluruh dari penduduk pengangguran di Purwokerto adalah 42.369 penduduk. Jumlah penduduk sebagai pengangguran sejumlah 22.982 penduduk dan jumlah penduduk yang setengah pengangguran sejumlah 19.387 penduduk. Dari hasil dokumentasi lain, data pencari  kerja yang terdaftar paling banyak adalah dengan status pendidikan sekolah menengah atas dan setingkatnya yaitu sejumlah 6.889 penduduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari hasil wawancara dengan AI menjelaskan kondisi pengangguran di Kabupaten Banyumas secara umum dan Purwokerto secara khusus, masih banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Pengangguran masih banyak. Pengangguran tidak bisa diselesaikan dengan berkembangnya ekonomi jasa. Karena menurut saya, ekonomi yang berbasis pengetahuan sangat kecil penyerapan tenaga kerjanya dan itu kan hanya diperuntukan orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih. Sementara dari faktor ekonomi dan sebagainya, sehingga pengangguran masih ada.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh PW Menurutnya besarnya angka pengangguran masih tetap menjadi agenda dari pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya otomatis pengangguran ya masih ada.jadi kita kan era sekarang, dihadapi masalah masyarakat. Orang miskin masih ada, pengangguran masih ada.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Begitu juga menurut AW menyatakan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Kalau tenaga kerja masih banyak. Usia produktif 15-45 tahun banyak yang masih menganggur seperti itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Banyak indikator yang dapat mengambarkan kondisi pengangguran di Purwokerto. Salah satu indikatornya adalah banyaknya pelamar disetiap ada pembukaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Kabupaten Banyumas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;DK membenarkan hal itu. Menurut beliau :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Persoalan pengangguran itu menjadi fenomena yang tidak hanya di Banyumas, bahwa pengangguran di Indonesia mau tidak mau cukup tinggi. Pemerintah SBY belum sepenuhnya berhasil. Untuk daerah Purwokerto, barang kali parameter yang bisa digunakan, misalnya ketika ada pengumuman test CPNS. Itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;sangat banyak sekali masyarakat yang berduyun-duyun ingin daftar dan ingin ikut tes. Diantara mereka ada yang benar-benar pengangguran murni, ada juga yang sudah punya pekerjaan tetapi belum puas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tidak jauh berbeda juga, diungkapkan oleh SN. Menurut pengalamannya di Al Irsyad, membenarkan banyaknya angka pengangguran di Purwokerto. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Besar. Saya hanya melihat indikator ketika Al-Irsyad merekrut pegawai. Yang mendaftar banyak banget. pengangguran sih ga, tapi tidak punya pekerjaan tetap. Indikator kedua, bermunculan tukang parkir dimana-mana. Sekarang di seluruh pelosok Purwokerto ada tukang parkir. Itu kan menunjukan tingkat pengangguran masih tinggi, mba.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari hasil observasi, sering terlihat pengamen dan peminta-peminta di ruas ruas jalan utama dan kampus-kampus. Hal ini juga dapat menjadi indikator yang menunjukan tingginya angka pengangguran di Purwokerto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;TD menyatakan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Kalau pengangguran setidaknya, kalau saya liat dari media masa, tidak ada perubahan yang signifikan ya. Tapi kalau saya lihat di lapangan, ya pengangguran semakin banyak, mba. Banyak orang-orang yang pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kampung dari Jakarta karena di PHK. Di jalan-jalan, pertigaan juga semakin banyak pengamen dan pengemis. Ini menurut saya menunjukan pengangguran semakin banyak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Penyebab penganguran sendiri sangat beragam. Salah satu penyebab utama pengangguran adalah terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Hal ini dibenarkan oleh AT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut beliau :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya saya bisa merasakan pengangguran itu masih cukup tinggi. Itu kan gambaran bisa dilihat para pencari kartu kuning. Dan tidak terserapnya atau lambat sekali menyerapnya output dari perguruan tinggi. Jadi penambahan tenaga kerja dengan terbukanya lapangan kerja baru cenderung tidak seimbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ditambah lagi masih ada anggapan mencari kerja ya menjadi pegawai negeri. Minat ke sektor swasta masih terbatas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut DK, disamping masalah terbatasnya lapangan kerja, pengangguran juga dapat disebabkan oleh kondisi ekonomi daerah dan dunia. Selain itu juga, sistem pendidikan pun dapat menjadi penyebab tingginya angka pengangguran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Nah, penyebab pengangguran itu sangat beragam ya. Dan yang paling pokok buat saya terbatasnya kesempatan kerja. Kemudian, situasi ekonomi bangsa kita belum sepenuhnya pulih. Krisis moneter 1997, era reformasi yang dulu diharapkan mampu memberikan peningkatan ekonomi, nyatanya sampai hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ini ya begini tidak ada perubahan yang berarti. Kemudian yang lain juga, kondisi ekonomi dunia juga kan sekarang lagi gonjang-ganjing, mau tidak mau pasti berpengaruh. Sistem penddidikan kita juga dimana sistem pendidikan kita SD, SMP, SMA, perguruan tinggi cenderung mencetak calon pekerja atau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pegawai, bukan mempersiapkan mereka untuk menjadi enterpreneur atau pengusaha atau wiraswasta.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sedikit berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya, menurut SN,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;penyebab pengangguran bukan hanya dari faktor luar saja, tapi bisa dari pola pikir individu masing-masing. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Banyak hal yang menyebabkan ya, mba. Ketika pengangguran itu terjadi, pertama, karena sulit menciptakan lapangan kerja sendiri. Yang kedua, susah mencari lowongan kerja. Karena apa? Karena skillnya belum memenuhi standar yang diinginkan oleh lowongan kerja tersebut. Tenaga kerja tidak mampu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;menciptakan lapangan kerja sendiri. Tidak mampunya itu karena beberapa hal. Pertama, karena tidak punya modal. Kedua, mungkin tidak punya ketrampilan. Ketiga, keberanian. ”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut AG juga, banyaknya jumlah pengangguran di Purwokerto memang disebabkan oleh kurangnya pendidikan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Penduduk asli sini ya kurang sih mba, kalau dilihat dari skala pendidikannya. Tapi kalau saya melihat karena pendidikannya kurang, sehingga banyak yang menganggur juga, artinya dalam arti tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tapi mereka-mereka yang sebetulnya memang baru lulus SD dan SMP.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh TD.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurutnya, pemerintah juga belum dapat menemukan solusi untuk mengatasi masalah pengangguran. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya, lapangan kerja salah satunya. Lapangan kerja semakin terbatas. Wong kita lihat saja di media masa, banyak berita mengenai PHK. Hal ini kan menunjukkan lapangan kerja yang semakin sedikit, semakin tidak bisa menampung tenaga kerja yang ada. Masyarakat ya makin terpinggirkan lagi, jelas. Disisi lain, pemerintah sendiri belum mendapatkan solusi yang tepat ketika berhadapan dengan masalah ini. Berdasarkan pengalaman yang ada, kebijakan yang ada tidak menyentuh hal yang subtansial. Saya melihat usaha pemerintah pasti ada, tapi usaha seperti apa? Kebijakan yang ada tidak berpihak pada rakyat kecil, tetapi lebih berpihak pada ”yang punya”. Dilihat dari sektor ekonomi saja ya, misalnya terjadi penggusuran di alun-alun. Buat apa sih? Kita berbicara keindahan? Indah sih, boleh-boleh saja, tapi kalau tidak subtansi buat apa? Bagi saya ya yang baik, ada pedagang disitu ya ditata. Kalau itu merupakan sebuah arena kehidupan masyarakat. Itu menganggu orang yang mencari kehidupan ekonomi di alun-alun.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam mengatasi masalah pengangguran, pemerintah memegang peranan yang cukup besar. Pemerintah diharapkan mampu menemukan solusi untuk mengurangi tingginya angka pengangguran. Tujuan akhirnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut AW, Pemerintah Daerah sudah melakukan usaha untuk mengatasi masalah pengangguran. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Untuk tahun 2008 kesini Pemerintah Kabupaten, itu juga dari Jawa Tengah, tidak membuka SMA yang sifatnya umum, makanya kita mengarah ke SMK. SMK itu kan kejuruan. Dia diberikan bekal keahlian. Untuk apa? Supaya dia siap. Tenaga kerjanya supaya bisa diberdayakan, dibekali dengan ilmu, dibekali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;dengan keahlian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut DK, pemerintah sekarang dibawah pimpinan Mardjoko memiliki rencana yang bagus untuk mengatasi pengangguran. Tinggal bagaimana pemerintah dapat merealisasikan dari visi misi yang telah diusungnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;DK menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Salah satu janji Pak Mardjoko dalam kampanye adalah menciptakan lapangan kerja melalui pembukaan pabrik-pabrik dan mengatasi pengangguran.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;AT memberikan masukan solusi untuk mengurangi angka pengangguran, yaitu dengan mengembangkan UKM (Usaha Kecil Menengah). Sektor mikro ini yang sering terlupakan oleh pemerintah, padahal sektor ini dapat mengurangi angka pengangguran. Beliau juga mencoba mengingatkan pemerintah dengan kebijakan investasi yang direncanakan. Peningkatan investasi dengan membuka pabrik-pabrik harus didukung dengan infrastruktur yang ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut beliau:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya yang paling nyata itu kan mendatangkan investor dengan asumsi makin banyak investor, maka makin banyak industri dengan harapan bisa mendatangkan lapangan kerja baru. Saya menghargai usaha pemerintah untuk merayu-rayu investor, juga mempermudah perizinan. Tapi namanya industri kan tidak hanya itu, membutuhkan infrastruktur. Segalanya masih terbatas. Maka tidak bisa maksimal. Saya liat yang paling penting adalah UKM. Sebetulnya pembangunan UKM itu loh, ini lebih banyak menyerap tenaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kerja, dibandingkan investor yang jelas menuntut infrastruktur yang menunjang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam mengatasi pengangguran, RM juga memberikan solusi, yaitu mengarahkan pembangunan kota ke pendidikan dan pariwisata. Menurutnya dua sektor tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Beliau juga menyatakan bahwa mendatangkan investasi belum cocok di Kota Purwokerto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Tantangan kedepan itu kan katanya mau mengundang investor, tapi sangat kontradiktiflah. Sekarang tuh tidak ada kontraktor, yang katanya sedang dill, nego-nego. Tapi sebenarnya untuk Banyumas (Purwokerto pada khususnya) itu susah untuk mengundang investor. Sampai detik ini saya belum melihat hadirnya investor itu. Mungkin sedang proses, tapi juga ga tahu gimana? Saya lebih cenderung pengembangan pendidikan dan pariwisata untuk mengatasi masalah pengangguran.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari hasil wawancara, dokumentasi dan observasi di atas dapat menjelaskan bahwa Kabupaten Banyumas pada umumnya dan Kota Purwokerto pada khususnya masih memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi. Hal tersebut masih menjadi agenda dari pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan masyarakatnya. Pemerintah merencanakan peningkatan investasi dengan mendirikan pabrik-pabrik sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;langkah pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat. Namun, investasi yang direncanakan pemerintah daerah belum memperhatikan dunia pendidikan. Pemerintah daerah juga perlu mengkaji ulang keputusan untuk mendatangkan investor, karena apakah itu sudah sesuai dengan sumber daya yang dimiliki? Melihat sumber daya  yang tersedia lebih mendukung pembangunan pendidikan dan pariwisata di Purwokerto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;4.1.3 Kondisi Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sektor ekonomi merupakan sektor yang mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan. Kondisi ekonomi diharapkan mampu mendukung arah pembangunan kota yang diharapkan dan begitu pula sebaliknya. Saat ini, ekonomi Purwokerto akan dikembangkan menjadi perdagangan, industri dan jasa. Melihat kondisi saat ini, kota Purwokerto memang lebih berkembang di sektor jasa. Hal ini terbukti dari hasil dokumentasi yang dapat dilihat pada tabel 11, yang menyatakan bahwa kontribusi sektor jasa pada PDRB kota Purwokerto, paling besar yaitu sejumlah Rp 407.198.704.00,-. Hal ini juga didukung dengan pendapat AI, yangmenyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Mungkin di Purwokerto kita melihat banyak sekali advertising – advertising dan internet, semuanya ekonomi jasa.” Dukungan sektor ekonomi baik itu ekonomi masyarakat maupun ekonomi daerah sangat mempengaruhi perkembangan sektor pendidikan. Menurut AT, untuk meningkatkan ekonomi dapat dilakukan dengan pengembangan UKM (Usaha Kecil Menengah). Dukungan Pengembangan UKM ini dapat mengurang angka pengangguran dan jelas meningkatkan ekonomi masyarakat. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Saya liat yang paling penting adalah UKM. Sebetulnya pembangunan UKM itu loh, ini lebih banyak menyerap tenaga kerja. Mungkin perhatian pemerintah terhadap pengusaha kecil harus dipacu. Ya ini ya, kritik saya terhadap pemerintah, KKN-nya itu loh yang ga bisa ilang. Mental itu kan yang buat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;masyarakat kita maju, tapi lambat banget.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh AG. Menurut beliau kondisi ekonomi masyarakat Purwokerto cukup bagus. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Ya saya tidak tahu persis datanya bahwa perekonomian Banyumas bagus atau tidak. Tetapi kalau dilihat dari perputaran uang, jumlah perputaran uang di Purwokerto itu kan sangat tinggi. Kalau dilihat dari sisi itu, maka sebetulnya sektor ekonomi itu bagus. Sehingga bagaimana pemerintah khususnya untuk mendongkrak ekonomi Purwokerto ini agar sektor-sektor informal, mikro ini bisa tumbuh, karena kenyataannya sektor-sektor inilah yang mempunyai daya uji yang kuat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sejauh ini dukungan sektor ekonomi terhadap pembangunan pendidikan di Purwokerto masih belum memuaskan. Hal ini diungkapkan oleh DK :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Untuk hubungan kondisi ekonomi, belum sepenuhnya memuaskan ataupun mendukung. Karena itu tadi masih ada masalah pengangguran. Kabupaten Banyumas nampaknya sedang menata untuk perekonomian. Salah satunya yang pernah saya dengar dari Dinas Pendidikan Banyumas, mengapa adanya pembukaan jalur satu arah menjadi dua arah, supaya mobilitas itu bisa lebih maksimal. Terus ada rencana angkot bisa sampai malam dan pagi. Itu juga dalam rangka menggairahkan masyarakat untuk peningkatan perekonomian. Disamping kebijakan-kebijakan yang pro terhadap perekonomian masyarakat. Walaupun lagi-lagi ada kebijakan-kebijakan, sepertinya belum pas dianggap sebagian orang, misalnya pedagang-pedagang di alun-alun akan disterilkan, sehingga mereka terpaksa untuk mencari tempat lain. Itulah beberapa hal yang saya kira belum pas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal senada mengenai kurangnya dukungan ekonomi terhadap dunia pendidikan juga, diungkapkan oleh SN. Beliau menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Kalau saya lihat, belum dapat mendukung, mba. Terutama dalam proses pembelajaran. Jadi untuk pelatihan guru, melengkapi sarana prasarana, kemudian untuk membiayai proses pembelajaran, kalau menurut hemat saya sih, mba, belum mencukupi. Saya ga tahu APBD yang sekarang. Kalau untuk gaji sih bagus ya, mba. Tapi kalau untuk sarana prasarana, proses pembelajaran, peningkatan kualitas guru belum maksimal. Itu menurut pengamatan saya saja, mba. Aslinya gimana, saya tidak tahu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dukungan ekonomi yang belum cukup memuaskan terhadap dunia pendidikan berakibat pada alokasi anggaran pendidikan. Besarnya alokasi anggaran pendidikan sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;(Sisdiknas ) adalah sebesar 20%. Pasal 49 ayat 1 UU Sisdiknas menyatakan bahwa  dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD. Tahun 2009 nanti, pemerintah Kabupaten Banyumas mempunyai tanggung jawab yang tinggi untuk mewujudkan anggaran pendidikan sampai 20% sesuai dengan konstitusi. Awal tahun 2008, alokasi anggaran pendidikan di kabupaten Banyumas baru mencapai 3,28% (tidak termasuk gaji tenaga pendidik dan tenaga kependidikan). Di Kabupaten Banyumas masih terjadi perdebatan mengenai besarnya alokasi anggaran pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal ini diungkapkan oleh TD :“Anggaran pendidikan tahun lalu, awal 2008, hanya mencapai 3,28%. Apalagi pemahaman kita tentang anggaran pendidikan, yang konon akan 20% itu sudah termasuk gaji guru, artinya kalau semacam itu ya memang sebuah pembohongan besar, karena kalau sampai itu termasuk anggaran gaji guru dan tenaga kerja kependidikan umumnya, itu berarti sektor pendidikan belum pernah mendapat anggaran lebih dari 11%. Karena kan cuma 20% dibagi dua kan, padahal diantara 20% paling besar kan untuk gaji guru dan karyawan. Pembohongan yang lain adalah mestinya kalau memang gaji guru dimasukkan kedalam anggaran pendidikan, gaji pegawai negeri yang lain pun masuk ke dalam anggaran sektor departemen yang sama.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Alokasi anggaran pendidikan yang kurang proposional dan belum sesuai dengan konstitusi membuat penyelenggaraan pendidikan berjalan lambat. Masyarakat menuntut pemerintah untuk dapat mencapai anggaran pendidikan sebesar 20%. Terbatasnya alokasi dana pendidikan menciptakan opini masyarakat bahwa pendidikan itu mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Seperti yang diungkapkan oleh DK :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Saya lihat tidak melampaui 20%. Masalahnya 20% itu apakah termasuk gaji guru atau tidak? Kalau termasuk gaji guru, ya prosentasinya tidak begitu berarti, karena sekarang kan ada sertifikasi. Sertifikasi ini kan memberikan tambahan penghasilan satu kali gaji pokok, guru negeri maupun swasta. Nah, ini kan membutuhkan dana yang besar. Salah satu yang saya soroti, ketika proses penerimaan siswa baru itu, sekolah-sekolah negeri cenderung agak-agak mahal. Banyak sumbangan-sumbangan yang hanya bisa dipenuhi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas. Nah, sehingga untuk dana ini nanti kedepannya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pemda perlu ikut membuat aturan kepada sekolah-sekolah, jangan sampai memberatkan masyarakat. Nah, hasil diskusi dengan beberapa kepala sekolah, memang bisa dipahami sekolah juga punya program yang memerlukan dana yang cukup banyak, sedangkan dana dari pemerintah ternyata kan masih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;terbatas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari hasil wawancara dan dokumentasi di atas dapat menjelaskan bahwa sektor ekonomi yang berkembang di Kota Purwokerto adalah sektor jasa, sedangkan untuk sektor industri lebih ditempatkan ke daerah-daerah luar Purwokerto. Pemerintah masih terus berusaha untuk membangun investasi guna peningkatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ekonomi masyarakat. Keadaan ekonomi Purwokerto belum memberikan dukungan yang proposional terhadap pendidikan. Hal ini mengakibatkan alokasi anggaran pendidikan belum mencapai 20%, sesuai dengan Undang-Undang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;4.1.4 Kondisi Fisik atau Lokalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kondisi fisik atau lokalisasi kota menggambarkan tentang bentuk fisik kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dengan informasi mengenai kondisi fisik atau lokalisasi kota dapat membantu dalam me
