![]() |
Sairan, S.Pd. |
ADA kalanya siswa ingin mengkritik cara mengajar gurunya, namun
ada rasa takut pada dirinya. Takut, kalau guru menjadi marah, memberi nilai
jelek. Persoalan demi persoalan terpendam dalam dirinya, sampai akhirnya
akumulasi kekecewaan itu berakibat kepada minat belajar menurun dan hasil
ulangan jelek.
Sementara itu, guru terkadang tidak menyadari masalah detil anak. Yang dipikirkan, dia telah menyampaikan semua materi ajar dengan sempurna, sesuai dengan rencana pengajaran, dan sudah semestinya siswa menangkap semua yang diberikan. Nilai jelek dan siswa tidak tuntas belajar sebagai hasil evaluasi, menambah image bahwa siswa-siswinya memang bodoh, input-nya rendah, dan siswa tidak mempunyai minat belajar.
Sebagai guru matematika di sekolah target (istilah sekolah menurut Proyek P2M SLTP dengan kualifikasi di daerah pedesaan, kebanyakan siswanya berasal dari keluarga miskin, namun punya minat maju), gambaran tentang minat belajar yang rendah dan hasil belajar yang jelek, jauh dari tuntas adalah hal biasa.
Untuk mendapatkan nilai di atas 6,5 dari 160 anak untuk mata pelajaran matematika pada saat ulangan semesteran, paling hanya 5%-10% atau sekitar 9-16 anak. Itu, tentunya akan sangat jauh sekali apabila dibandingkan dengan sekolah nontarget atau sekolah unggulan.
![]() |
Sairan, saat membimbing siswa dalam pembelajaran matematika |
Gunakan waktu sehabis mengajar untuk mengadakan ulangan harian, ataupun ulangan semesteran untuk sambung rasa dengan siswa. Siswa dipersilakan mengungkapkan unek-uneknya dalam selembar kertas. Guru memberi kebebasan kepada siswa untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi, terutama yang berhubungan dengan pelajaran yang telah diberikan. Siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan penilaian tentang cara guru mengajar, penampilan, kesulitan, dan mungkin juga tentang kondisi siswa saat diajar.
Untuk memberi kebebasan siswa dalam mengekspresikan permasalahannya, awalnya guru memberi kebebasan kepada anak untuk menulis atau tidak menulis nama mereka. Dengan petunjuk yang jelas, maka akan diperoleh data dalam bentuk learning loghs siswa, yang tentunya dapat dijadikan sebagai modal untuk mengetahui persoalan yang dihadapi siswa.
Dalam tataran itulah, semestinya guru dituntut legawa jika siswa mengkritiknya. Jadikanlah kritik siswa sebagai pemacu semangat mengajar dalam memodifikasi model pembelajaran, sehingga siswa tidak jenuh dan meningkat minat belajarnya. Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan, setiap kesuksesan. Itulah, menurut konsep dan prinsip pembelajaran Quantum Teaching. (73a)
Sumber : Suara Merdeka